.quickedit{ display:none; }

Social Icons

‏إظهار الرسائل ذات التسميات News. إظهار كافة الرسائل
‏إظهار الرسائل ذات التسميات News. إظهار كافة الرسائل

الخميس، ٧ فبراير ٢٠١٣

Diego Michiels Masuk Islam



Sepakbola nasional keturunan Belanda, Diego Michiels memutuskan untuk berpindah agama memeluk Islam. Keputusan ini diambil Diego setelah sebelumnya berkonsultasi dengan salah satu kuasa hukumnya, Kapitra Ampera.

"Hal yang mengejutkan, Diego ternyata banyak menyimpan referensi tentang Islam dan dia memutuskan untuk memeluk Islam di bawah bimbingan saya," ujar Kapitra di Gedung Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jl Gajah Mada, Jakarta, Kamis (7/1).

Pada kesempatan yang sama, Diego mengaku telah lama tertarik dengan Islam. Hal ini disebabkan Diego telah lama hidup dan tinggal dalam komunitas muslim.

Selain itu, Diego membubuhkan kata Mohammad dalam nama lengkapnya. Kini, namanya menjadi Diego Mohammad Bin Robby Michiels.

"Ketertarikan ini murni berasal dari dalam diri saya. Tidak ada tekanan dari pihak manapun. Juga bukan karena kekasih saya seorang muslimah," terang Diego.

Proses pembacaan lafal Kalimah Syahadat disaksikan oleh tiga orang saksi yaitu Riandi Rusman, Vidi Galenso dan Elza Syarief. Diego sempat mengambil air wudhu sebelum mengucapkan kalimah syahadat.
Sumber: Merdeka.com

الأربعاء، ١٠ أكتوبر ٢٠١٢

TV ONE BIKIN ULAH LAGI, SOROT STIKER RADIO RODJA DI RUMAH TERDUGA TERORIS


JAKARTA (gemaislam) - Beberapa waktu lalu TV One meminta maaf kepada DR. Muhammad Arifin Badri akibat pemberitaan yang salah tentang terorisme. Pagi tadi, Selasa (9/10) stasiun TV ini memberitakan penangkapan seorang terduga teroris di Depok. Dalam pemberitaan tersebut, rekaman video didominasi dengan pengambilan gambar rumah terduga teroris yang di bagian pintu depan rumah  terdapat stiker Islami.
Stiker itu bertuliskan “Radio Rodja 756 AM, menebar Cahaya Sunnah” dan stiker lain “Warning, Islam Agamaku, Alquran Kitabku” dan “Warning, Punya Majelis Rasulullah SAW.”
Tidak jelas apa pesan yang ingin disampaikan TV itu. Tapi setidaknya penonton acara tersebut akan menilai bahwa pemilik rumah  yang juga terduga teroris ada kaitannya dengan stiker tersebut.
Saat ini pihak Radio Rodja baru meminta klarifikasi kepada TV One sebatas komentar dalam video di website stasiun tv itu.
“Mohon penjelasan TV ONE , berita diatas, mengapa stiker Islam agamaku dan Al Qur’an kitabku juga logo radio rodja di ambil gambarnya? apa ada maksud tertentu dibalik itu? terima kasih,” Ujar Kepala editing dan siaran Radio Rodja, Abu Abdirrahman Fawwaz dalam akun Faceebooknya.
Selama ini radio Rodja dikenal sebagai penentang dan sangat anti terhadap ajaran teroris. Maka sangat lucu jika TV One ingin mengaitkan radio Ahlussunnah tersebut dengan jaringan teroris. Dan bukan hanya stiker radio rodja saja, apa maksud TV One menyorot tulisan “Islam Agamaku, Al Quran Kitabku?” apakah ingin mengaitkan ajaran terorisme dengan Islam dan Al Quran?..Innaa lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun. (bms)
Untuk melihat Video liputan tersebut silahkan pada tautan berikut;

الأربعاء، ٢٦ سبتمبر ٢٠١٢

Salah Pasang Foto Terduga Teroris, Tv One Diadukan ke KPI


JAKARTA (gemaislam) - Tepat pukul 18.30 WIB sore ini, Rabu (26/09)  DR.  Muhammad Arifin Badri memberikan hak jawab di TV One terkait pemberitaan yang mencatut fotonya dalam sebuah jaringan teroris.  Dalam acara kabar petang yang mengangkat tema “Mengusut Akar Terorisme” itu, ustadz Arifin Badri menjelaskan kekeliruan ideologi Terorisme.
“Sejak saya masih aktif kuliah di Madinah sudah beberapa kali berdiskusi dengan tokoh teroris, seperti Aman Abdurrahman, yang saat ini jadi tawanan Polri,” ujar Ustadz Arifin Badri memulai pemaparannya.
Selain itu, beliau juga aktif menulis buku-buku terkait dengan kekeliruan tindakan terorisme. Beliau juga ikut andil dalam penerjemahan fatwa ulama yang menjelaskan akan bahaya terorisme. Hal itu sebagai bagian dari upaya dan partisipasi beliau dalam mewujudkan stabilitas nasional yang baik dan kondusif.
Meskipun spesialisasi beliau dalam bidang ilmu fiqih, hal tersebut tidak menghambat beliau untuk ikut terjun dalam memerangi terorisme.
“Point penting yang harus kita fahami adalah Ilmu agama merupakan satu paket lengkap yang saling terkait. Akar terorisme adalah dalam hal aqidah atau theologi namun hal tersebut juga kental kaitannya dengan hukum-hukum fiqih seperti bagaimana menyikapi hubungan antara muslim dan non muslim,” kata Ustadz Arifin Badri.
Ustadz yang meraih gelar doktor dengan predikat cum laude ini telah beberapa kali mengisi ceramah di beberapa  lembaga pemasyarakatan di Indonesia, seperti yang ada di Porong, Jawa timur dengan fokus memberikan pembinaan kepada para petugas Lapas terkait dengan tindakan terorisme.
Beliau menjelaskan agar masyarakat lebih mengedepankan kebenaran daripada perasaan. Contohnya adalah kejadian yang terjadi di masa Rasulullah, dimana ada seorang Yahudi yang mengucapkan salam dengan “Assaamu ‘Alaikum” yang berarti “semoga engkau terkena racun”.  Rasulullah menjawab dengan ucapan “wa alaika” yang artinya “dan engkau juga”. Aisyah yang mendengar ucapan yahudi tersebut langsung membalas dengan ucapan “Assaamu alaika Walla’nah” yang berarti “Semoga engkau terkena racun dan laknat”.
Beliau melanjutkan paparannya, tatkala Rasulullah mendengar ucapan Aisyah, beliau serta merta langsung menegurnya dan memberikan nasihat kepadanya untuk berlemah lembut dalam semua tindakan.
Alumni pesantren Islam Al Irsyad Tengaran ini berpesan kepada seluruh masyarakat Indonesia agar menjadi partner pemerintah yang produktif dalam memerangi terorisme.
Di akhir acara, presenter mengulangi permohonan maafnya atas nama TV One terhadap kesalahan pemberitaan dua hari yang lalu dan ustadz Arifin Badri menganggap bahwa permasalahan ini telah selesai.
“Terima kasih kepada TV One yang telah memberikan ruang kepada saya. Dan saya menghimbau kepada pihak yang memiliki koneksi dengan saya, seperti Insan TV, KPMI, STDI Imam Syafi’i dan yang lainnya untuk menganggap permasalahan ini telah selesai.” Tutup Ustadz  Arifin Badri. (arc/bms)

الخميس، ٢٠ سبتمبر ٢٠١٢

Gambar Artis Porno Muncul di LKS, Menteri Pendidikan Didesak Investigasi


JAWA TIMUR, muslimdaily.net -Munculnya gambar artis  porno asal Jepang pada buku Lembar Kerja Siswa (LKS) Bahasa Inggris di SMP Islam Brawijaya Kota Mojokerto mengagetkan banyak pihak.
Pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud), di bawah Dr. Ir. Muhammad Nuh diminta segera tanggap masalah ini.
Anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Adnin Armas. MA mengungkapkan keprihatinannya atas musibah di dunia pendidikan ini. Alumni Pondok Pesantren Darussalam, Gontor Ponorogo ini menilai, pihak yang seharusnya paling bertanggung jawab atas hal ini adalah Tim Penyusun dan Penerbit buku LKS tersebut.
“Yang paling bertanggung jawab dalam hal ini adalah bagian lay out, editor dan tim penyusun hingga penerbit buku tersebut,” jelas lelaki yang juga peneliti pada Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) itu sebagaimana dikutip dari Hidayatullah.com, Kamis (20/09/2012).
Adnin juga berharap agar Menteri Pendidikan Dr.Ir Muhammad Nuh bisa cepat menanggapi masalah ini. Bukan hanya penarikan buku yang dibutuhkan, tapi juga melakukan investigasi terhadap kelalaian menampilkan foto artis porno ini.
Jika memang terdapat unsur kesengajaan maka bukan suatu yang mustahil para pelaku dan penerbit buku bisa diseret ke meja hijau.
Seperti diketahui, masyarakat Surabaya dikejutkan adanya foto seorang artis porno asal Jepang terpampang secara jelas pada lembar kerja siswa (LKS) Bahasa Inggris SMP Islam Mojokerja di halaman 36.
LKS terbitan CV Sinar Mulia Mojosari, Mojokerto ini disusun Tim Penyusun Musyawarah Guru Bahasa Inggris SMP, di antaranya Giyono, Sumantri, Moh. Jalil, dengan penelaah Muhyidin.
Dalam kata pegantarnya, tujuan diterbitkannya buku LKS bergambar artis porno ini untuk membantu siswa belajar dengan paradigma (pola pikir) baru, yaitu cooperative learning, active learning, dan mandiri.
Disebutkan pula, cara penyajian buku tugas ini akan membawa siswa berpikir kritis dan mencari informasi sendiri sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Selain di SMP Islam Brawijaya, diperkirakan LKS meresahkan itu juga terdapat di sekolah-sekolah lain. Pasalnya untuk pembelian LKS biasanya dilakukan secara terkoordinir oleh MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah). [mzf]
http://muslimdaily.net/berita/lokal/gambar-artis-porno-miyabi-muncul-di-lks-menteri-pendidikan-didesak-investigasi.html

الثلاثاء، ٧ أغسطس ٢٠١٢

Awas, Banyak Ustadz 'Gadungan' di Televisi

TEMPO.CO , Jakarta - Majelis Ulama Indonesia melihat banyak ulama yang tidak berkompeten dan berintegrasi tampil menjadi penceramah agama di televisi.
"Harunysa kualitas dan validitas serta keteladanan juru dakwah diperhitungkan," kata Wakil Ketua Tim Pemantau TV Ramadan 1431 H dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Imam Suhardjo di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Senin, 6 Agustus 2012.
Imam mengatakan, banyak tayangan komedi yang berujung pada makian atau melecehkan individu atau sekelompok orang. Ia prihatin, sebagian penceramah agama itu justru larut di skenario komedi.
Imam mencontohkan tayangan di Indosiar ketika Inul Daratista mengatakan "Pak saya nggak mandul lho, buktinya saya punya anak." Kemudian, ustadz menanggapi dengan perkataan "Lagian bukannya dibor malah ngebor."
Menurut Imam, pernyataan ini justru merendahkan seorang ustadz. Ia juga menyayangkan ustadz lain di Trans TV yang juga ikut ambil bagian waktu joget bersama secara berlebihan.
Imam mencermati, banyak dai yang menyampakan riwayat keagamaan dengan akurasi yang rendah. "Menggunakan hadis yang tidak sahih," kata Imam. Ia berharap para penceramah terus berusaha meningkatkan kompetensinya sebagai ustadz.
Menurut Imam, ustadz yang mempunyai kompetensi bisa dilihat dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik. Kognitif, artinya ustadz mempunyai pengetahuan agama yang mumpuni. Afektif, ustadz mempunyai kemampuan mengaitkankan ajaran-ajaran agama dengan permasalahan sehari-hari. Sedangkan psikomotorik, ustadz itu mempunyai kehidupan atau perbuatan yang terpuji.
"Kalau tidak ada ketiga itu, berarti tidak layak disebut ustadz," ujar Imam. Ia berharap stasiun televisi lebih berhati-hati memilih penceramah. Televisi dihimbau untuk lebih mengutamakan kompetensi diatas unsur selebritas.

الأربعاء، ٤ يوليو ٢٠١٢

Waspada Dengan Program e-KTP

Benarkah e-KTP itu termasuk salah satu konspirasi tingkat tinggi antara pemerintah dengan pihak asing? apa sebenarnya tujuan di buatnya e-KTP, apakah hanya untuk keamanan atau untuk mengawasi gerak gerik masyarakat?.. e-KTP kan ada chipnya, otomatis semua gerak gerik kita bisa diketahui? apakah kita yang sudah punya e-KTP ini hilang sudah privasinya ?.e-KTP atau Elektronic-Kartu Tanda Penduduk merupakan Kartu Tanda Penduduk yang di buat secara elektronik, dalam artian baik dari segi fisik maupun penggunaan berfungsi secara komputerisasi. e-KTP didesain dengan metode autentikasi dan pengamanan data tinggi. Hal ini dapat dicapai dengan menanamkan chip di dalam kartu yang memiliki kemampuan autentikasi, enkripsi dan tanda tangan digital.
Tentu yang mengusik nurani kita adalah bahwa e-KTP sangat bersinggungan dengan privasi kita. Dengan adanya chip di dalam e-KTP, tiap warga Negara bisa diawasi begitu ketat, baik keberadaannya maupun gerak-geriknya. Terlebih kini sudah lahir UU Intelijen sebagai otoritas penguat untuk mengintai daya kritisme masyarakyat.
Tentu kita harus sadar, selain terkait masalah kependudukan, penerapan e-KTP tidak terlepas dari isu terorisme yang melanda bangsa ini. Bayangkan dalam tahap pembuatan e-KTP, tiap warga negara harus melalui proses berlapis.
Selain difoto, kita juga harus membubuhkan tanda tangan secara digital, mencap sidik jari (10 jari), memverifikasi sidik jari, dan terakhir kita juga diharuskan melakukan verifikasi tanda tangan digital. Bahkan selain itu, tiap pembuat e-KTP diharuskan melakukan perekaman iris mata. Tentu kita bertanya-tanya apa maksud dari ini semua. Dan kita tidak tahu fungsi sejati dari sebuah ‘perekaman iris mata’. Mari kita berdoa, semoga kita terlindung dari motif yang tidak-tidak.
Tanpa bermaksud melakukan generalisasi secara menyeluruh, namun salah satu yang mengusik pikiran saya selama ini ialah kemiripan e-KTP beserta chip di dalamnya dengan program The RFID Chip 666 sebagai alat kontrol zionisme yang dimasukkan ke dalam permukaan kulit manusia. (Silahkan anda lihat videonya dihttp://www.youtube.com/watch?v=QA5ng9EN0DA).
Dasar pengembangan RFID untuk manusia adalah sebuah sistem yang disebut SmartCard yang memiliki microchip lithium yang berfungsi membaca data riwayat seseorang yang berhubungan secara elektronik ke pusat data pemerintah seperti informasi kesehatan, data pajak, dan jumlah tabungan serta identitas pribadi lainnya
Tujuannya sederhana, Zionis ingin melakukan kontrolisasi dan pendataan pergerakan manusia-manusia yang telah mereka incar. Dengan dimasukkannya chip ke dalam tubuh manusia, hal itu akan memudahkan mereka untuk memastikan target yang mereka incar berada dalam sebuah pengawasan “Sang mata satu”.
RFID sendiri atau Radio Frequency Identification digunakan untuk menyimpan atau menerima data secara jarak jauh dengan menggunakan suatu piranti yang bernama RFID tag atau transponder. RFID tag adalah sebuah benda kecil (sebesar biji beras) yang dapat ditempelkan pada suatu barang atau produk. Hebatnya meski kecil, RFID tag berisi antena yang memungkinkan mereka untuk menerima dan merespon terhadap suatu query (semacam kemampuan untuk menampilkan suatu data dari database) yang dipancarkan oleh suatu RFID transceiver.
Sejarah ini bermula ketika tahun 1946, Léon Theremin menemukan alat mata-mata untuk pemerintah Uni Soviet yang dapat memancarkan kembali gelombang radio dengan informasi suara. Gelombang suara ini kemudian memodulasi frekuensi radio yang terpantul. Walaupun alat ini adalah sebuah alat pendengar mata-mata yang pasif dan bukan sebuah kartu/label identitas, alat ini diakui sebagai benda pertama dan salah satu nenek-moyang teknologi RFID.
Beberapa publikasi menyatakan bahwa teknologi yang digunakan RFID telah ada semenjak awal era 1920-an, sementara beberapa sumber lainnya menyatakan bahwa sistem RFID baru muncul sekitar akhir era 1960-an.Rupanya alasan dibalik pembuatan tekhnologi canggih ini tidak terlepas dari doktrin teologis 666 di bible. Dalam surat wahtu 13: 16-18 dijelaskan.
“dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorang pun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.” (Lebih jauh silahkan anda baca http://www.tldm. org/news4/markofthebeast.htm)
Lantas apa yang membahayakan dari program chip ini? Tidak lain adalah sebuah perangkat yang bisa memanipulasi manusia dari mulai emosi, mental, sekaligus fisik. Dalam program zionis, inilah yang biasa kita kenal sebagai mindcontrol.
Amerika Serikat sendiri sebagai pemerintahan Zionis, sudah mempersiapkan pemberlakukan RFID Chip kepada para warganya sebagai antisipasi dari tindakan terrorisme yang menyerang negaranya. Bahkan di Spanyol Baja Beach Club, sebuah klub malam eksklusif di Barcelona, sejak tahun 2004 sudah menanamkan Chip sebagai prasyarat untuk menjadi pelanggan VIP dengan dalih keperluan identifikasi.
Dan saya sungguh khawatir bahwa e-KTP adalah cikal bakal dari pemberlakuan RFID Chip 666, terlebih dalam e-KTP ada sebuah chip yang berisi data-data yang sama seperti tercantum di tampilan muka kartu identitas, alamat kontak pemilik kartu, sertifikat serta data kunci pemilik kartu yang tersimpan dalam database milik negara (pedomannews.com/ Kamis, 30 Juni 2011)
Dan Saat ini e-KTP telah mulai meluas digunakan di hampir seluruh negara anggota Uni Eropa dan beberapa negara Asia seperti China dan India. Akankah ini betul-betul menuju sebuah tatanan yang satu, maksud yang satu, dan arah yang satu yakni sebuah tatanan dunia baru yang lazim disebut New Wolrd Order. Kita harus jeli dan terus waspada. Awasi terus program e-KTP. Allahua’lam.
(Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi/ yopiedinar.blogspot)
Sumber: http://www.globalmuslim.web.id/2012/04/waspada-program-e-ktp-mengerikan.html

الخميس، ١٤ يونيو ٢٠١٢

kasus penghinaan terhadap Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم di dalam buku karangan Douglas Wilson

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya menyerahkan kasus dugaan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang tertuang dalam buku karangan Douglas Wilson ke Mabes Polri, Kamis (14/6) sore.
Pelimpahan tersebut dilakukan atas dasar penyebaran buku yang telah meluas hingga ke setiap daerah di Indonesia.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto menyatakan, menurut rencana, laporan seseorang atas nama IA yang menyatakan buku "Lima Kota Paling Berpengaruh di Dunia" telah menghina Nabi Muhammad SAW akan ditangani Mabes Polri. Pelimpahannya, ungkap dia, akan dilakukan hari ini, Kamis (14/6) sore.

"Alasannya karena penyebaran buku itu telah meluas hingga ke sejumlah daerah di Indonesia," tutur Rikwanto.

Menurut Rikwanto, dasar pelaporan buku terbitan PT Gramedia Pustaka Utama itu adalah temuan sebuah pernyataan pada halaman 24 yang berbunyi "Nabi Muhammad adalah seorang perampok dan perompak".
Selain itu, tutur dia, pelapor juga mengatakan bahwa pada halaman yang sama, sang nabi disebut-sebut menyerbu karavan di Madinah dan memerintahkan pembunuhan di sana.

Seperti telah diketahui, IA selaku anggota FPI, melaporkan Dirut PT Gramedia Pustaka Utama, editor dan penerjemah buku karangan Douglas Wilson ke Mapolda Metro Jaya, Senin (11/6). 

Mereka diancam dengan Pasal 156 ayat (a) 157 (1) dan 484 (2) KUHP sebagaimana tertuang dalam laporan polisi nomor TBL/1985/IV/2012/PMJ.

الأربعاء، ٦ يونيو ٢٠١٢

Direktur ICU: Allah bersetubuh, Muhammad yang merasakan, Ali yang berbuat, Fathimah yang menerimanya (Astaghfirullah !)


Koran Tribun Timur Makassar, Jum'at, 23 Januari 2009, menurunkan artikel Supa Atha'na (Tokoh Syiah di Makassar dan Direktur Iranian Corner Universitas Hasanuddin (ICU) Makassar) dalam tribun opini dengan judul "Assikalaibineng, Refleksi Pemikiran Muslim Persia", di dalam artikel itu Supa Atha'na ingin menegaskan bahwa orang persia punya peran yang sangat besar dalam proses islamisasi di daerah-daerah yang bersuku Bugis-Makassar, dia menyebutkan:
"Sementara disebutkan bahwa sayid Jamaluddin Kubra Al Husein adalah kakek dari walisongo di tanah jawa, yang kelahiran samarkand, Persia datang ke tanah Bugis, Tosara-Wajo, adapun tahun kedatangannya banyak versi, tapi umumnya menyebutkan seputar tahun 1300-an. Bandingkan dengan kedatangan datuk Ribandang, datuk Patimang dan Datuk Ditiro yang disebut-sebut penyebar Islam di tanah Bugis-Makassar kedatangannya sekira tahun 1600. Ada 300 tahun jarak di antara mereka."
Untuk menguatkan pernyataan itu ia mendatangkan bukti dengan menyebutkan kutipan buku bacaan orang tua bugis makassar yang berjudul "Assikalaibineng" yang di dalamnya tertulis "Allah Taala Mabberattemu Muhamma' mappenedding Ali mappugau Patima ttarimai" namun parahnya dia terjemahkan kosa kata bahasa bugis tadi secara terang-terangan dan ia mengatakan:
"Allah Taala yang bersetubuh, Muhammad yang merasakan, Ali yang berbuat, fatimah yang menerimanya.Antara Allah, Rasulullah, Ali dan Fathimah adalah sebuah kemanunggalan atau dalam istilah tasawwuf disebut Wahdatul Wujud. Pengertian sederhana wahdatul wujud adalah bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci.
Ada pun guru besar pertama konsep wahdatul wujud adalah Husain Ibn Mansyur al Hallaj, yang kesohor dengan sebutan al Hallaj, sufi Persia lahir pada 26 maret 866 M. konsep wahdatul wujud itu bersumber dan berkembang dari tradisi pemikiran Islam Persia."
Supa Atha'na (Direktur Iranian Corner Universitas Hasanuddin Makassar)
Di kantor LPPI Makassar ada buku yang berjudul "Assikalaibineng" yang dia maksud, dan betul apa yang dia tulis dengan apa yang ada dalam buku itu. namun yang perlu diketahui bahwa penulis buku itu tidak beraliran Syiah, ia hanya mengutip dan mengumpul-ngumpulkan manuskrip-manuskrip lontara yang menjadi bahan bacaan sebagai panduan berhubungan badan suami-istri orang-orang tua zaman dulu Bugis-Makassar, karena dalam buku itu juga disebutkan tentang Abu Bakar, Umar dan Utsman yang mereka merupakan Khulafa' Rasyidun bersama dengan Ali bin Abi Thalib.
Penulis buku "Assikalaibening" tidaklah beraqidah Syiah yang dimana dalam Aqidah Syiah 3 sahabat nabi (Abu Bakar, Umar dan Utsman) sangat dibenci dan bahkan dikafirkan. Dan mungkin karena kurangnya ilmu agama yang dimiliki sang penulis, banyak dalam buku itu praktek-praktek hubungan badan dengan bentuk dan bacaan-bacaan yang aneh dan sama sekali tidak diajarkan oleh agama Islam, bahkan hal yang sangat sensitif yang berkaitan dengan aqidah-pun dia tidak seleksi dari manuskrip-manuskrip lontara tadi.
Namun  Supa Atha'na memanfaatkan keteledoran penulis buku untuk dia dijadikan rujukan atas pernyataannya dari judul artikel yang dia tulis "Assikalaibineng, Refleksi Pemikiran Muslim Persia",  di akhir tulisan, Supa Atha'na memberikan kesimpulan "Dengan pemaparan di atas maka sebagai kesimpulan bahwa yang mengajarkan konsep Assikalaibineng adalah muslim dari negeri persia"
Penjelasan Terhadap Aqidah Wahdatul Wujud, berikut kami kutipkan dari tulisan Ustadz Muhammad Ashim bin Musthafa dari situs almanhaj.or.id (http://almanhaj.or.id/content/2769/slash/0)
HAKIKAT KEYAKINAN WIHDATUL WUJUD DAN PELOPORNYA 
Keyakinan wihdatul wujud, merupakan pemahaman ilhadiyah (kufriyah) yang muncul setelah dipenuhi dengan keyakinan hulul. Yaitu, dalam istilah Jawa disebut manunggaling kawula lan gusti. Artinya, bersatunya makhluk dengan Tuhan, pada sebagian makhluk. Tidak ada keterpisahan antara keduanya. Muaranya, segala yang ada merupakan penjelmaan Allah Azza wa Jalla. Tidak ada wujud selain wujud Allah. Hingga akhirnya berpandangan, tidak ada sesuatu pun di alam semesta ini, kecuali Allah. Pemikiran sesat seperti ini, tidak lain kecuali berasal dari keyakinan Budha dan kaum Majusi.[1]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, bahwa mereka (orang-orang yang berkeyakinan dengan aqidah wihdatul wujud) telah melakukan ilhad (penyimpangan) dalam tiga prinsip keimanan (iman kepada Allah, RasulNya dan hari Akhirat). Menurut Syaikhul Islam, dalam masalah iman kepada Allah, mereka menjadikan wujud makhluk merupakan wujud Pencipta itu sendiri. Sebuah ta'thil (penghapusan sifat-sifat Allah) yang sangat keterlaluan.[2]
Pemahaman seperti ini sungguh sangat nista dan kotor. Karena, konsekwensinya berarti seluruh keburukan, binatang-binatang najis, kejahatan, iblis, setan dan perihal buruk lainnya merupakan jelmaan Allah. Maha Suci Allah dari perkataan orang-orang mujrimin (berbuat kejelekan).
Keyakinan seperti inilah yang menjadi landasan aqidah Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Arabi Abu Bakr al Hatimi. Dia lebih dikenal dengan nama Ibnu ‘Arabi [3]. Lahir tahun 560 H di Andalusia dan meninggal tahun 638 H. Menurut adz Dzahabi, ia (Ibnu 'Arabi) sebagai kiblat orang-orang yang menganut paham aqidah wihdatul wujud [4]. Simak dua bait syair yang tak pantas ini : 
Tidaklah anjing dan babi kecuali sesembahan kami...Dan bukanlah Allah, kecuali seorang pendeta di gereja! [5]
Lebih jauh Syaikhul Islam menjelaskan bahwa, keyakinan seperti ini diadopsi dari pemikiran para filosof, seperti Ibnu Sina dan lain-lain. Yang kemudian dikemas dengan baju Islam melalui tasawuf. Kebanyakan terdapat dalam kitab al Kutubul Madhnun biha ‘Ala Ghairi Ahliha.[6] 
SYUBHAT SEPUTAR UNGKAPAN KUFUR IBNU ‘ARABI
Kitab Fushulul Hikam dan al Futuhat al Makkiyah, dua karya Ibnu 'Arabi yang sangat terkenal ini, sarat dengan perkataan-perkataan tentang wihdatul wujud, penafian perbedaan antara Khaliq (Pencipta) dengan makhlukNya, dan penetapan penyatuan antara keduanya. Sangat jelas, dari dua buku ini, betapa rusak aqidah penulisnya dan orang-orang yang mengikutinya.
Sebagai contoh, misalnya dalam sebuah penggalan syairnya, Ibnu 'Arabi berkata:
الْعَبْدُ رَبٌّ وَالرَّبُّ عَبْدٌ يَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَنِ الْمُكَلَّفُ
Hamba adalah Rabb, dan Rabb merupakan hamba. Aku bingung, siapa gerangan yang menjadi mukallaf.
Ia juga mengatakan : 
عَقَدَ الْخَلَائِقُ فِيْ الْإلِه عَقَائِدَ وَأَنَا اعْتَقَدْتُ جَمِيْعَ اعْتَقَدُوهُ
Semua makhluk berkeyakinan tentang ilah (sesembahan) dengan berbagai keyakinan. Dan aku berkeyakinan (tentang ilah) dengan seluruh yang mereka yakini itu.[7] 
Begitu juga dengan perkataannya : 
Dia menyanjungku, aku pun memujiNya. Dia menyembahku, dan aku pun menyembahNya. 
Dalil yang ia catut untuk mendukung argumentasinya, yaitu firman Allah dalam an Nur/24 ayat 39 : 
وو جد الله عنده
"Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya". 
Juga dengan mengusung hadits palsu berikut : 
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
"(Barangsiapa mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Rabb-nya)".
Mengenai argumentasi yang dibawakan ini, Dr. Ghalib 'Awaji memberikan komentar : "Ini merupakan istidlal (pengambilan dalil) yang sangat aneh dan mungkar yang diucapkan oleh seseorang. Bagaimana mungkin mengatakan al Qur`an dan Sunnah mengajak ilhad dan kekufuran kepada Allah? Oleh karenanya, Ibnu Taimiyah mengatakan, kekufuran mereka lebih parah daripada kekufuran Yahudi dan Nashara serta kaum musyrikin Arab” [9]. Adapun Ahlu Sunnah menetapkan, sebagaimana dikatakan Ibnul Abil ‘Izz rahimahullah [10] : "Ahlu Sunnah bersepakat, tidak ada sesuatu pun menyerupai Allah, baik pada dzatNya, sifatNya maupun af‘al (perbuatan-perbuatan)Nya". 
Mengenai keimanan kepada hari Akhir, Ibnu 'Arabi berpendapat, bahwa penghuni neraka juga merasakan kenikmatan di neraka, sebagaimana yang dinikmati oleh penghuni jannah di jannah. Karena adzab (yang berarti siksaan), disebut demikian, lantaran kenikmatan rasanya ('udzubatu tha'mihi, dari kata adzbun yang berarti lezat).
Sementara itu, tentang keimanan kepada para rasul, penganut wihdatul wujud juga melakukan penodaan yang tidak ringan terhadap gelar terhormat para rasul. Menurut mereka, penutup para wali Allah itu lebih berilmu daripada penutup kenabian. Mereka berpendapat, para nabi -termasuk pula Nabi Muhammad- mengambil ilmu dari celah wali terakhir.
Tentu, pendapat seperti ini, sangat jelas melanggar nash-nash agama dan cara berpikir yang . Seperti sudah dimaklumi, orang yang datang di akhir, ia akan mengambil manfaat dari orang yang berada di depannya. Bukan sebaliknya. Dalam perspektif agama, wali Allah yang paling utama, ialah orang-orang yang mengambil ilmu dari nabi yang mulia. Dan wali Allah yang paling mulia dari umat ini adalah, orang-orang shalih yang menyertai Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah berfirman: 
"Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mu'min yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula". [at Tahrim/66 : 4].
Menurut kesepakatan para imam salaf dan khalaf, wali Allah yang paling afdhal adalah Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu kemudian ‘Umar Radhiyallahu 'anhu.
Berbeda dengan pandangan orang-orang mulhid tersebut (Ibnu Arabi dkk), mereka lebih mengutamakan ahli filsafat ketimbang seorang nabi. Ibnu ‘Arabi sendiri mengatakan : "Sesungguhnya penutup para wali mengambil langsung dari piringan logam yang diambil oleh malaikat untuk diwahyukan kepada nabi". Pernyataan ini sangat nampak pelanggarannya terhadap al Kitab, as Sunnah dan Ijma'.[11] 
MEREKA LEBIH BODOH DARI FIR'AUN [12]
Orang-orang yang mengklaim telah mencapai tingkatan tahqiq, ma'rifah, dan wilayah yang memegangi aqidah wihdatul wujud, asal-muasal perkataan mereka merujuk pernyataan Bathiniyah, dari kalangan kaum filosof, Qaramithah dan semisalnya. Mereka sejenis dengan Fir'aun, namun lebih bodoh darinya. Fir'aun, memang sangat keras pengingkarannya, tetapi ternyata, ia tetap meyakini keberadaan Pembuat alam semesta (Allah) yang berbeda dengan alam semesta. Fir'aun memperlihatkan pengingkaran, tidak lain karena demi meraih kharisma, dan bermaksud menunjukkan jika perkataan Musa sama sekali tidak ada hakikatnya. Lihat al Qur`an surat al Mu'min/40 ayat 36-37.
Sedangkan penganut wihdatul wujud, meski meyakini adanya Pembuat alam semesta ini, tetapi mereka tidak menetapkan wujudNya yang berbeda dengan alam ini. Mereka berpendapat, wujudNya sama dengan wujud alam semesta. Bahkan menjadikan Dia menyatu dengan alam semesta. Sungguh suatu pandangan batil yang sangat menyimpang. Bagaimana mungkin al Khaliq sama dengan makhlukNya dari segala sisi? Allah berfirman: 
"… Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat". [asy Syura/42 : 11].
Al Imam ath Thahawi mengatakan: "Persangkaan-persangkaan tidak bisa sampai kepada (hakikat)Nya. Pemahaman-pemahaman pun tidak akan mencapai (hakikat)Nya". Ibnu Abil 'Izzi menambahkan pernyataan al Imam ath Thahawi ini dalam syarahnya dengan mengatakan : "Dan Allah Ta'ala tidak diketahui bagaimana dzatNya, kecuali Dia sendiri Subhanahu wa Ta'ala . Kita mengenalNya hanyalah melalui sifat-sifatNya" [14]. Syaikhul Islam juga mengatakan : “Aqidah yang dibawa para rasul dan yang termuat pada kitab-kitab yang Allah turunkan, serta sudah menjadi kesepakatan Salaful Ummah dan para tokohnya, yaitu penetapan pencipta yang berbeda dengan ciptaannya, dan Dia berada di atasnya (ciptaanNya)”. [15]
Demikian ditinjau dari aspek agama (dalil). Sedangkan dari aspek aqli (logika), sungguh tidak mungkin pencipta menyerupai yang dicipta. Apalagi kalau semua makhluk adalah juga pencipta. Tentu sangat mustahil. 
PENGUSUNG AQIDAH WIHDATUL WUJUD LAINNYA
Selain Ibnu 'Arabi, ada beberapa tokoh yang ikut mengusung pemikiran wihdatul wujud. Di antaranya adalah Ibnul Faridh. Dalam kumpulan syairnya yang populer, yaitu Ta`iyyah, ia mengungkapkan hakikat aqidahnya. Dia menyatakan dirinya sebagai mumatstsil kabir lillah (penjelma Allah yang besar) dalam sifat dan perbuatanNya. 
Abdul Qadir al Jili, penulis kitab al Insanul Kamil, guru Abdul Qadir al Jailani. Dalam salah satu selorohannya, ia berkata : "Dan sesungguhnya aku adalah Rabb bagi alam. Dan penguasa seluruh manusia itu sebuah nama. Dan akulah orangnya".
Abu Hamid al Ghazali, dalam kitab Ihya` Ulumuddin, saat menjelaskan maratibut tauhid (tingkatan-tingkatan tauhid) yang keempat, ia mengatakan : "Tingkatan tidak melihat dalam alam ini kecuali satu wujud saja".
Untuk menjawab kebingungan orang yang mempermasalahkan bagaimana bisa dikatakan satu, padahal banyak hal yang terlihat dan berbeda-beda? Maka ia menjawab: "Ketahuilah, itulah puncak mukasyafat dan rahasia-rahasia ilmu. Tidak boleh dituangkan dalam sebuah kitab. Orang-orang yang arif berkata,'Membeberkan rububiyah adalah kufur'.”
Jawaban ini mengandung tuduhan kepada Allah dalam menjelaskan aqidah, karena secara implisit dari jawabannya berarti Allah belum menerangkannya dengan sejelas-jelasnya, demikian juga Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam. tidak diketahui kecuali orang-orang yang sudah mencapai tingkatan kasyf dalam wacana sufi. [16]
Jalaluddin ar Rumi, penyair dari Persia (Iran) ini, dalam kumpulan puisinya yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Arab, ia mengatakan: [17]
Bila di dunia ini ada orang mukmin, orang kafir atau pendeta Nashrani, maka aku adalah dia. Aku hanya punya satu tempat ibadah, baik itu masjid, gereja ataupun candi.
WIHDATUL AD-YAN (PENYATUAN AGAMA-AGAMA) SALAH SATU KONSEKWENSI DARI WIHDATUL WUJUD
Dengan pemikiran yang telah dipaparkan di atas, keyakinan Wihdatul Wujud, juga melahirkan wacana, yang kini telah digagas para pengekornya, yaitu usaha untuk mempersatukan agama-agama. Sebuah anggapan bahwa semua agama adalah benar, memiliki tujuan yang sama. Yaitu menyembah tuhan yang sama, hanya berbeda dalam cara. Pandangan sesat seperti ini, tidak diragukan lagi merupakan kekufuran yang sangat nyata.[18]
Tak ayal, pemikiran ini mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari kalangan Orientalis dan musuh-musuh Islam lainnya. Karena, pada gilirannya berarti semua keyakinan adalah benar, tidak ada perbedaan antar-manusia. Seluruh agama kembali kepada satu keyakinan, karena semuanya jelmaan dari Tuhan.
Dikatakan oleh Allen Nicholson, diantara konsekwensi pemikiran wihdatul wujud, yaitu pernyataan mereka tentang kebenaran semua aqidah dalam agama-agama, apapun bentuknya.
Lebih jauh ia mengatakan : "Sebenarnya al Ghazali lebih toleran terhadap sebagian sufi Wihdatul Wujud, semisal Ibnu ‘Arabi dan lain-lainnya dari kalangan sekte sufi yang menjadi kawan-kawan kami dalam agama liberal itu, dengan seluruh maknanya”.[19]
Sudah pasti Islam berlepas diri dari pemikiran yang sangat menyimpang ini. Pemikiran ini telah mencampur-adukkan antara yang benar dan batil. Sehingga dapat menyebabkan hilangnya identitas kaum Muslimin, meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan jihad di jalan Allah. 
Oleh karena itu, kaum Orientalis memberikan perhatian yang besar terhadap keyakinan rusak ini. Yaitu dengan lebih memperdalam mengkaji tentang tashawwuf. Karena, tashawwuf ini mendukung sebagian tujuan mereka. yakni untuk melupakan kaum Muslimin dengan ajaranya, dan juga unutk memecah-belah kaum Muslimin. Dengan pemikiran Wihdatul Wujud, orang-orang Orientalis merasa memiliki sarana yang tepat untuk menyebarkan berbagai kekufuran. 
KISAH ORANG YANG BERTAUBAT DARI AQIDAH IBNU 'ARABI
Ibnu Taimiyah rahimahullah mengisahkan : Ada seseorang yang tsiqah (terpercaya) telah bertaubat dari mereka. Ketika ia mengetahui rahasia-rahasia mereka, maka ada (penganut wihdatul wujud) yang membacakan buku Fushul Hikam karya Ibnu ‘Arabi. 
Orang yang tsiqah ini berkata : “Bukankah ini menyelisihi al Qur`an”. 
Orang itu menjawab,"Memang al Qur`an semuanya berisi kesyirikan. Tauhid hanya ada pada pernyataan kami saja,” 
Maka ia (orang yang tsiqah ini) kembali bertanya : “Kalau semua itu sama saja, mengapa putrimu diharamkan atasku, sementara istriku halal untukku?”. 
Orang itu menjawab,"Dalam pandangan kami, tidak ada bedanya antara istri dan anak perempuan. Semua halal (untuk dinikmati).” [20]
Itulah sekilas tentang pemikiran Wihdatul Wujud. Masih banyak fakta-fakta sesat lainnya yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pemikir ini. Bisa dijumpai dalam kitab-kitab yang mengkritisi alirah tashawwuf secara umum. Sebagian sudah ada yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Tema ini diketengahkan, supaya seorang muslim sadar dan berhati-hati terhadap aqidah yang sesat ini. 
Wallahul hadi ila shirathil mustaqim.
Maraji : 
  • - Ar Risalah ash Shafadiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H), tahqiq Abu Abdillah Sayyid bin 'Abbas al Hulaimi dan Abu Mu'adz Aiman bin 'Arif ad Dimasyqi, Adhwau as salaf, Riyadh, Cetakan I, Th. 1423H.
  • - Bayanu Mauqifi Ibnil Qayyim min Ba’dhil Firaq, Dr. ‘Awwad bin Abdullah al Mu’tiq, Maktabah ar Rusyd, Riyadh, Cetakan, III, Th. 1419H. 
  • - Da’watut-Taqribi Bainal Ad-yan, Dr. Ahmad bin Abdir Rahman bin ‘Utsman al Qadhi, Darul Ibnil Jauzi, Dammam, Cetakan I, Th. 1422H. 
  • - Firaq Mu’ashirah Tantasibu Ilal Islam, Dr. Ghalib ‘Awaji. Al Maktabah al 'Ashriyyah adz Dzahabiyyah Jeddah. Cet. V. Th. 1426 H – 2005 M. 
  • - Hadzihi Hiyash Shufiyah, Abdur Rahman al Wakil, tanpa penerbit dan tahun. 
  • - Syarhul ‘Aqidatith-Thahawiyah, ‘Allamah Ibnu Abil ‘Izz al Hanafi, tahqiq sejumlah ulama, takhrij Syaikh al Albani, al Maktabul Islami, Beirut, Cetakan IX, Th. 1408H. 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi (07-08)/Tahun X/1427/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Firaq Mu'ashirah, halaman 994.
[2]. Ar Risalah ash Shafadiyah, halaman 247.
[3]. Agar tidak timbul salah persepsi, perlu dibedakan antara Ibnu ‘Arabi dengan Ibnul 'Arabi. Nama yang kedua diawali dengan alif lam ta'rif (Ibnu al 'Arabi). Beliau adalah seorang ulama Malikiyah yang terkenal, dengan nama lengkap Abu Bakr Muhammad bin 'Abdillah t (468-543 H). Di antara karyanya, Ahkamul Qur`an.
[4]. Dinukil dari Da’watut Taqrib, 1/339.
[5]. Dinukil dari Hadzihi Hiyash Shufiyah, halaman 64.
[6]. Ar Risalah ash Shafadiyah, halaman 265. Kitab tersebut milik al Ghazali.
[7]. Fushushul Hikam, halaman 345. Dinukil dari Da’watut Taqrib, 1/386.
[8]. Al Fushush, halaman 83. Dinukil dari Hadzihi Hiyash Shufiyah hlm. 43.
[9]. Firaq Mu'ashirah 3/994
[10]. Syarhul ‘Aqidatit-Thahawiyah, halaman 98.
[11]. Ar Risalah ash Shafadiyah, 251.
[12]. Ar Risalah ash Shafadiyah, Ibnu Taimiyah, 262.
[13]. Maqamat (tingkatan-tingkatan religi) dalam perspektif kaum Sufi.
[14]. Syarhul ‘Aqitatith-Thahawiyah, halaman 117.
[15]. Ar Risalah ash Shafadiyah, halaman 263.
[16]. Firaq Mu’ashirah Tantasibu Ilal Islam, 3/1002. Penulis kitab ini menukil keterangan Syaikh Abdur Rahman al Wakil perihal taubat al Ghazali yang berbunyi : “As Subki berupaya membebaskan peran al Ghazali (dalam aqidah ini) dengan dalihnya, bahwa ia (al Ghazali) menyibukkan diri dengan al Kitab dan as Sunnah di akhir hayatnya. Namun demikian, kaum Muslimin harus tetap diperingatkan dari warisan-warisan pemikiran al Ghazali yang terdapat pada kitab-kitab karyanya". Hadzihi Hiyash Shufiyah, halaman 52. Pembahasan tentang Imam al Ghazali, pernah kami angkat pada edisi 7/Th. VI/1423H/2002M.
[17]. Dinukil dari Da’watut Taqrib (1/388-389).
[18]. Lihat Mauqifu Ibnil Qayyim, halaman 141; Hadzihi Hiyash Shufiyah, halaman 93; Da’watut Taqrib, 1/381-405.
[19]. Fit Tashawuf al Islami, Dinukil dari Hadzihi Hiyash Shufiyah, 50.
[20]. Ar Risalah ash Shafadiyah, halaman 247.
Sumber:  http://arrahmah.com