.quickedit{ display:none; }

Social Icons

السبت، 7 جمادى الآخرة، 1433 هـ

Maarif Institute Launcing Buku Pendidikan Karakter yang Rusak Karakter

JAKARTA (VoA-Islam) – Kemarin, Jum’at (27/4) di Hotel Grand Melia Alia, Cikini, Jakarta, Maarif Institut, sebuah NGO milik mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, meluncurkan dua buah buku Materi Pengayaan “Pendidikan Karakter : Mengarusutamakan Nilai-nilai Toleransi, Anti Kekerasan dan Inklusif”. Masing-masing buku itu untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan PKn untuk Tingkat SMA.

Tim Penulis buku Pendidikan Karakter untuk Mata Pelajaran PAI disusun oleh Dian Lestari, S.Ag dan Drs. Hamid Supriyatno. Sedangkan Buku Pendidikan Karakter untuk Mata Pelajaran Kewarganegaraan ditulis oleh Dr. Benny Ahmad Benyamin dan Joko Budi Santoso, S.Pd.

Peluncuran dua buku tersebut mendapat dukungan dari Kemendikbud RI bekerjasama dengan Dinas Pendidikan di empat kota/kabupaten (Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Kota Yogjakarta, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Pandeglang. Pemerintah Daerah tersebut telah mereview program “Pendidikan karakter untuk Mengarusutamakan Nilai-nilai Toleransi, Inklusifitasm dan Anti Kekerasan”.  Rencananya, buku itu akan dibagikan ke sekolah-sekolah di berbagai daerah sebagai pembekalan bagi guru yang mengajar PAI dan PKn di sekolah, khususnya pendidikan karakter untuk siswa.

Hadir sebagai pembedah buku tersebut di depan guru-guru mata pelajaran PAI dan PKn, yakni: Wamendikbud Prof. Musliar Kasim, Hernowo Hasim (Pemerhati Masalah Pendidikan, Penerbit Mizan), dan Fajar Riza Ul Haq (Direktur Eksekutif Maarif Institute).

Buku Bernuansa Liberal

Dalam sebuah press realese yang berjudul “Merawat Toleransi dan Memutus Budaya Kekerasan”, Direktur Program Maarif Institute, Muhammad Abdullah Darraz mengatakan, menguatnya radikalisme keagamaan dan tindakan kekerasan di kalangan pelajar SMU merupakan sebuah keprihatinan bersama. Hal tersebut ditandai oleh munculnya sikap-sikap ekstrem yang menolak ideology negara dan berbagai symbol kebangsaan.

“Kita masih temukan, misalnya pandangan yang menolak Pancasila, mengharamkan nasionalisme, yang dalam prakteknya dilakukan dengan penolakan terhadap upacara penghormatan bendera. Mengutip Buya Ahmad Syafii Maarif, fakta ini telah menodai tujuan pendidikan nasional kita, bahkan merusdsk kebangsaan yang telah dirajut sejak lama.” Kata Darraz.

Lebih lanjut Syafii Maarif mengatakan, masalah radikalisme keagamaan dan munculnya kelompok-kelompok radikal pada beberapa dekade terakhir ini, tak lain merupakan satu bentuk pelarian dari kegagalan dalam menghadapi situasi social-politik yang terjadi dewasa ini. Dan itu berakar dari ketidakadilan struktur social, politik, dan ekonomi bangsa ini.

Sedangkan Prof. Komarudin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, menyatakan, kita patut cemas terhadap munculnya radikalisme di kalangan pelajar. Karena kelompok-kelompok radikal telah menjadikan para pelajar sebagai lahan bagi penyebaran doktrin radikal yang mereka miliki.

“Siswa-siswa yang masih sangat awam soal pemahaman agama dan secara psikologi tengah mencari identitas diri ini menjadi lahan yang diincar oleh pendukung ideology radikalisme. Bahkan, mereka menyusup ke sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler,” tandas Komarudin menuduh.

Direktur Eksekutif Maarif Institute, Fajar Riza Ul Haq menambahkan, setidaknya ada dua sebab menguatnya radikalisme keagamaan di lingkunga sekolah. Pertama, lemahnya penanaman nilai-nilai kemanusiaan dan karakter kebangsaan di dalam proses pembelajaran. Kedua, menguatnya penetrasi kelompok radikal melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dengan mengajarkan cara pandang keagamaan hitam-putih, eksklusif, dan ekstrem.

Menurut Fajar, dua mata pelajaran inti, Pendidikan Agama Islam(PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), yang diasumsikan sebagai kunci utama bagi pengembangan pendidikan karakter di sekolah, kini dianggap tidak efektif dalam menginternalisasikan nilai-nilai toleransi, inklusif, dan anti kekerasan.

“Pengajaran dua mata pelajaran ini tidak mampu memfilter berbagai infiltrasi sikap-sikap radikal, eksklusif, dan fanatic yang muncul dari berbagai factor di sekolah. Kurangnya bahan bacaan alternative dan jam pelajaran yang sangat terbatas menjadi sebab utama dua mata pelajaran initidak maksimal menularkan dan menanamkan nilai-nilai dan karakter kebangsaan,” tandas Fajar lebay.

Buku itu justru tidak mengajarkan siswa dengan pendidikan karakter, tapi menghantarkan siswa pada pendangkalan akidah, melunturkan tauhid, dan menjadi pribadi yang liberal, pluralis, dan sekuler. Buku ini sangat berbahaya sebagai pembekalan bagi guru-guru yang mengajar PAI dan PKn. Hendaknya umat Islam berhati-hati. Desastian
http://www.voa-islam.com

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق