.quickedit{ display:none; }

Social Icons

الاثنين، 16 أبريل، 2012

Adzan dan Tata Cara Shalat Syiah

sunni dan syiah
Sunni dan Syiah – Adzan dan shalat merupakan dua ibadah yang agung. Shalat merupakan rukun Islam yang kedua. Shalat merupakan pembeda antara keimanan dan kekafiran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya batasan antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah shalat. Barangsiapa meninggalkan shalat, maka ia kafir.“(HR Muslim no. 978). Beliau juga menjelaskan parameter baiknya amalan seseorang itu dengan shalat,

“Amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya dan jika buruk maka buruklah seluruh amalannya.” (HR. Thabraani)
Oleh karena itu, menunaikan shalat secara baik dan berkualitas harus menjadi perhatian bagi kaum muslimin. Baik dan berkualitas di sini maksudnya adalah sejauh mana shalat tersebut menyontoh tata cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; baik kekhusyuannya, gerak-geriknya, bacaannya, waktunya, dsb.
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari no.628, 7246 dan Muslim no.1533)
Demikian juga dengan adzan, adzan juga merupakan syiar Islam yang agung, tidak sedikit orang-orang kafir yang tertarik dan bergetar hatinya ketika mendengar seruan adzan kemudian memeluk Islam. Rangkaian kalimat adzan bukanlah sesuatu yang tidak memiliki makna, ia merupakan cerminan akidah seseorang, yang ia yakini dan pegang teguh.
Setelah mengetahui kedudukan adzan dan shalat dalam Islam, pada kesempatan kali ini kami akan menunjukkan tata cara shalat orang-orang Syiah. Dengan mengetahui kalimat adzan dan tata cara shalat mereka, kita akan melihat gambaran akidah mereka.

Adzan Syiah

Setelah mengucapkan Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, adzan tersebut diikuti dengan Asyhadu anna ‘Aliyan Waliyullah
Aku bersaksi bahwasanya Ali adalah wali Allah
Kemudian dilanjutkan Asyhadu anna Aliyan Amirol Mukminina wa Awladahu Al Ma’shumina Hujajullah
Aku bersaksi bahwa Ali pemimpin orang-orang beriman dan anak-anaknya yang makshum (para imam Syiah pen.) adalah hujah-hujah Allah.
Inilah gambaran tentang keyakinan Syiah yang sangat jauh berbeda dengan Ahlussunnah. Ahlussunnah mengagungkan Ali bin Abi Thalib, beliau memiliki banyak keutamaan yakni sebagai; sahabat nabi, ahlul baitnya, orang yang pertama-tama masuk Islam, dll. Namun Ahlussunnah tidak mengatakan beliau dan keturunannya makshum, terjaga dari kesalahan dan dosa. Orang-orang Syiah menjadikan persaksian ini sebagai ushul (pokok) agama.
Kemudian pula ada tambahan Hayya ‘ala Khoiril ‘amal, artinya marilah berbuat sebaik-baik amal perbuatan. Khoiril ‘amal di sini bukanlah sebagai penguat untuk mengajak orang-orang shalat, di antara orang-orang Syiah menjelaskan bahwa sebaik-baik amalan adalah menaati Fathimah dan keturunannya yang suci.

Tata Cara Shalat Syiah

Berikut ini tata cara shalat Syiah:
Shalat berjamaah:
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)
Nabi juga mengajarkan agar membaca Al Fatihah dalam setiap rakaat,
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-fatihah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan menjadikan imam untuk diikuti
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَلاَ تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ
Hanyalah imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka bila ia bertakbir, bertakbirlah kalian dan jangan kalian bertakbir hingga ia bertakbir. Bila ia ruku’ maka ruku’lah kalian dan jangan kalian ruku’ sampai ia ruku’ …” (HR. Abu Dawud no. 603, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Mudah-mudahan pemaparan yang singkat ini dapat memberikan kita pengetahuan bahwasanya perselisihan antara Ahlussunnah dan Syiah bukanlah permasalahanfuru’iyah atau permasalahan fiqh, akan tetapi permasalahan tersebut adalah permasalahan akidah. Kita semua menginginkan persatuan tetapi bersatu bukanlah saling menoleransi kesalahan dan kemaksiatan, bersatu itu saling menasihati dan memperbaiki dari kesalahan.
Disusun oleh Nurfitri Hadi (Tim Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق