.quickedit{ display:none; }

Social Icons

‏إظهار الرسائل ذات التسميات Sejarah. إظهار كافة الرسائل
‏إظهار الرسائل ذات التسميات Sejarah. إظهار كافة الرسائل

الخميس، ٥ يوليو ٢٠١٢

Kepalsuan Kisah Harun Ar-Rasyid dan Abu Nuwas dalam Dongeng 1001 Malam

Alkisah
Konon pada jaman Khaifah Harun Ar-Rasyid – salah satu khalifah Daulah Bani ‘Abbasiyyah – hiduplah seorang pujangga yang bernama Abu Nuwas (di Indonesia terkenal dengan nama Abu Nawas). Khalifah mempunyai hubungan dekat dengan Abu Nuwas ini, sedangkan Abu Nuwas adalah seorang yang suka meminum minuman keras, bermain dengan wanita, mendengarkan musik, berjoget dan berdansa, serta perbuatan lain semisalnya; sehingga khalifah pun banyak melakukan itu semua karena kedekatannya dengan Abu Nuwas.
Kemasyhuran Kisah Ini
Kisah ini sangat masyhur di negeri Nusantara dan mungkin juga di berbagai belahan bumi Islam lainnya. Banyak komik yang ditulis lalu dikonsumsi oleh semua kalangan yang menggambarkan bagaimana bejatnya perbuatan khalifah ini beserta teman karibnya, Abu Nuwas. Sehingga kalau disebut di kalangan orang banyak tentang Harus Ar-Rasyid, maka yang terbetik di bayangan mereka adalah seorang raja tanpa wibawa yang suka main musik dan wanita diiringi minum khamr (minuman keras). Jarang sekali di antara awam kaum muslimin yang mengetahui siapa sebenarnya Khalifah Harun Ar-Rasyid, kecuali dari cerita yang beredar ini.
Akar Cerita
Asal-usul cerita ini bersumber dari sebuah buku dongeng yang berjudul Alfu Lailatin wa Lailah (cerita seribu satu malam). Buku ini dari lembar pertama sampai terakhir hanyalah berisi dongeng. Dan yang namanya “dongeng” berarti tidak mempunyai asal-usul sanad yang terpercaya. Isinya pun hanya khayalan belaka; misalnya tentang cerita ‘Ali Baba dengan perampok, kisah Aladin dengan lampu ajaibnya, begitu pula cerita tentang Abu Nuwas dengan Harun Ar-Rasid.
Kitab ini asal-usulnya adalah dongeng yang berasal dari bangsa India dan Persia. Lalu dialihbahasakan ke dalam bahasa Arab pada sekitar abad ketiga hijriah. Kemudian ada yang menambahi beberapa ceritanya sehingga sampai pada masa Daulah Mamalik.
Kitab ini sama sekali bukan kitab sejarah, dan sama sekali tidak bisa menjadi landasan untuk mengetahui keadaan umat tertentu.
Oleh karena itu, para ulama sepakat untuk men-tahdzir (memperingatkan) atas kitab ini dan melarang umat untuk membaca dan menjadikannya sebagai landasan sejarah. Di antara mereka adalah Al-Ustadz Anwar Al-Jundi rahimahullah yang berkata : ”Kitab Alfu Lailatin wa Lailah adalah sebuah kitab campur baur tanpa penulis. Kitab ini disusun dalam rentang waktu yang bermacam-macam. Kebanyakan (isi)-nya menggambarkan tentang keadaan sosial masyarakat sebelum kedatangan Islam di negeri Persia, India, dan berbagai negeri paganis lainnya”.
Ibnu Nadim rahimahullah dalam Al-Fahrasat berkata tentang kitab ini : ”Ini adalah kitab yang penuh dengan kedunguan dan kejelekan”.
Dan masih banyak lainnya. Silakan melihat apa yang dipaparkan oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam Kutubun Hadzdzara minahl-’Ulamaa (2/57).
Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidhahullah pernah ditanya : ”Sebagian kitab sejarah terutama kitab Alfu Lailatin wa Lailah menyebutkan bahwa Khalifah Harun Ar-Rasyid adalah seorang raja yang hanya dikenal sebagai orang yang suka bermain-main, minum khamr, dan lainnya. Apakah ini benar ?”.
Beliau menjawab : ”Ini adalah kedustaan dan tuduhan yang dihembuskan ke dalam sejarah Islam. Kitab Alfu Lailatin wa Lailah adalah sebuah kitab yang tidak boleh dijadikan sandaran. Tidak selayaknya seorang muslim menyia-nyiakan waktunya untuk menelaah kitab tersebut. Harun Ar-Rasyid dikenal sebagai orang yang shalih dan istiqamah dalam agamanya, serta sungguh-sungguh dan bagus dalam mengatur masyarakatnya. Beliau satu tahun menunaikan haji, dan tahun berikutnya berjihad. Ini adalah sebuah kedustaan yang terdapat dalam kitab tersebut. Tidak selayaknya seorang muslim untuk membaca kitab kecuali yang ada faedahnya, seperti kitab sejarah yang terpercaya, kitab tafsir, hadits, fiqh, dan ’aqidah yang dengannya seorang muslim akan bisa mengetahui urusan agamanya. Adapun kitab yang tidak berharga, tidak selayaknya seorang muslim terutama penuntut ilmu menyia-nyiakan waktunya dengan membaca kitab seperti itu” [Nuur ’alaa Darb, Fataawaa Syaikh Shalih Al-Fauzan, halm. 29].
Hakikat Cerita Ini
Dari keterangan di atas, tiada lagi keraguan bahwa kisah tentang Harun Ar-Rasyid seperti yang digambarkan tadi adalah sebuah kedustaan. Banyak sekali para ulama yang menyatakan bahwa itu adalah sebuah kedustaan, di antara mereka adalah :
v  Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidhahullah, sebagaimana nukilan dari beliau di atas.
v  Syaikh ’Abdullah bin ’Abdirrahman Al-Jibrin hafidhahullah, beliau berkata : ”Ini merupakan kedustaan yang jelas dan kedhaliman yang nyata...” [Fataawaa Islamiyyah, 4/187].
v  Syaikh Salim Al-Hilaly hafidhahullah berkata : ”Kita harus membersihkan sejarah Islam dari hal-hal yang digoreskan oleh para pemalsu dan pendusta beserta cucu-cucu mereka dari kalangan orientalis. Mereka menggambarkan bahwa sejarah Islam merupakan panggung anak kecil, musik, dan nyanyian. (Mereka gambarkan) para khalifah kaum muslimin tenggelam dalam syahwat dan kelezatan dunia, kurang memperhatikan kepentiangan kaum muslimin; sebagaimana yang dilakukan oleh para perusak tersebut dalam menodai sejarah Khalifah Harun Ar-Rasyid” [Al-Jamaa’aat Al-Islamiyyah, hlm. 430].
Atas dasar ini, maka alangkah baiknya kalau kita sedikit mengetahui perjalanan hidup kedua orang ini, agar kita bisa mengetahui siapa sebenarnya Abu Nuwas, dan juga siapa dan bagaimana sebenarnya Khalifah Harus Ar-Rasyid.
Siapakah Abu Nuwas ?
Dia adalah Abu ’Ali Hasan bin Hani’ Al-Hakami, seorang penyair yang sangat masyhur di jaman Bani ’Abbasiyyah.
Kepiawaiannya dalam menggubah qashidah syair membuat di sangat terkenal di berbagai kalangan, sehingga dia dianggap sebagai pemimpin para penyair di jamannya.
Namun amat disayangkan, perjalanan hidupnya banyak diwarnai dengan kemaksiatan, dan itu banyak juga mewarnai syair-syairnya. Sehingga saking banyaknya dia berbicara masalah khamr, sampai-sampai kumpulan syairnya ada yang disebut khamriyyaat.
Abu ’Amr Asy-Syaibani rahimahullah berkata : ”Seandainya Abu Nuwas tidak mengotori syairnya dengan kotoran-kotoran ini, niscaya syair-syairnya akan kami jadikan hujjah dalam kitab-kitab kami”.
Bahkan sebagian orang ada yang menyebutnya sebagai orang yang zindiq, meskipun pendapat ini tidak disetujui oleh sebagian ulama. Di antara yang tidak menyetujui sebutanzindiq ini untuk Abu Nuwas adalah Al-Imam Al-Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidaayah wan-Nihaayah (14/73), ketika menyimpulkan tentang kehidupan Abu Nuwas beliau berkata : ”Kesimpulannya, para ulama banyak sekali menceritakan peristiwa kehidupannya, juga tentang syair-syairnya yang mungkar, penyelewengannya, kisah yang berhubungan dengan masalah khamr, kekejian, suka dengan anak-anak kecil yang ganteng serta kaum wanita; sangat banyak dan keji. Bahkan sebagian orang menuduhnya sebagai pelaku zina. Di antara mereka juga ada yang menuduhnya sebagai seorang yang zindiq. Di antara mereka ada yang berkata : ’Dia merusak dirinya sendiri’. Hanya saja, yang tampak bahwa dia hanyalah melakukan berbagai tuduhan yang pertama saja. Adapun tuduhan sebagai orang yang zindiq, maka itu sangat jauh dari kenyataan hidupnya, meskipun ia memang banyak melakukan kemaksiatan dan kekejian”.
Akan tetapi, walau bagaimanapun juga disebutkan dalam kitab-kitab sejarah bahwa dia bertaubat di akhir hayatnya; semoga memang demikian dan semoga Allah menerima taubatnya. Salah satu yang menunjukkan taubatnya adalah sebuah syair yang ditulisnya menjelang wafat :
يَا رَبِّ إِنْ عَظُمَتْ ذُنُوبِي كَثْرَةً
فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أعْظَمُ
أَدْعُوكَ رَبِّي كَمَا أَمَرْتَ تَضَرُّعاً
فَإِذَا رَدَدْتَ يَدِي فَمَنْ ذَا يَرْحَمُ
إنْ كَانَ لا يَرْجُوكَ إلَّا مُحْسِنٌ
فَمَنِ الَّذِي يَرْجُو الْمُسِئُ الْمُجْرِمُ
مَالِي إِلَيْكَ وَسِيلَةٌ إِلَّا الرَّجَا
وَجَمِيلُ عَفْوِكَ ثُمَّ أَنّي مُسْلِمٌ
Ya Allah, jika dosa-dosaku teramat sangat banyak
          Namun saya tahu bahwa pintu maaf-Mu lebih besar
Saya berdoa kepada-Mu dengan penuh tadlarru’ (berendah diri) sebagaimana yang Engkau perintahkan
          Lalu jika Engkau menolak tangan permohonanku, lalu siapa yang akan merahmatiku
Jika yang memohon kepa-Mu hanya orang yang baik-baik saja,
          Lalu kepada siapakah orang yang jahat akan memohon
Saya tidak mempunyai wasilah kepada-Mu kecuali hanya sebuah pengharapan
          Juga bagusnya pintu maaf-Mu kemudian saya pun seorang yang muslim/berserah diri
Semoga Allah menerima taubatnya dan memaafkan kesalahannya, karena bagaimanapun juga dia mengakhiri kehidupannya dengan taubat kepada Allah. Dan semoga kisah yang diceritakan Ibnu Khalikan rahimahullah dalam Wafayatul-A’yaan (2/102) benar adanya dan menjadi kenyataan. Beliau menceritakan dari Muhammad bin Naafi’, ia berkata : ”Abu Nuwas adalah temanku, namun terjadi sesuatu yang menyebabkan antara aku dan dia tidak saling berhubungan sampai aku mendengar berita kematiannya. Pada suatu malam aku bermimpi bertemu dengannya. Kukatakan : ’Wahai Abu Nuwas, apa balasan Allah kepadamu ?’. Dia menjawab : ’Allah mengampuni dosaku karena beberapa bait syair yang kutulis saat aku sakit sebelum wafat. Syair itu berada di bawah bantalku’. Maka saya pun mendatangi keluarganya dan menanyakan bantal tidurnya dan akhirnya kutemukan secarik kertas bertuliskan : .... (lalu beliau menyebutkan bait syair di atas”.
[Lihat tentang Abu Nuwas dengan agak terperinci pada Al-Bidaayah wan-Nihaayah, karangan Al-Haafidh Ibnu Katsir, 14/64-86 dan Wafaayatul-A’yaan, 2/95-104].
Siapakah Harun Ar-Rasyid ?
Setelah mengetahui sekelumit tentang Abu Nuwas, marilah kita beranjak untuk membahas siapakah sebenarnya Khalifah Harun Ar-Rasyid.
Beliau adalah Amiirul-Mukminiin Harun Ar-Rasyid bin Mahdi Al-Qurasyi Al-Hasyimiy. Beliau adalah salah satu Khalifah Bani ’Abbasiyyah, bahkan pada masa beliaulah Bani ’Abbasiyyah mencapai jaman keemasannya.
Beliau dikenal sebagai seorang raja yang dekat dengan ulama, menghormati ilmu, dan banyak beribadah serta berjihad. Disebutkan dalam berbagai kitab sejarah yang terpercaya bahwa beliau selalu berhaji pada suatu tahun dan tahun berikutnya berjihad. Begitu seterusnya.
Al-Haafidh Ibnu Katsir rahimahullah berkata : ”Perjalanan hidup beliau sangat bagus. (Beliau) seorang raja yang paling banyak berjihad dan menunaikan ibadah haji. Setiap hari beliau bershadaqah dengan hartanya sendiri sebanyak seribu dirham. Kalau pergi berhaji, beliau juga menghajikan seratus ulama dan anak-anak mereka. Dan apabila beliau tidak pergi haji, maka beliau menghajikan tiga ratus orang. Beliau suka sekali bershadaqah. Beliau mencintai para ulama dan pujangga. Cincin beliau bertuliskan kalimat Laa ilaaha illallaah. Beliau mengerjakan shalat setiap harinya seratus raka’at sampai meninggal dunia. Hal ini tidak pernah beliau tinggalkan kecuali kalau sedang sakit” [Al-Bidaayah wan-Nihaayah, 14/28].
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata : ”’Amar bin Laits Al-Wasithi berkata : Saya mendengar Fudlail bin ’Iyadl berkata : ’Tidak ada kematian seorang pun yang lebih memukul diriku melebihi kematian Amirul-Mukminin Harun Ar-Rasyid. Sungguh saya ingin seandainya Allah menambah umurnya dengan sisa umurku’. Berkata ’Ammar : Perkataan beliau ini terasa berat bagi kami. Namun ketika Harun telah meninggal dunia, muncullah fitnah. Khalifah setelahnya, yaitu Al-Makmun, memaksa manusia untuk meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Saat itu kami mengatakan : ’Syaikh (Fudlail) lebih mengetahui tentang apa yang beliau katakan”.
Beliau sangat keras terhadap orang yang menyimpang dari sunnah dan berusaha menentangnya. Pada suatu saat, Abu Mu’awiyyah menceritakan kepada beliau sebuah hadits dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu bahwa Nabi Adam dan Nabi Musa ’alaihimas-salam berdebat. Maka paman Khalifah Harun Ar-Rasyid rahimahullah berkata : ”Wahai Abu Mu’awiyyah, kapan keduanya bertemu ?”. Maka Khalifah sangat marah seraya berkata : ”Apakah engkau menentang hadits Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ? Ambilkan sebilah pedang dan tempat pemotongan kepala”. Maka segeralah yang beliau minta itu didatangkan. Orang-orang yang hadir saat itu pun memintakan maaf untuk paman beliau tersebut. Berkatalah Harun Ar-Rasyid : ”Ini adalah perbuatan zindiq”. Akhirnya, beliau memerintahkan untuk memenjarakannya.
Sebagian orang juga pernah bercerita : ”Saya masuk menemui Harun Ar-Rasyid dan saat itu ada seseorang yang barusan dipenggal kepalanya, dan algojo sedang membersihkan pedangnya. Maka Harun Ar-Rasyid berkata : ’Saya membunuhnya karena dia berkata bahwa Al-Qur’an adalah makhluk”.
Beliau sangat mencintai nasihat yang mengingatkan diri pada hari akhirat. Al-Ashma’i berkata : ”Pada satu hari, Harun Ar-Rasyid memanggilku. Saat itu dia menghiasi istana, membuat hidangan yang banyak dan lezat. Lalu dia memanggil Abul-Atahiyyah, lalu Harun berkata kepadanya : ’Sifatilah kenikmatan dan kesenangan hidup kami’. Maka Abul-Atahiyyah menyenandungkan sebuah syair :
عِشْ مَا بَدَا لَكَ سَالِماً
فَي ظِلِّ شَاهِقَةِ الْقُصُورِ
تَسْعَى عَلَيكَ بِمَا اشْتَهَيْتَ
لَدَى الرَّوَاحِ إِلَى الْبُكُورِ
فَإِذَا النُّفُوسُ تَقَعْقَعَتْ
عَنْ ضِيقِ حَشْرَجَةِ الصُّدُورِ
فَهُنَاكَ تَعْلَمُ مُوقِناً
مَا كُنْتَ إِلَّا فِي غُرُورٍ
Hiduplah semaumu
          Di bawah naungan istana nan megah
Engkau berusaha mendapatkan apa yang engkau senangi
          Baik pada waktu sore maupun pagi
Namun, apabila jiwa tersengal-sengal
          Karena sempitnya pernapasan dalam dada
Saat itu barulah engkau yakin
          Bahwa selama ini engkau sedang tertipu
Harun Ar-Rasyid pun langsung menangis sejadi-jadinya, sehingga Fadhl bin Yahya berkata : ”Amirul-Mukminin memanggilmu agar engkau bisa membuatnya senang, tetapi engkau malah membuatnya susah”. Maka Harus Ar-Rasyid berkata : ”Biarkan dia. Dia melihat kita sedang dalam keadaan kebutaan dan dia tidak ingin kita makin buta”.
Suatu saat lainnya, Harun Ar-Rasid memanggil Abul-Atahiyyah, lalu berkata : ”Nasihatilah saya dengan sebuah bait syair”. Maka Abul-Atahiyyah berkata :
لَا تَأْمَنِ الْمَوتَ فِي طَرَفٍ وَلَا نَفَسٍ
وَلَوْ تَمَتَّعْتَ بِالْحِجَابِ وَالْحَرَاسِ
وَاعْلَمْ بِأَنَّ سِهَامَ الْمَوتِ صَائِبَةٌ
لِكُلِّ مُدْرِعٍ مِنْهَا وَمُتْرِسٍ
تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكاهَا
إِنَّ السَّفِينَةَ لَا تَجْرِي عَلَى الْيَبِسِ
Jangan engkau merasa aman dari kematian sekejap matapun
          Meskipun engkau mempunyai para penjaga dan para pasukan
Ketahuilah bahwa panah kematian pasti akan tepat sasaran
          Meskipun bagi yang membentengi diri darinya
Engkau ingin selamat namun tidak mau mengikuti jalannya
          Bukankah sebuah kapal tidak akan mungkin berlayar di tempat yang kering
Begitu mendengarnya, Harun Ar-Rasyid pun langsung jatuh pingsan.
Inilah sekilas tentang kehidupan Khalifah Harun Ar-Rasyid, meskipun kita mengakui bahwa sebagai manusia biasa beliau pun banyak memiliki cacat dan kemaksiatan. Namun keutamaan dan kebaikan beliau jauh melebihi cacat yang beliau kerjakan. Sampai-sampai Syaikh Abu Syauqi Khalil menulis kitab yang berjudul Harun-Ar-Rasyid Amirul-Khulafaa’ wa Ajallu Mulukid-Dunya (Harun Ar-Rasyid Pemimpin Para Khalifah dan Raja Dunia Teragung) yang mana kitab ini banyak dipuji oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam beberapa tempat di dalam kitab Kutubun Hadzdzara Minhal-’Ulama.
[Lihat keterangan kehidupan Harun Ar-Rasyid dengan agak terperinci pada Al-Bidaayah wan-Nihaayah, 14/27-48 dan Siyaru A’lamin-Nubalaa’, 8/183-188].
Wallaahu a’lam.
Ditulis ulang oleh Abul-Jauzaa’ dari makalah Al-Ustadz Ahmad Sabiq yang termuat dalam Majalah Al-Furqon, Edisi 05, Tahun ke-8, 1429/2008, hal. 54-57; dengan sedikit perbaikan dan perubahan kalimat tanpa merubah inti tulisan. Jazaahullaahu khairan-katsiiran.

الاثنين، ٢١ مايو ٢٠١٢

Wong Fei Hung Ternyata Ulama dan Pendekar Sekaligus Tabib

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin. (kaskus.us)

الأحد، ٢٩ أبريل ٢٠١٢

Istilah dan Sejarah Gender

Istilah gender baru didengar dan diperdengarkan serta “diperjuangkan” sejak pertengahan abad lalu (abad XX). Gender diperkenalkan pertama kali oleh sekelompok orang yang menamakan diri sebagai gerakan pembela perempuan dari London. Gerakan ini memperkenalkan “Gender Discourse”. Istilah gender sendiri bukanlah jenis kelamin (sex), tapi gender adalah peran yang diakibatkan dari jenis kelamin seseorang (laki-laki atau perempuan). Memang tak bisa dipungkiri peran ini tentu akan berbeda dari masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Biasanya merujuk pada kepatutan dan etika sosial yang berlaku di sebuah masyarakat. Tapi, Islam memberikan rambu-rambu besar dalam masalah ini. Ada banyak hal yang dibiarkan tetap global supaya rinciannya disesuaikan dengan keadaan.
Istilah gender baru didengar dan diperdengarkan serta “diperjuangkan” sejak pertengahan abad lalu (abad XX). Gender diperkenalkan pertama kali oleh sekelompok orang yang menamakan diri sebagai gerakan pembela perempuan dari London. Gerakan ini memperkenalkan “Gender Discourse”. Istilah gender sendiri bukanlah jenis kelamin (sex), tapi gender adalah peran yang diakibatkan dari jenis kelamin seseorang (laki-laki atau perempuan). Memang tak bisa dipungkiri peran ini tentu akan berbeda dari masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Biasanya merujuk pada kepatutan dan etika sosial yang berlaku di sebuah masyarakat. Tapi, Islam memberikan rambu-rambu besar dalam masalah ini. Ada banyak hal yang dibiarkan tetap global supaya rinciannya disesuaikan dengan keadaan.
Adapun di Indonesia, sejarah gender tak bisa dilepaskan dari kisah emansipasi perempuan, pembebasan perempuan dari keterkungkungan dan perjuangan meraih persamaan hak dan kesetaraan dengan laki-laki. Secara personal emansipasi ini mencuat dengan diterbitkannya surat-surat pribadi RA Kartini dengan istri Gubernur Hindia Belanda di Indonesia, Abendanon antara tahun 1899-1904 M. Terbitan dalam Bahasa Belanda itu diberi judul ”Door Duisternis tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang) dicetak sebanyak lima kali sejak tahun 1911 M. Dan pada tahun 1912 M Gubernur Van Deventer mendirikan “Jam’iyah Kartini”[1].
Geliat emansipasi perempuan ini kemudian dilanjutkan secara berkelompok dan dalam Aisyiyah Muhammadiyah (1917 M), Fatayat NU (1950 M), dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) (1954 M) sebuah under bow PKI.
Gerakan emansipasi perempuan ini mengalami perubahan orientasi dari sekedar menuntut hak pendidikan, kesehatan dan kehidupan yang laik, menjadi sebuah arus feminis. Yaitu gerakan yang menuntut penyetaraan dan persamaan mutlak antara kaum laki-laki dan perempuan. Terutama pasca berlangsungnya Konferensi Perempuan Internasional I di Meksiko pada tahun 1975 M.
Gerakan feminisme ini menjadi sangat liberal dengan berkembangnya aliran liberal di Indonesia. Terutama pasca euforia kebebasan setelah runtuhnya rezim Soeharto (1998 M).
Sasaran Penyetaraan Gender
Jika yang menjadi target gerakan feminisme liberal yang terselubung dalam slogan penyetaraan gender adalah perempuan, maka termasuk di dalamnya –juga- anak-anak dan rumah tangga. Jangka panjangnya adalah merusak tatanan sosial masyarakat Islam. Lihat saja –misalnya- CEDAW (The Convention on the Elimination af All Form of Discrimination Againts Women). Kesepakatan ini memuat 30 materi yang terbagi menjadi 6 pokok tema; mengatur segala hal perbedaan perlakuan yang berkaitan dengan perempuan, langkah-langkah apa saja untuk menghilangkan dan menghapuskan diskriminasi tersebut, kemudian membicarakan hak-hak pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan, perilaku seksual, hak bekerja, perlindungan dalam rumah tangga, perkawinan. Selain menjelaskan tatacara merealisasikan kesepakatan ini, diatur juga bentuk pengawasan bersama baik dari pemerintah maupun NGO untuk berkomitmen menghapuskan segala bentuk perbedaan perlakuan dan diskriminasi terhadap perempuan [2].
Wacana yang semakin bebas juga dimasukkan dalam meja-meja keputusan di lingkungan PBB. Orientasi seksual dibebaskan. Pernikahan tak lagi dibatasi hanya terjadi antara dua jenis manusia, tapi memungkinkan untuk dilakukan dengan sesama jenis. Kriminalisasi terhadap homoseks dan lesbian akan menjadi pengekangan dan permusuhan terhadap HAM [3].
Tema-Tema yang Ditarget Para Pejuang Gender
Asal kejadian manusia. Bahwa sangat diskriminatif jika dikatakan bahwa Adam adalah manusia pertama. Klaim yang disosialisasikan adalah bahwa “nafsun wahidah” lah yang pertama kali diciptakan Allah, dan buka laki-laki.
Tema perwalian dan mahar dalam nikah. Adanya perwalian dan mahar dalam pernikahan, merupakan bentuk diskriminasi lain yang harus diamandemen aturannya.
Masalah thalaq. Talak yang diklaim sebagai bentuk lain hegemoni laki-laki atas perempuan juga tak luput dari sasaran target. Karena hak talak antara suami (laki-laki) dan istri (perempuan) tidaklah sama.
Hijab/Jilbab. Menutup aurat yang menjadi salah satu tanda iffah dan usaha merealisasikan ketakwaan. Namun, kewajiban kaum muslimah ini didesakralisasi dengan meluaskan wilayah khilafiyah dari yang sudah maklum; yaitu antara wajah dan kedua telapak tangan. Kemudian diperluas menjadi redefinisi dan pembatasan aurat perempuan (di depan publik dan laki-laki yang bukan suami atau mahramnya) menjadi lebih luas dari itu; bukan hanya sekedar wajah dan dua telapak tangan.
Warits. Satu-satunya wacana klasik yang diperdebatkan dalam masalah ini adalah bahwa dalam masalah perwarisan perempuan mendapatkan jatah setengah bagian laki-laki. Padahal warisan adalah sebuah sistem komprehensif dab tidak boleh dipahami dan dilaksanakan secara parsial saja. Hanya ada 4 kondisi saat itu perempuan menerima setengah bagian laki-laki. Ada 8 kondisi saat itu perempuan menerima bagian sempurna seperti laki-laki. Ada 10 kondisi saat itu perempuan menerima bagian lebih banyak dari laki-laki. Bahkan ada beberapa kondisi saat itu perempuan menerima bagian, sementara laki-laki tidak mendapatkannya.
Poligami. Adapun poligami yang dihalalkan Allah disosialisasikan untuk diperangi, sebagai bentuk perbudakan dan perlakuan tidak adil yang dialami perempuan. Karena perempuan tidak diperbolehkan memiliki pasangan lebih dari satu. Sebuah upaya untuk menutupi perilaku selingkuh dan perzinahan. Hal ini memanfaatkan sisi emosional para perempuan yang memang sangat sedikit atau bahkan tak ada yang bersedia diduakan.
Kepemimpinan (qawwamah). Pembahasan kepemimpinan lokal dalam skup rumah tangga yang diluaskan seolah menjadi genderang perang terhadap Al-Quran yang diklaim menutup hak politik dan publik para perempuan.
Persaksian perempuan. Sama seperti poin-poin sebelumnya, perlakuan tak adil (diskriminatif) terhadap perempuan dalam masalah persaksian sama halnya seperti menempatkan perempuan sebagai setengah manusia.
Pendekatan yang Dilakukan
Hermeneutika
Kritik sastra
Pendekatan sejarah dan kebahasaan al-Quran
Pendekatan sosiologis dan antropologis
Pendekatan psikologis
Penutup
Semoga pengantar singkat ini bermanfaat dan bisa dilanjutkan lebih dalam di forum dialog, untuk menghasilkan masukan-masukan konstruktif yang lebih aplikatif dan mudah dipahami serta dilaksanakan.
(joe_zagazig/SCC/hdn)
—
Catatan Kaki:
[1] M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (1200 – 2008 M), Jakarta: Serambi, Cet. I, November 2008
[2] United Nations, The CEDAW and its Optinal Protocol-Handbook for Parlimentarians, Switzerland, 2003,  p. 9, 13
[3] International Commision of Jurists, Sexual Orientation, Gender Identity and International Human Rights Law-Practitioners Guide No. 4, Geneva, 2009, p. 52, 53


Sumber: http://m.dakwatuna.com/2012/02/18855/diskursus-gender-dalam-al-quran/#ixzz1tU52ZhpEAdapun di Indonesia, sejarah gender tak bisa dilepaskan dari kisah emansipasi perempuan, pembebasan perempuan dari keterkungkungan dan perjuangan meraih persamaan hak dan kesetaraan dengan laki-laki. Secara personal emansipasi ini mencuat dengan diterbitkannya surat-surat pribadi RA Kartini dengan istri Gubernur Hindia Belanda di Indonesia, Abendanon antara tahun 1899-1904 M. Terbitan dalam Bahasa Belanda itu diberi judul ”Door Duisternis tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang) dicetak sebanyak lima kali sejak tahun 1911 M. Dan pada tahun 1912 M Gubernur Van Deventer mendirikan “Jam’iyah Kartini”[1].
Geliat emansipasi perempuan ini kemudian dilanjutkan secara berkelompok dan dalam Aisyiyah Muhammadiyah (1917 M), Fatayat NU (1950 M), dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) (1954 M) sebuah under bow PKI.
Gerakan emansipasi perempuan ini mengalami perubahan orientasi dari sekedar menuntut hak pendidikan, kesehatan dan kehidupan yang laik, menjadi sebuah arus feminis. Yaitu gerakan yang menuntut penyetaraan dan persamaan mutlak antara kaum laki-laki dan perempuan. Terutama pasca berlangsungnya Konferensi Perempuan Internasional I di Meksiko pada tahun 1975 M.
Gerakan feminisme ini menjadi sangat liberal dengan berkembangnya aliran liberal di Indonesia. Terutama pasca euforia kebebasan setelah runtuhnya rezim Soeharto (1998 M).
Sasaran Penyetaraan Gender
Jika yang menjadi target gerakan feminisme liberal yang terselubung dalam slogan penyetaraan gender adalah perempuan, maka termasuk di dalamnya –juga- anak-anak dan rumah tangga. Jangka panjangnya adalah merusak tatanan sosial masyarakat Islam. Lihat saja –misalnya- CEDAW (The Convention on the Elimination af All Form of Discrimination Againts Women). Kesepakatan ini memuat 30 materi yang terbagi menjadi 6 pokok tema; mengatur segala hal perbedaan perlakuan yang berkaitan dengan perempuan, langkah-langkah apa saja untuk menghilangkan dan menghapuskan diskriminasi tersebut, kemudian membicarakan hak-hak pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan, perilaku seksual, hak bekerja, perlindungan dalam rumah tangga, perkawinan. Selain menjelaskan tatacara merealisasikan kesepakatan ini, diatur juga bentuk pengawasan bersama baik dari pemerintah maupun NGO untuk berkomitmen menghapuskan segala bentuk perbedaan perlakuan dan diskriminasi terhadap perempuan [2].
Wacana yang semakin bebas juga dimasukkan dalam meja-meja keputusan di lingkungan PBB. Orientasi seksual dibebaskan. Pernikahan tak lagi dibatasi hanya terjadi antara dua jenis manusia, tapi memungkinkan untuk dilakukan dengan sesama jenis. Kriminalisasi terhadap homoseks dan lesbian akan menjadi pengekangan dan permusuhan terhadap HAM [3].
Tema-Tema yang Ditarget Para Pejuang Gender
Asal kejadian manusia. Bahwa sangat diskriminatif jika dikatakan bahwa Adam adalah manusia pertama. Klaim yang disosialisasikan adalah bahwa “nafsun wahidah” lah yang pertama kali diciptakan Allah, dan buka laki-laki.
Tema perwalian dan mahar dalam nikah. Adanya perwalian dan mahar dalam pernikahan, merupakan bentuk diskriminasi lain yang harus diamandemen aturannya.
Masalah thalaq. Talak yang diklaim sebagai bentuk lain hegemoni laki-laki atas perempuan juga tak luput dari sasaran target. Karena hak talak antara suami (laki-laki) dan istri (perempuan) tidaklah sama.
Hijab/Jilbab. Menutup aurat yang menjadi salah satu tanda iffah dan usaha merealisasikan ketakwaan. Namun, kewajiban kaum muslimah ini didesakralisasi dengan meluaskan wilayah khilafiyah dari yang sudah maklum; yaitu antara wajah dan kedua telapak tangan. Kemudian diperluas menjadi redefinisi dan pembatasan aurat perempuan (di depan publik dan laki-laki yang bukan suami atau mahramnya) menjadi lebih luas dari itu; bukan hanya sekedar wajah dan dua telapak tangan.
Warits. Satu-satunya wacana klasik yang diperdebatkan dalam masalah ini adalah bahwa dalam masalah perwarisan perempuan mendapatkan jatah setengah bagian laki-laki. Padahal warisan adalah sebuah sistem komprehensif dab tidak boleh dipahami dan dilaksanakan secara parsial saja. Hanya ada 4 kondisi saat itu perempuan menerima setengah bagian laki-laki. Ada 8 kondisi saat itu perempuan menerima bagian sempurna seperti laki-laki. Ada 10 kondisi saat itu perempuan menerima bagian lebih banyak dari laki-laki. Bahkan ada beberapa kondisi saat itu perempuan menerima bagian, sementara laki-laki tidak mendapatkannya.
Poligami. Adapun poligami yang dihalalkan Allah disosialisasikan untuk diperangi, sebagai bentuk perbudakan dan perlakuan tidak adil yang dialami perempuan. Karena perempuan tidak diperbolehkan memiliki pasangan lebih dari satu. Sebuah upaya untuk menutupi perilaku selingkuh dan perzinahan. Hal ini memanfaatkan sisi emosional para perempuan yang memang sangat sedikit atau bahkan tak ada yang bersedia diduakan.
Kepemimpinan (qawwamah). Pembahasan kepemimpinan lokal dalam skup rumah tangga yang diluaskan seolah menjadi genderang perang terhadap Al-Quran yang diklaim menutup hak politik dan publik para perempuan.
Persaksian perempuan. Sama seperti poin-poin sebelumnya, perlakuan tak adil (diskriminatif) terhadap perempuan dalam masalah persaksian sama halnya seperti menempatkan perempuan sebagai setengah manusia.
Pendekatan yang Dilakukan
Hermeneutika
Kritik sastra
Pendekatan sejarah dan kebahasaan al-Quran
Pendekatan sosiologis dan antropologis
Pendekatan psikologis
Penutup
Semoga pengantar singkat ini bermanfaat dan bisa dilanjutkan lebih dalam di forum dialog, untuk menghasilkan masukan-masukan konstruktif yang lebih aplikatif dan mudah dipahami serta dilaksanakan.
(joe_zagazig/SCC/hdn)
—
Catatan Kaki:
[1] M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (1200 – 2008 M), Jakarta: Serambi, Cet. I, November 2008
[2] United Nations, The CEDAW and its Optinal Protocol-Handbook for Parlimentarians, Switzerland, 2003,  p. 9, 13
[3] International Commision of Jurists, Sexual Orientation, Gender Identity and International Human Rights Law-Practitioners Guide No. 4, Geneva, 2009, p. 52, 53


Sumber: http://m.dakwatuna.com/2012/02/18855/diskursus-gender-dalam-al-quran/#ixzz1tU52ZhpE

السبت، ٢١ أبريل ٢٠١٢

RA Kartini Dalam Pengaruh Pemikiran Yahudi, Theosofi dan Pluralisme

Kebanyakan orang yang menjadikan Kartini sebagai ikon perjuangan perempuan Indonesia, tak melihat sisi lain dari pemikirannya yang sangat berbau Theosofi dan kebatinan. Padahal, banyak tokoh wanita lain yang hidup semasa dengannya, yang berjuang secara nyata dalam dunia pendidikan, bukan dalam wacana surat menyurat seperti yang dilakukan Kartini. 

TANGGAL 21 April dikenal sebagai Hari Kartini. Hampir semua perempuan di Indonesia, termasuk kaum muslimah, yang ikut-ikutan memperingati hari tersebut tanpa mengetahui latar belakang sejarahnya yang jelas. Siapa sesungguhnya Kartini? Siapa orang-orang yang mempengaruhinya? Bagaimana corak pemikirannya?

Peringatan Hari Kartini sering diikuti beragam acara yang mengedepankan emansipasi perempuan, kesetaraan gender, perjuangan feminisme, dan lain-lain. Kartini, dianggap sebagai ikon bagi perjuangan perempuan dalam persoalan tersebut. Kartini sering disebut sebagai ikon pendobrak bagi kemajuan perempuan Indonesia dan diakui secara resmi oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 108 tahun 1964.

Kartini lahir di desa Mayong, sebelah barat Kota Kudus, Kabupaten Jepara. Sebagai anak seorang bupati, Kartini hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Saat kecil, Kartini dimasukkan ke sekolah elit orang-orang Eropa, Europese Lagere School (ELS) dari tahun 1885-1892. Di sekolah ini, Kartini banyak bergaul dengan anak-anak Eropa.

Sebagai keluarga priyayi Jawa, kultur mistis dan kebatinan begitu melekat di lingkungan tempat tinggalnya. Namun bagi Kartini, ikatan adat istiadat yang telah berurat akar dalam itu, dianggap mengekangnya sebagai perempuan. Setelah tamat dari sekolah ELS Kartini memasuki masa pingitan. Sementara itu, Kartini merasakan betul betapa haknya mendapatkan pendidikan secara utuh dibatasi. Di luar, ia melihat pendidikan Barat-Eropa begitu maju.

Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi, seperti J. H Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri, seorang humanis yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini. Ny Abendanon Mandri adalah seorang wanita kelahiran Puerto Rico dan berdarah Yahudi.
…Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini…
Tokoh lain yang berhubungan dengan Kartini adalah, H. H Van Kol (Orang yang berwenang dalam urusan jajahan untuk Partai Sosial Demokrat di Belanda), Conrad Theodore van Daventer (Anggota Partai Radikal Demokrat Belanda), K. F Holle (Seorang Humanis), dan Christian Snouck Hurgronye (Orientalis yang juga menjabat sebagai Penasihat Pemerintahan Hindia Belanda), dan Estella H Zeehandelar, perempuan yang sering dipanggil Kartini dalam suratnya dengan nama Stella. Stella adalah wanita Yahudi pejuang feminisme radikal yang bermukim di Amsterdam. Selain sebagai pejuang feminisme, Estella juga aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP).

Kartini berkorespondensi dengan Stella sejak 25 Mei 1899. Dengan perantara iklan yang di tempatkan dalam sebuah majalah di Belanda, Kartini berkenalan dengan Stella. Kemudian melalui surat menyurat, Stella memperkenalkan Kartini dengan berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme.

Dalam sebuah suratnya kepada Ny Nellie Van Koll pada 28 Juni 1902, Stella mengakui sebagai seorang Yahudi dan mengatakan antara dirinya dan Kartini mempunyai kesamaan pemikiran tentang Tuhan. Stella mengatakan,”Kartini dilahirkan sebagai seorang Muslim, dan saya dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Meskipun demikian, kami mempunyai pikiran yang sama tentang Tuhan. ”

Dr Th Sumarna dalam bukunya ”Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini” menyatakan ada surat-surat Kartini yang tak diterbitkan oleh Ny. Abendanon Mandri, terutama surat-surat yang berkaitan dengan pengalaman batin Kartini dalam dunia okultisme (kebatinan dan mistis). Entah dengan alasan apa, surat-surat tersebut tak diterbitkan. Ny Abendanon hanya menerbitkan kumpulan surat Kartini yang diberi judul ”Door Duisternis tot Licht" (Habis Gelap Terbitlah Terang). Keterangan mengenai kepercayaan Kartini terhadap okultisme hanya didapat dari surat-suratnya yang ditujukan kepada Stella dan keluarga Van Kol. Seperti diketahui, okultisme banyak diajarkan oleh jaringan Freemasonry dan Theosofi, sebagai bagian dari ritual perkumpulan mereka.

Nama-nama lain yang menjadi teman berkorespondensi Kartini adalah Tuan H. H Van Kol, Ny Nellie Van Kol, Ny M. C. E Ovink Soer, E. C Abendanon (anak J. H Abendanon), dan Dr N Adriani (orang Jerman yang diduga kuat sebagai evangelis di Sulawesi Utara). Kepada Kartini, Ny Van Kol banyak mengajarkan tentang Bibel, sedangkan kepada Dr N Adriani, Kartini banyak mengeritik soal zending Kristen, meskipun dalam pandangan Kartini semua agama sama saja.

Apakah korespondensi Kartini dengan para keturunan Yahudi penganut humanisme, yang juga diduga kuat sebagai aktivis jaringan Theosofi-Freemasonry, berperang penting dalam memengaruhi pemikiran Kartini? Ridwan Saidi dalam buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia menyebutkan, sebagai orang yang berasal dari keturunan priayi atau elit Jawa dan mempunyai bakat yang besar dalam pendidikan, maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu.
…maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu...
Dalam catatan Ridwan Saidi, orang-orang Belanda gagal mengajak Kartini berangkat studi ke negeri Belanda. Karena gagal, maka mereka menyusupkan ke dalam kehidupan Kartini seorang gadis kader Zionis bernama Josephine Hartseen. Hartseen, menurut Ridwan adalah nama keluarga Yahudi.

Siapa yang berperan penting merekatkan hubungan Kartini dengan para elit Belanda? Adalah Christian Snouck Hurgronje orang yang mendorong J.H Abendanon agar memberikan perhatian lebih kepada Kartini bersaudara. Hurgronje adalah sahabat Abendanon yang dianggap oleh Kartini mengerti soal-soal hukum agama Islam. Atas saran Hurgronje agar Abendanon memperhatikan Kartini bersaudara, sampailah pertemuan antara Abendanon dan Kartini di Jepara.

Sebagai seorang orientalis, aktivis Gerakan Politik Etis, dan penasihat pemerintah Hindia Belanda, Snouck Hurgronje juga menaruh perhatian kepada kepada anak-anak dari keluarga priyayi Jawa lainnya. Hurgronje berperan mencari anak-anak dari keluarga terkemuka untuk mengikuti sistem pendidikan Eropa agar proses asimilasi berjalan lancar.

Langkah ini persis seperti yang dilakukan sebelumnya oleh gerakan Freemasonry lewat lembaga ”Dienaren van Indie” (Abdi Hindia) di Batavia yang menjaring anak-anak muda yang mempunyai bakat dan minat untuk memperoleh beasiswa. Kader-kader dari ”Dienaren van Indie” kemudian banyak yang menjadi anggota Theosofi dan Freemasonry.

Pengaruh Theosofi dalam Pemikiran Kartini

Surat-surat Kartini kepada Ny. Abendanon, orang yang dianggap satu-satunya sosok yang boleh tahu soal kehidupan batinnya, dan surat-surat Kartini lainya para humanis Eropa keturunan Yahudi di era 1900-an sangat kental nuansa Theosofinya. Seperti ditulis dalam surat-suratnya, Kartini mengakui ada orang yang mengatakan bahwa dirinya tanpa sadar sudah masuk kedalam alam pemikiran Theosofi.

Bahkan, Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi. Selain itu, semangat pemikiran dan perjuangan Kartini juga sama sebangun dengan apa yang menjadi pemikiran kelompok Theosofi. Inilah yang kemudian, banyak para humanis yang menjadi sahabat karib Kartini begitu tertarik kepada sosok perempuan ini.
…Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi…
Kartini juga kerap mendapat kiriman buku-buku dari Ny Abendanon, yang di antaranya buku tentang humanisme, paham yang juga lekat dengan Theosofi dan Freemasonry. Diantara buku-buku yang dibaca Kartini adalah, Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier, Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens.

Berikut surat-surat Kartini yang sangat kental dengan doktrin-doktrin Theosofi:
”Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni. ” (Surat kepada Ny Abendanon, 14 Desember 1902).

”Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna..." (Surat Kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).

”Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain” (Surat 31 Januari 1903).

”Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain.” (Surat kepada E. C Abendanon, 31 Januari 1903).

”Ia tidak seagama dengan kita, tetapi tidak mengapa, Tuhannya, Tuhan kita. Tuhan kita semua.” (Surat Kepada H. H Van Kol 10 Agustus 1902).

”Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda, tetapi kesemuanya menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita juga mengabdi kepada Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan, dan kami sendiri menyebutnya Allah.” (Surat kepada Dr N Adriani, 24 September 1902).
…Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan pluralisme…
Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan pluralisme.

Mengenai keterkaitan dan hubungannya dengan Theosofi, Kartini mengatakan:

”Orang yang tidak kami kenal secara pribadi hendak membuat kami mutlak penganut Theosofi, dia bersedia untuk memberi kami keterangan mengenai segala macam kegelapan di dalam pengetahuan itu. Orang lain yang juga tidak kami kenal menyatakan bahwa tanpa kami sadari sendiri, kami adalah penganut Theosofi." (Surat Kepada Ny Abendanon, 24 Agustus 1902).

Hari berikutnya kami berbicara dengan Presiden Perkumpulan Theosofi, yang bersedia memberi penerangan kepada kami, lagi-lagi kami mendengar banyak yang membuat kami berpikir.” (Surat Kepada Nyonya Abendanon, 15 September 1902).

Sebagai orang Jawa yang hidup di dalam lingkungan kebatinan, gambaran Kartini tentang hubungan manusia dengan Tuhan juga sama: manunggaling kawula gusti. Karena itu, dalam surat-suratnya, Kartini menulis Tuhan dengan sebutan ”Bapak”. Selain itu, Kartini juga menyebut Tuhan dengan istilah ”Kebenaran”, ”Kebaikan”, ”Hati Nurani”, dan ”Cahaya”, seperti tercermin dalam surat-suratnya berikut ini:

”Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia.” (Surat kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).

”Kebaikan dan Tuhan adalah satu.” (Surat kepada Ny Nellie Van Kol, 20 Agustus 1902).
…Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat…
Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat. Inilah yang oleh kelompok Theosofi disebut sebagai upaya menyatukan antara ”Timur dan Barat”. Sebuah upaya yang banyak memikat para elit Jawa, terutama mereka yang sudah terbaratkan secara pemikiran.

Siti Soemandari, penulis biografi Kartini mengatakan, dalam beragama, Kartini kembali kepada akar-akar kejawennya atau apa yang disebut dengan ngelmu kejawen. Soemandari mempertegas, kepercayaan Kartini adalah gabungan antara iman Islam dan Kejawen. Atau dalam bahasa lain, keyakinan agama atau kepercayaan Kartini adalah sinkretisme yang berlandaskan pada pluralisme agama.
…Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung…
Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung oleh seorang Teosof bernama R. Musa dan kemudian menyebar di berabagai daerah di Jawa. Tercatat ada beberapa daerah yang berdiri Sekolah Kartini, yaitu Jatinegara (Jakarta), Semarang, Bogor, Madiun (1914), Cirebon, Malang (1916), dan Indramayu (1918).

Sebagai sekolah yang dikelola oleh para Teosof, ajaran tentang kebatinan, sinkretisme--atau sekarang lebih populer dengan istilah pluralisme-- juga tentang pembentukan watak dan kepribadian, lebih menonjol dalam pelajaran di sekolah-sekolah tersebut. Sekolah lain yang didirikan di berbagai daerah oleh kelompok Theosofi adalah Arjuna School, dengan muatan nilai-nilai pendidikan yang sama dengan Kartini School.

Tepatkah jika Kartini, berpikiran Barat dan berpaham Theosofi, dijadikan ikon bagi perjuangan kaum wanita pribumi?

Sejarah mencatat, ada banyak perempuan yang hidup sezaman dengan Kartini yang namanya begitu saja dilupakan dalam perannya memajukan pendidikan kaum hawa di negeri ini. Di antara nama itu adalah Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung yang juga berkiprah memajukan pendidikan kaum perempuan. Dewi Sartika tak hanya berwacana, tapi juga mendirikan lembaga pendidikan yang belakangan bernama Sakolah Kautamaan Istri (1910). Selain Dewi Sartika, ada Rohana Kudus, kakak perempuan Sutan Sjahrir, di Padang, Sumatera Barat, yang berhasil mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916).

Kartini, seperti yang tersirat dalam tulisan Prof Harsja W Bachtiar, adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia. Atau setidaknya, bahwa proses asimiliasi yang dilakukan kelompok humanis Belanda yang mengusung Gerakan Politik Etis pada masa kolonial, telah sukses melahirkan sosok yang Kartini yang ”tercerahkan” dengan pemikiran Barat
…Kartini adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia
Karena itu, Harsja menilai, sejarah harus jujur dan secara terbuka melihat jika memang ada orang-orang yang juga mempunyai peran penting seperti Kartini, maka orang-orang tersebut juga layak mendapat penghargaan serupa, tanpa menihilkan peran yang dilakukan oleh Kartini.

Soal sosok Kartini yang diduga menjadi ”mitos dan rekayasa” yang diciptakan oleh kolonialis juga menjadi perhatian sejarawan senior Taufik Abdullah. Ia menulis:

”Tak banyak memang ”pahlawan” kita resmi atau tidak resmi yang dapat menggugah keluarnya sejarah dari selimut mitos yang mengitari dirinya. Sebagian besar dibiarkan aman tenteram berdiam di alam mitos—mereka adalah ”pahlawan” dan selesai masalahnya. R. A Kartini adalah pahlawan tanpa henti membiarkan dirinya menjadi medan laga antara mitos dan sejarah. Pertanyaan selalu dilontarkan kepada selimut makna yang menutupinya. Siapakah ia sesungguhnya? Apakah ia hanya sekadar hasil rekayasa politik etis pemerintah kolonial yang ingin menjalankan politik asosiasi?”

Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional. Ny Eleanor Roosevelt, istri Presiden AS Franklin D Roosevelt memberikan pernyataan tentang perjuangan Kartini:

”Saya senang sekali memperoleh pandangan-pandangan yang tajam yang diberikan oleh surat-surat ini. Satu catatan kecil dalam surat itu, menurut saya merupakan sesuatu yang patut kita semua ingat. Kartini katakan: Kami merasa bahwa inti dari semua agama sama adalah hidup yang benar, dan bahwa semua agama itu baik dan indah. Akan tetapi, wahai umat manusia, apa yang kalian perbuat dengan dia? Daripada mempersatukan kita, agama seringkali memaksa kita terpisah, dan sedangkan gadis yang muda ini, menyadari bahwa ia harus menjadi kekuatan pemersatu”.
…Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional…
Siapa Ny. Eleanor Roosevelt? Dalam buku Decoding the Lost Symbol, Simon Cox menyebut Eleanor Roosevelt adalah aktivis organisasi the Star of East, sebuah organisasi yang berada di bawah kendali Freemasonry, yang menerima perempuan sebagai anggotanya. Di Batavia, organisasi the Star of East (Bintang Timur), pada masa lalu sangat mengakar dengan berdirinya loge Freemasonry, De Ster in het Oosten (Bintang Timur) di kawasan Weltevreden, yang sekarang berada di jalan Boedi Oetomo.

Jadi, masih mengidolakan Kartini? [Artawijaya/voa-islam.com]

الخميس، ١٢ أبريل ٢٠١٢

Abul-Hasan Al-Asy'ariy Bertaubat ke 'Aqidah Asy'ariyyah atau Salafiyyah?

Beliau adalah Abul-Hasan 'Aliy bin Ismaa'iil bin Abi Bisyr Ishaaq bin Saalim bin Ismaa'iil bin' Abdillah bin Muusaa bin Amir kota Bashrah, Bilaal bin Abi Burdah bin shahabat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam , Abu Muusaa 'Abdullah bin Qais bin Hadlaar Al-Asy'ariy Al-Yamaaniy Al-Bashriy. Ibnu 'Asaakir membawakan riwayat dengan sanadnya sampai Abu Bakr Al-Wazaan bahwa Abul-Hasan lahir pada tahun 260 H. Akan tetapi, ada ulama lain yang mengatakan tahun 270 H. Wafat pada tahun 324 H, sebagaimana dikatakan Ibnu Hazm [selengkapnya  lihat:Taariikh Baghdaad 13/260, Tabyiinul-Kadzibil-Muftariy , hal. 146, dan Siyaru A'laamin Nubalaa ' 15/85 no. 51] .
Abul-Hasan telah menghabiskan banyak umurnya tenggelam dalam ilmu kalam, dan menjadi tokohnya, dengan mengikuti madzhab Mu'tazillah. Akan tetapi Allah ta'ala telah memberikan kepadanya hidayah sehingga lihat madzhab Ahlus-Sunnah dan melaziminya.Bahkan setelah itu, beliau sangat aktif memberikan protes kepada madzhab yang telah ditinggalkannya itu.

Ibnu Katsiir rahimahulah berkata:
إن الأشعري كان معتزليا فتاب منه بالبصرة فوق المنبر, ثم أظهر فضائح المعتزلة وقبائحهم
"" Sesungguhnya Al-Asy'ariy dulunya seorang Mu'taziliy, lalu bertobat di kota Bashrah di atas mimbar. Kemudian ia menampakkan kebingungan dan kebobrokan Mu'tazilah "[ Al-Bidaayah wan-Nihaayah , 11/187].
Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata:
ولما برع في معرفة الاعتزال, كرهه وتبرأ منه, وصعد للناس, فتاب إلى الله تعالى منه, ثم أخذ يرد على المعتزلة, ويهتك عوارهم.
قال الفقيه أبو بكر الصيرفي: كانت المعتزلة قد رفعوا رؤوسهم, حتى نشأ الاشعري فحجرهم في أقماع السمسم
"Ketika telah pandai pengetahuannya akan madzhab Mu'tazilah, ia kemudian malah membencinya dan berlepas diri darinya. Dan tampillah ia di hadapan khalayak, lalu (mengumumkan) taubatnya kepada Allah ta'ala dari pahamnya kembali. Setelah itu, ia aktif membantah Mu'tazilah dan membongkar kebobrokan-kebobrokan mereka. Telah berkata Al-Faqiih Abu Bakr Ash-Shairafiy: 'Dulu (orang-orang) Mu'tazilah mendongakkan kepala-kepala mereka, sampai muncullah Al-Asy'ariy yang merintangi mereka di lubang semut (sehingga 'keok ') "[ As- Siyar , 15/86].
Ibnu 'Asaakir rahimahullah berkata:
وذكر أبو القسم حجاج بن محمد الطرابلسي من أهل طرابلس المغرب قال سألت أبا بكر اسماعيل بن ابي محمد بن اسحق الأزدي القيراوني المعروف بإبن عزرة رحمه الله عن أبي الحسن الأشعري رحمه الله فقلت له قيل لي عنه إنه كان معتزليا وإنه لما رجع عن ذلك أبقى للمعتزلة نكتا لم ينقضها فقال لي الأشعري شيخنا وإمامنا ومن عليه معولنا قام على مذاهب المعتزلة أربعين سنة وكان لهم إماما ثم غاب عن الناس في بيته خمسة عشر يوما فبعد ذلك خرج إلى الجامع فصعد المنبر وقال معاشر الناس إني إنما تغيبت عنكم في هذه المدة لأني نظرت فتكافأت عندي الأدلة ولم يترجح عندي حق على باطل ولا باطل على حق فاستهديت الله تبارك وتعالى فهداني إلى إعتقاد ما أودعته في كتبي هذه وانخلعت من جميع ما كنت إعتقده كما انخلعت من ثوبي هذا وإنخلع من ثوب كان عليه ورمى به ودفع الكتب إلى الناس ...... .......
"Abul-Qaasim Hajjaaj bin Muhammad Ath-Tharaabulsiy dari kalangan penduduk Tharaablus, Maghrib, berkata: Aku pernah bertanya kepada Abu Bakr Ismaa'iil bin Abi Muhammad bin Ishaaq Al-Azdiy Al-Qairaawaniy yang dikenal dengan nama Ibnu 'Azrah rahimahullahtentang Abul- Hasan Al-Asy'ariy rahimahullah . Aku katakan kepadanya: 'Telah dikatakan kepadaku bahwasannya Abul-Hasan dulunya seorang Mu'taziliy. Dan ketika rujuk / kembali, ia meningalkan untuk Mu'tazilah permasalahan rinci yang tidak ia bahas? '. Ibnu 'Azrah berkata kepadaku:'' Asy'ariy adalah syaikh kami dan imam kami. Ia menganut madzhab Mu'tazilah selama empatpuluh tahun yang selama itu ia menjadi imam bagi mereka. Lalu tiba-tiba ia tidak menampakkan diri kepada khalayak (dan tinggal) di rumahnya selama limabelas hari. Setelah itu ia keluar menuju masjid jaami 'dan berdiri di atas mimbar. Ia berkata: ' Wahai manusia sekalian, sesungguhnya aku tidak menampakkan diri di hadapan kalian dalam beberapa hari ini karena aku meneliti. Banyak dalil terkumpul di sisiku, namun aku tidak bisa menimbang yang hak atas yang baathil dan yang baathil pada yang hak. Lalu aku memohon petunjuk kepada Allah tabaaraka wa ta'ala, lalu Ia pun memberikan kepadaku ke i'tiqad yang aku yakini dalam buku-bukuku ini. Aku menanggalkan seluruh 'aqidahku yang dulu (Mu'tazilah) sebagaimana aku lepaskan bajuku ini '. Lalu ia pun menanggalkan bajunya dan melemparkannya, dan memberikan beberapa bukunya kepada orang-orang .... "[ At-Tabyiin , hal. 39].
Sayyid Muhammad bin Muhammad Al-Husainiy Az-Zubaidiy rahimahullah yang terkenal dengan julukan Murtadlaa Al-Hanafiy , berkata:
أبو الحسن الأشعري أخذ الكلام عن شيخ أبي علي الجبائي شيخ المعتزلة, ثم فارقه لمنام رآه, ورجع عن الاعتزال وأظهر ذلك إظهارا, فصعد منبر البصرة يوم الجمعة ونادى بأعلى صوته: من عرفني فقد عرفني ومن لم يعرفني فأنا فلان بن فلان كنت أقول بخلق القرآن وإن الله لايرى في الدار الآخرة بالأبصار وإن العباد يخلقون أفعالهم وها أنا تائب من الغعتزال معتقدا الرد على المعتزلة, ثم شرع في الرد عليم والتصنيف على خلافهم, .......... قال ابن كثير: ذكروا للشيخ أبي الحسن الأشعري ثلاثة أحوال أولها حال الاعتزال التي رجع عنها ولا محالة والحال الثاني إثبات الصفات العقلية; وهي الحياة والعلم, والقدرة, والارادة, والسمع, والبصر, والكلام. زتأويل الخبرية كالوجة واليدين والقدم والساق ونحو ذلك, الحال الثالث إثبات ذلك كله من غير تكييف ولا تشبيه جريا على منوال السلف وهي طريقته في الإبانة التي صنفها آخرا
"Abul-Hasan Al-Asy'ariy mengambil ilmu kalam dari gurunya, Abu 'Aliy Al-Jubaaiy, pentolah Mu'tazilah. Lalu ia meninggalkannya karena mimpi yang ia lihat. Kemudian ia lihat dari Mu'tazilah dan menampakkan hal itu secara terang-terangan. Ia naik ke atas mimbar Bashrah di hari Jum'at dan menyerukan dengan suara yang lantang: ' Barangsiapa yang mengenalku, sungguh ia telah mengenalku. Dan barangsiapa yang belum mengenalku, maka aku adalah Fulaan bin Fulaan. Dulu aku pernah berkata Al-Qur'an itu makhluk, Allah tidak bisa dilihat di akhirat dengan penglihatan mata, dan manusia menciptakan perbuatannya sendiri. Sekarang aku bertobat dari 'aqidah Mu'tazilah dan (bahkan) membantah Mu'tazilah '. Kemudian ia mulai membantah Mu'tazilah dan menulis buku-buku tentangnya .... Berkata Ibnu Katsir: 'Disebutkan bahwa Abul-Hasan memiliki tiga kondisi (fase). Fase Pertama , fase Mu'tazilah yang telah ia tinggalkan secara total. Fase Kedua , menetapkan sifat 'AQLIYYAH Allah, yaitu dan Al-Kalaam (Berkata-kata). Namun ia men-ta'wil sifat khabariyyah seperti Al-wajh (Wajah), Al-Yadain (Dua Tangan), Al-Qadam(Kaki), As-Saaq (Betis), dan yang semisalnya. Fase Ketiga , menetapkan seluruh sifat Allah tanpa takyif , tasybiih , dan membiarkannya menurut metode / manhaj salaf. Dan itulah jalan yang ditempuhnya dalam Al-Ibaanah yang merupakan tulisannya terakhir kali "[Ittihaafus-Saadah Al-Muttaqiin , 2/3 - melaui perantaraan Abul-Hasan Al-Asy'ariy oleh Hammaad Al-Anshaariy - maktabah Saaid].
Adz-Dzahabiy menyepakati adanya tiga fase dalam diri Abul-Hasan, namun dengan bahasa berbeda:
فله ثلاثة أحوال: حال كان معتزليا, وحال كان سنيا في البعض دون البعض, و حال كان في غالب الأصول سنيا, وهو الذي علمناه من حاله
"Ia memiliki tiga kondisi (fase): Fase awal sebagai seorang Mu'tazilah, fase seorang Ahlus-Sunah dalam sebagian hal namun tidak di hal lainnya, dan fase secara umum ia berada di atas prinsip Ahlus-Sunnah. Itulah yang kami ketahui dari keadaannya "[ Al-'Arsy , 1/400].
Akan timbul pertanyaan menggelitik. Jika Abul-Hasan menyatakan rujuk dari 'aqidah Mu'tazilah, lantas dimana posisi lihat beliau yang paling akhir? Beberapa ulama (Asyaa'irah) menjelaskan rujuknya beliau ini pada keyakinan Ibnu Kullaab (atau disebut Fase Kullabiyyah). Jika merujuk pada perkataan Ibnu Katsiir di atas, maka fase Kullaabiyyah itu menetapkan sebagian sifat Allah, dan menta'wil sebagian yang lain. Fase Kullaabiyyah inilah yang kemudian mereka sebut sebagai fase Ahlus-Sunnah (dan selanjutnya inilah yang 'dianggap' sebagai madzhab Asyaa'irah), sekaligus fase terakhir dalam perjalanan kehidupan beliau rahimahullah . Mereka tidak mengakui fase setelah Kullabiyyah, sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsiir sebelumnya.
Ibnu 'Asaakir rahimahullah menukil perkataan Ibnu Abi Zaid Al-Qairawaaniy yang menggolongkan Ibnu Kullaab sebagai tokoh Ahlus-Sunnah:
والذي بلغنا إنه يتقلد السنة ويتولى الرد على الجهمية وغيرهم من أهل البدع يعني عبد الله بن سعيد بن كلاب
"Dan kabar yang sampai kepada kami bahwasanya ia adalah seorang yang mengikuti sunnah (= Ahlus-Sunnah) dan banyak membantah Jahmiyyah dan selain mereka dari kalangan ahlul-bida '. Ia adalah 'Abdullah bin Sa'iid bin Kullaab "[ At-Tabyiin , hal. 405].
Anyhow , kita tidak menerima begitu saja tanpa ada satu bukti kuat yang mendasari.Kebalikan dari pernyataan Ibnu Abi Zaid adalah Ibnu Khuzaimah sebagaimana dinukil Adz-Dzahabiy:
فقد كان أحمد بن حنبل من أشد الناس على عبد الله بن سعيد بن كلاب, وعلى أصحابه مثل الحارث وغيره.
"Ahmad bin Hanbal termasuk orang yang paling keras permusuhannya terhadap 'Abdullah bin Sa'iid bin Kullaab dan rekan-rekannya semisal Al-Haarits (Al-Muhaasibiy) dan yang lainnya "[ As-Siyar , 14/380].
Ibnu Khuzaimah adalah imam di jamannya [1] dan lebih dekat dengan jaman Ahmad bin Hanbal dibandingkan Ibnu 'Asaakir atau Ibnu Abi Zaid rahimahumullah . Ini sangat penting untuk diperhatikan karena Abul-Hasan Al-Asy'ariy sendiri berkata:
قولنا الذي نقول به, وديانتنا التي ندين بها, التمسك بكتاب ربنا عز وجل, وبسنة نبينا محمد صلى الله عليه وآله وسلم, وما روى عن الصحابة والتابعين وأئمة الحديث, ونحن بذلك معتصمون, وبما كان يقول به أبو عبد الله أحمد بن محمد بن حنبل - نضر الله وجهه ورفع درجته وأجزل مثوبته - قائلون, ولما خالف قوله مخالفون
"Kata kami yang kami berpendapat dengannya dan beragama dengannya adalah: Berpegang teguh kepada kitab Rabb kami 'azza wa jalla , sunnah Nabi kami shallallaahu 'alaihi wa aalihi wa sallam , dan apa yang diriwayatkan dari para shahabat, taabi'iin, dan para imam hadits . Kami berpegang teguh dengan itu semuanya. Dan juga pada pendapat yang dikatakan oleh Abu 'Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal - semoga Allah mencerahkan wajahnya, mengangkat derajatnya, dan membalasnya dengan pahala - dan menyelisihi orang-orang yang menyelisihi pendapatnya "[ Al-Ibaanah , hal. 8-9].
Abul-Hasan As-Subkiy rahimahullah pun mempersaksikan hal tersebut:
أبو الحسن الأشعري كبير أهل السنة بعد الإمام أحمد ابن حنبل وعقيدته وعقيدة الإمام أحمد رحمة الله واحدة لاشك في ذلك ولا ارتياب وبه صرح الأشعري في تصانيفه وذكره غير مامرة من أتن عقيدتي هي عقيدة الإمام المبجل أحمد بن حنبل هذه عبارة الشيخ أبي الحسن في غير موضع من كلامه
"Abul-Hasan Al-Asy'ariy termasuk pembesar Ahlus-Sunnah pasca Al-Imam Ahmad bin Hanbal. 'Aqidahnya dan' aqidah Al-Imaam Ahmad rahimahullah adalah satu . Tidak ada keraguan tentang hal itu. Al-Asy'ariy telah menjelaskannya dalam banyak tulisannya dan menyebutkannya berulang kali: ' 'Aqidahku adalah' aqidah Al-Imam Al-Mubajjal Ahmad bin Hanbal ' . Ini adalah ucapan Asy-Syaikh Abul-Hasan pada beberapa tempat (dalam bukunya) "[ Ath-Thabaqaat asy-Syaafi'iyyah - melaui perantaraan Abul-Hasan Al-Asy'ariyoleh Hammaad Al-Anshaariy - maktabah Saaid].
Selain Ibnu Khuzaimah, Ibnu Qudaamah Al-Maqdsiy Al-Hanbaliy rahimahumallah juga berkata:
ومن السنة هجران أهل البدع ومباينتهم وترك الجدال والخصومات في الدين وترك النظر في كتب المبتدعة والإصغاء إلى كلامهم وكل محدثة في الدين بدعة. وكل متسم بغير الإسلام والسنة مبتدع كالرافضة والجهمية والخوارج والقدرية والمرجئة والمعتزلة والكرام والكلابية ونظائرهم فهذه فرق الضلال وطوائف البدع أعاذنا الله منها
"Termasuk bagian dari sunnah adalah meninggalkan ahlul-bida ' dan menjauhi mereka.Tidak melakukan perdebatan dengan mereka di dalam agama, meninggalkan kitab-kitab yang berisi ajaran bid'ah dan tidak mendengar pembicaraan mereka. Dan setiap hal yang baru dalam agama adalah bid'ah. Setiap orang yang memakai fitur-fitur selain Islam dan sunnah adalah mubtadi ' , seperti: Raafidlah, Jahmiyyah, Khawaarij, Al-Qadariyyah, Murji'ah, Mu'tazilah, Karraamiyyah, Kullaabiyyah , dan yang semisal dengannya. Semua itu adalah kelompok yang sesat dan golongan ahlul-bida '. Kita berlindung kepada Allah darinya "[ Syarh Lum'atul-I'tiqaad li Ibni Qudaamah oleh Shaalih Al-Fauzaan, hal. 264-284].
Namun begitu, sebagaimana telah disebutkan, madzhab Ibnu Kullaab mengatur banyak sifat-sifat Allah yang lebih berkesesuaian dengan madzhab salaf. Ibnu Taimiyyahrahimahullah berkata:
عبد الله بن سعيد بن كلاب البصري الذي صنف مصنفات رد فيها على الجهمية والمعتزلة وغيرهم وهو من متكلمة الصفاتية .... وكان ممن اتبعه الحارث المحاسبي وأبو العباس القلانسي ثم أبو الحسن الأشعري.
"'Abdullah bin Sa'id bin Kullaab Al-Bashriy yang menulis banyak karangan yang membantah kelompok Jahmiyah, Mu'tazilah, dan yang lainnya, merupakan anggota kalam yang mengatur sifat-sifat Allah ( shifaatiyyah ) ..... Dan orang yang mengikutinya adalah Al-Haarits Al-Muhaasibiy, Abul-'Abbaas Al-Qalaanisiy, kemudian Abul-Hasan Al-Asy'ariy "[Majmuu 'Al-Fataawaa , 12/366].
Adz-Dzahabiy mengatakan tentangnya:
والرجل أقرب المتكلمين إلى السنة, بل هو في مناظريهم
"Seorang laki-laki ahli kalam yang lebih dekat kepada sunnah (Ahlus-Sunnah), bahkan ia termasuk anggota debat mereka" [ As-Siyar , 11/175].
Kata Adz-Dzahabiy 'lebih dekat kepada sunnah (Ahlus-Sunnah)' secara dhahir menjelaskan bahwa dalam beberapa pokok permasalahan tertentu, ia menyelisihi pokok-pokok 'aqidah Ahlus-Sunnah. [2]
Dikarenakan saya tidak akan membahas tentang Ibnu Kullaab atau Kullaabiyah secara khusus, maka dalam artikel ini saya tidak akan berpanjang-panjang dalam memberikan keterangan tentang Ibnu Kullaab dan Kullaabiyyah. [3]
Kembali pada judul tulisan ini. Kemana gerangan tambatan terakhir Abul-Hasan Al-'Asy'ariy pasca pertaubatannya dari Mu'tazilah? Ke dalam 'aqidah Asyaa'irah ataukah' aqidah salaf (yang disebut sebagian Asyaa'irah sebagai 'mujassimah' [4] - karena mengatur dhahir sifat Allah).
Salah satu cara yang paling 'adil adalah dengan mengkomparasikannya, terutama pada hal-hal pokok masalah keimanan (yang membedakan antara Ahlus-Sunnah dengan selainnya). Kita akan sedikit terbantu dengan pernyataan Abul-Hasan Al-Asy'ariy bahwa madzhabnya dalam masalah 'aqidah adalah madzhab Al-Imaam Ahmad bin Hanbalrahimahumalaah . Akan saya contohkan beberapa masalah yang sering dibahas sengit di berbagai kesempatan (yaitu dalam sebagian lingkup tauhid al-asmaa 'wash-shifaat ) :
1.    Masalah penetapan sifat dzaatiyyah Allah ta'ala seperti wajah, tangan, kaki, dan semisalnya.
Abul-Hasan Al-Asy'ariy menjelaskan posisinya dalam hal ini:
حكم كلام الله تعالى أن يكون على ظاهره وحقيقته, ولا يخرج الشيء عن ظاهره إلى المجاز إلا بحجة .....كذلك قوله تعالى: (لما خلقت بيدي) على ظاهره أو حقيقته من إثبات اليدين
...... بل واجب أن يكون قوله تعالى: (لما خلقت بيدي) إثبات يدين لله تعالى في الحقيقة غير نعمتين إذا كانت النعمتان لا يجوز عند أهل اللسان أن يقول قائلهم: فعلت بيدي, وهو يعني النعمتين
"Hukum dari (makna) firman Allah ta'ala adalah sesuai dengan dhahir dan hakekatnya .Tidak bisa berpaling sedikitpun dari makna dhahirnya kepada makna majaaz kecuali dengan argumen ... Begitu pula dengan makna firman Allah ta'ala : 'kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku' (QS. Shaad: 75) adalah sebagaimanadhahirnya dan hakekatnya dari penetapan sifat dua tangan (Allah) .... Bahkan wajib untuk menjadikan makna firman Allah ta'ala : 'kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku' untuk mengatur dua tangan untuk Allah ta'ala secara hakekatnya, bukan dengan makna dua nikmat . Karena dalam bahasa 'Arab tidak bisa seseorang mengatakan: 'amiltu bi-yadai (aku berbuat dengan dua tanganku), dengan makna dua nikmat "[ Al-Ibaanah , hal. 41].
Setali tiga uang 'aqidah Abul-Hasan adalah' aqidah Al-Imaam Ahmad bin Hanbalrahimahumallaah sebagaimana tertera dalam Kitaabul-'aqiidah saat menjelaskan sifat wajah:
ومذهب أبي عبد الله أحمد بن حنبل رضي الله عنه أن لله عز وجل وجها لا كالصور المصورة والأعيان المخططة بل وجهة وصفه بقوله {كل شيء هالك إلا وجهه} ومن غير معناه فقد ألحد عنه وذلك عنده وجه في الحقيقة دون المجاز
"Dan madzhab Abu 'Abdillah Ahmad bin Hanbal radliyallaahu 'anhu , bahwasannya Allah'azza wa jallaa memiliki wajah yang tidak seperti bentuk-bentuk (makhluk-Nya) dan benda-benda yang terlukis. Bahkan sifat wajah telah Ia sifatkan dengan firman-Nya:'segala sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Nya' (QS. Al-Qashshaash: 88). Dan barangsiapa yang mengubah maknanya, sungguh ia telah berbuat ilhad kepada-Nya.Sifat wajah itu menurutnya (Al-Imam Ahmad) adalah sebagaimana hakekatnya, bukan dalam makna majaz "[ Kitaabul-'aqiidah , riwayat A-Khallaal, hal. 103].
Ibnu 'Abdil-Barr - sebagaimana dikutip oleh Adz-Dzahabiy dalam kitab Al-'Ulluw - berkata:
أهل السنة مجمعون على الإقرار بالصفات الواردة في الكتاب والسنة وحملها على الحقيقة لا على المجاز إلا أنهم لم يكيفوا شيئا من ذلك. وأما الجهمية والمعتزلة والخوارج فكلهم ينكرها ولا يحمل منها شيئا على الحقيقة ويزعمون أن من أقر بها مشبه وهم عند من أقر بها نافون للمعبود
"Ahlus-Sunnah telah sepakat untuk mengakui sifat-sifat yang tertuang dalam Al-Kitab dan As-Sunnah dan membawanya ke makna hakekat, tidak kepada makna majaaz.Namun, mereka tidak men- takyif sesuatupun dari sifat-sifat tersebut. Adapun Jahmiyah. Mu'tazilah, dan Khawaarij; semuanya mengingkarinya dan tidak membawanya ke makna hakekatnya. Dan mereka menyangka bahwa siapa saja yang mengatakannya (yaitu membawa makna sifat Alah sesuai dengan hakekatnya) berarti telah menyerupakan-Nya dengan makhluk. Padahal, mereka di sisi orang yang menetapkan sifat Allah secara hakiki, sama saja menafikkan yang disembah (yaitu Allah) "[ Mukhtashar Al-'Ulluw , hal. 268-269 no. 328].
Jumhur Asyaa'irah dalam hal ini menerapkan metode tafwiidl (menyerahkan maknanya kepada Alah ta'ala ) dan sebagian mereka memilih metode ta'wiil . Namun mereka sepakat menolak menetapkan sifat Allah sebagaimana dhahirnya atau hakekatnya (haqiqiy ). Cukuplah satu bait syi'ir dalam kitab Al-Jauharah berikut sebagai bukti:
وكل نص أوهم التشبيها * اوله أو فوض ورم تنزيها
" Setiap nash yang mengandung penyerupaan (terhadap makhluk)
takwilkanlah atau serahkanlah dan berishkanlah Allah (dari kekurangan) ".
Dan inilah praktek ta'wil Asyaa'irah yang diwakili oleh Abu Manshuur 'Abdul-Qaahir Al-Baghdaadiy Al-Asy'ariy rahimahullah :
وقد تأول بعض أصحابنا هذا التأويل - أي: تأويل اليد بالقدرة - وذلك صحيح على المذهب
"Sebagian shahabat kami memang telah melakukan ta'wil dalam hal ini - yaitu ta'wilsifat tangan dengan kekuasaan ( qudrah ) -. Hal itu shahih dalam madzhab "[Ushuuluddiin , hal. 111].
Hampir menjadi satu kenyataan aksiomatik jika ada orang yang mengatur sifat dua tangan kepada Allah ta'ala secara hakiki, ucapan mujassimah / musyabihah akannyasar kepadanya, terutama sekali dari lisan-lisan Asy'aariyyuun .
Kesimpulan kita, 'aqidah Abul-Hasan Al-Asy'ariy dan Ahmad bin Hanbalrahimahumallaah pada point ini secara umum berbeda dengan 'aqidah Asyaa'irah.
2.    Masalah penetapan sifat istiwaa ' dan fauqiyyah Allah ta'ala .
Abul-Hasan Al-Asy'ariy rahimahullah berkata:
وقال تعالى حاكيا عن فرعون لعنه الله: (يا هامان ابن لي صرحا لعلي أبلغ الأسباب أسباب السماوات فأطلع إلى إله موسى وإني لأظنه كاذبا), كذب موسى عليه السلام في قوله: إن الله سبحانه فوق السماوات. 
وقال عز وجل: (أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض) 
فالسماوات فوقها العرش, فلما كان العرش فوق السماوات قال: (أأمنتم من في السماء) ... لأنه مستو على العرش الذي فوق السماوات, وكل ما علا فهو سماء, والعرش أعلى السماوات, وليس إذا قال: (أأمنتم من في السماء) يعني جميع السماوات, وإنما أراد العرش الذي هو أعلى السماوات, ألا ترى الله عز وجل ذكر السماوات, فقال تعالى : (وجعل القمر فيهن نورا), ولم يرد أن القمر يملأهن جميعا, وأنه فيهن جميعا, ورأينا المسلمين جميعا يرفعون أيديهم إذا دعوا نحو السماء; لأن الله تعالى مستو على العرش الذي هو فوق السماوات, فلولا أن الله عز وجل على العرش لم يرفعوا أيديهم نحو العرش
"Allah ta'ala juga berfirman tentang hikayat / cerita Fir'aun:  'Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta "  (QS. Al-Mukmin: 36-37).Fir'aun mendustakan Musa 'alaihis-salaam yang mengatakan: ' Sesungguhnya Allahsubhaanahu wa ta'ala berada di atas langit . Allah  'azza wa jallaa berfirman : 'Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu'  (QS. Al-Mulk: 16). Yang berada di atas langit adalah 'Arsy (dimana Allah bersemayam/ber- istiwaa '  di atasnya). Ketika 'Arsy berada di atas langit, maka segala sesuatu yang berada di atas disebut langit ( as-samaa ' ). Dan bukanlah yang dimaksud jika dikatakan:  'Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit'  ; yaitu semua langit, namun yang dimaksud adalah 'Arsy yang berada di puncak semua langit . Tidakkah kamu melihat bahwasannya ketika Allah ta'alamenyebutkan langit-langit, Dia berfirman:  'Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya'  (QS. Nuuh: 16)? Bukanlah yang dimaksud bahwa bulan memenuhi seluruh langit dan berada di seluruh langit. Dan kami melihat seluruh kaum muslimin mengangkat tangan mereka - ketika berdoa - ke arah langit, karena (mereka berkeyakinan) bahwa Allah ta'ala ber- istiwaa ' di atas 'Arsy yang berada di atas semua langit . Jika saja Allah 'azza wa jallaa tidak berada di atas 'Arsy , tentu mereka tidak akan mengarahkan tangan mereka ke arah 'Arsy "[ Al-Ibaanah , hal. 33-34].
Tidak berbeda dengan yang dikatakan oleh Al-Imaam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana dibawakan oleh Ibnu Abi Ya'laa rahimahumallaah :
قيل لأبي عبد الله: والله تعالى فوق السماء السابعة على عرشه بائن من خلقه. وقدرته وعلمه بكل مكان?.قال: نعم, على عرشه لا يخلو شيء من علمه
"Dikatakan kepada Abu 'Abdillah:' (Apakah) Allah ta'ala berada di atas langit yang tujuh, di atas 'Ars-Nya, terpisah dari makhluk-Nya . Adapun kekuasan-Nya dan Ilmu-Nya berada di setiap tempat? '. Beliau menjawab: ' Benar, (Allah) berada di atas 'Arsy-Nya . Tidak ada sesuatupun yang luput dari Ilmu-Nya "[ Thabaqaat Al-Hanaabilah1/341 - melalui perantaraan Al-Masaailu war-Rasaailu Al-Marwiyyatu 'an Al-Imaam Ahmad fil-' aqiidah , 1/318 no. 306].
Adapun pendapat Asyaa'irah sebagai berikut:
"Tujuan penulisan dari pasal ini adalah untuk menetapkan bahwa Allah tidak membutuhkan tempat dan arah. Berbeda dengan kaum Karramiyyah, Hasyawiyyah dan Musyabbihah yang mengatakan bahwa Allah berada di arah atas. Bahkan sebagian dari kelompok-kelompok tersebut mengatakan bahwa Allah bertempat atau bersemayam di atas arsy . Jelas mereka kaum yang sesat . Allah Maha Suci dari keyakinan kelompok-kelompok tersebut.
Dalil akal bahwa Allah Maha Suci dari tempat adalah karena ketika ia membutuhkan kepada tempat maka berarti tempat tersebut adalah qadim sebagaimana Allah Qadim.Atau sebaliknya, bila Allah membutkan tempat maka berarti Allah baru sebagaimana tempat itu sendiri baru. Dan kedua pendapat semacam ini adalah keyakinan kufur.
Kemudian bila Allah bertempat atau bersemayam di atas arsy, seperti yang diyakini mereka, maka berarti tidak lepas dari tiga kondisi. Bisa sama besar dengan arsy, atau lebih kecil, dan atau lebih besar dari arsy. Dan semua pendapat semacam ini adalah kafir, karena telah mengatur adanya ukuran, batasan dan bentuk untuk Allah.
Dalil akal lainnya bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah adalah jika kita umpamakan sewaktu-waktu seseorang telah diberi kekuatan besar oleh Allah untuk dapat naik terus menerus ke arah atas maka-sesuai keyakinan kelompok sesat di atas-ia memiliki dua kemungkinan; bisa jadi ia sampai kepada-Nya atau bisa jadi ia tidak sampai. Jika mereka mengatakan tidak sampai maka berarti mereka telah menafikan adanya Allah. Karena setiap dua sesuatu yang ada antara keduanya pasti memiliki arah dan jarak. Dan seandainya salah satunya memotng jarak tersebut dengan terus menerus mendekatinya namun ternyata tidak juga sampai maka berati sesuatu tersebut adalah nihil; tidak ada. Kemudian jika mereka mengatakan bahwa orang yang naik tersebut bisa sampai kepada-Nya maka berarti dalam keyakinan mereka Allah dapat menempel dan dapat disentuh, dan ini jelas keyakinan kufur. Kemudian dari pada itu, keyakinan semacam ini juga mengatur adanya dua kekufuran lain. Pertama; berkeyakinan bahwa alam ini qadim, tidak memiliki awal. Karena-dalam keyaikinan kita-salah satu bukti yang menunjukan bahwa alam ini baru adalah adanya sifat berpisah dan bersatu padanya. Kedua; keyakinan tersebut sama juga dengan mengatur kemampuan adanya anak dan istri untuk Allah " 
[dari kata Abu Sa'iid Al-Mutawalliy dalam Al-Ghun-yah fii Ushuliddiin - dinukil dari blog Asyaa'irah dalam negeri
Jawaban khas 'aqlaniyyah .
Abul-Hasan Al-Asy'ariy sangat mengingkari ta'wil istiwaa ' dengan istilaa ' (menguasai) sebagaimana perkataannya:
وقالت المعتزلة أن الله استوى على عرشه بمعنى استولى
"Mu'tazilah berkata bahwasannya Allah ber- istiwaa ' di atas 'Arsy-Nya dengan makna berkuasa ( istaulaa ) "[ Maqaalaatul-Islaamiyyiin , 1/284].
وكذا لو كان مستويا على العرش بمعنى الإستيلاء, لجاز أن يقال: هو مستو على الأشياء كلها ولم يجز عند أحد من المسلمين أن يقول: إن الله مستو على الأخلية والحشوش, فبطل أن يكون الإستواء [على العرش]: الإستيلاء.
"Begitu pula saat  istiwaa '  di atas 'Arsy itu berarti menguasai ( istilaa ' ), maka akan berkonsekuensi untuk memungkinkan kata: 'Allah ber- istiwaa '  di atas segala sesuatu '. Namun tidak ada seorang pun dari kaum muslimin yang memungkinkan untuk berkata: 'Sesungguhnya Allah ber- istiwaa '  di tanah-tanah kosong dan rerumputan '. Oleh karena itu, terbuktilah kebathilan perkataan bahwa makna istiwaa ' (di atas 'Arsy) adalah  istilaa ' (menguasai) "[ Al-Ibaanah , hal. 34].
Kebalikannya, Asyaa'irah malah menetapkannya:
"Jika ada yang mengatakan bahwa memaknai istawa dengan istaula (menundukkan) memberikan pemahaman bahwa seakan-akan Allah sebelumnya tidak menguasai arsy lalu kemudian Allah menundukkan dan menguasainya, Jawab; Jika demikian bagaimana dengan firman Allah: Wa Huwa al-Qahur Fawqa 'Ibadih" ( QS. al-An'am: 18), yang dengan jelas mengatakan bahwa Allah menguasai para hamba-Nya, apakah itu berarti sebelum Allah menciptakan para hamba tersebut Dia tidak menguasai mereka?! Apakah itu berati Allah tidak menguasai mereka lalu kemudian menguasai dengan menundukkan mereka?! Bagaimana mungkin dikatakan demikian, padahal para hamba itu adalah makhluk-makhluk yang baru, Allah yang menciptakan mereka dari tidak ada menjadi ada. Justru sebaliknya,-kita katakan kepada mereka-(kaum Musyabbihah): Jika makna ayat tersebut seperti yang kalian dan orang-orang bodoh sangka bahwa Allah bertempat dengan Dzat-Nya di atas arsy, maka itu berarti menurut kalian Allah berubah dari satu kondisi ke kondisi yang lain, karena arsy itu makluk Allah. Artinya menurut pendapat kalian Allah berubah dari tidak butuh kepada arsy kemudian menjadi besar kepadanya setelah Dia menciptakannya. (Dengan demikian harus dipahami bahwa arsy itu baru, sementara istawa adalah sifat Allah yang azali). Maka itu, makna bahwa makna Allah Maha Tinggi adalah dalam pengertian keagungan dan derajat-Nya, bukan dalam pengertian tempat, karena Allah Maha Suci dari membutuhkan kepada tempat dan arah " [ Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya '' Ulumiddin , j . 2, hal.108-109 - dinukil dari blog Asyaa'irah dalam negeri
Para ulama salaf, tidak mengenal pengartian istiwaa ' dengan istilaa ' (menguasai).Muhammad bin Ahmad bin Nadlr bin Binti Mu'awiyyah bin 'Amru  rahimahullah  berkata:
كان أبو عبد الله الأعرابي جارنا وكان ليلة أحسن ليل وذكر لنا أن ابن أبي دؤاد سأله أتعرف في اللغة استوى بمعنى إستولى فقال لا أعرفه
"Abu 'Abdillah Al-A'rabiy [5]  adalah tetangga kami. Malam-malamnya adalah malam paling indah. Diceritakan kepada kami bahwa Ibnu Abi Du'ad bertanya kepadanya: "Apakah engkau mengetahui dalam bahasa Arab bahwa makna istawaa (bersemayam) itu adalah istaulaa ' (menguasai)? ". Maka beliau menjawab:" Aku tidak mengetahuinya "[Diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-'Ulluw , beserta Mukhtashar -nya oleh Al-Albaaniy hal. 194 no. 240; dengan sanad jayyid ]. 
Abul-Hasan Al-Asy'ariy berhujjah dengan hadits Mu'aawiyyah bin Al-Hakamradliyallaahu 'anhu tentang sifat istiwaa ' Allah ta'ala  di atas 'Arsy, dengan perkataannya:
وروت العلماء أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم بأمة سوداء فقال: يا رسول الله إني أريد أن أعتقها في كفارة, فهل يجوز عتقها?
فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم: أين الله? قالت: في السماء, قال فمن أنا? قالت: أنت رسول الله, فقال النبي صلى الله عليه وسلم: أعتقها فإنها مؤمنة.
وهذا يدل على أن الله عز وجل على عرشه فوق السماء.
"Dan para ulama meriwayatkan bahwasannya ada seorang laki-laki mendatangi Nabishallallaahu 'alaihi wa sallam dengan budak perempuannya yang berkulit hitam. Ia berkata: 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin membebaskannya untuk kaffarah .Apakah aku bisa membebaskannya? '. Lalu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada budak tersebut: 'Di manakah Allah? '. Budak itu menjawab: 'Di langit'. Beliau kembali bertanya: ' Siapakah aku? '. Ia menjawab: 'Engkau adalah utusan Allah'. Maka Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: ' Bebaskanlah ia, karena sesungguhnya ia wanita mukminah '. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah 'azza wa jalla di atas 'Ars-Nya yang berada di atas langit "[ Al-Ibaanah , hal. 36-37].
Namun apa yang dilakukan oleh para pengaku Asy'ariyyuun? Mereka menolaknya, dan bahkan membuat berbagai trik untuk melemahkannya. Misalnya, seperti yang dilakukan oleh pengaku Asy'ariyyuun: Hasan As-Saqqaaf, yang kemudian diikuti oleh muqallid -nya: http://abusalafy.wordpress.com/2010/02/15/tuhan-itu-tidak-di-langit- 2 / .
Kesimpulan kita, 'aqidah Abul-Hasan Al-Asy'ariy dan Ahmad bin Hanbalrahimahumallaah pada point ini berbeda dengan 'aqidah Asyaa'irah.
3.    Masalah Kalaamullah .
Abul-Hasan Al-Asy'ariy rahimahullah berkata:
باب الكلام في أن القرآن كلام الله غير مخلوق: إن سأل سائل عن الدليل على أن القرآن كلام الله غير مخلوق
قيل له الدليل على ذلك قوله تعالى: (ومن آياته أن تقوم السماء والأرض بأمره) وأمر الله كلامه
"Baab: kata bahwasannya Al-Qur'an adalah Kalaamullah bukanlah makhluk . Bila ada orang yang bertanya tentang dalil bahwasannya Al-Qur'an adalah Kalaamullah , bukan makhluk. Katakanlah kepada mereka: Dalil akan hal itu adalah firman-Nya 'azza wa jalladari ayat-Nya: 'Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan perintah-Nya' (QS. Ruum: 25). Perintah Allah di sini adalah kalaam -Nya.... [ Al-Ibaanah , hal. 20].
Adapun Asyaa'irah, maka mereka membuat teori pemisahan antara makna dan lafadh.Al-Baijuuriy rahimahullah berkata:
ومذهب أهل السنة أن القرآن بمعنى كلام النفسي ليس بمخلوق, وأما القرآن بمعنى اللفظ الذي نقرؤه فهو مخلوق. لكن يمتنع أن يقال: القرآن مخلوق ويراد به اللفظ لذي نقرؤه إلا في مقام التعليم, لأنه ربما أوهم أن القرآن بمعنى كلامه تعالى مخلوق, ولذلك امتنعت الأئمة من القول بخلق القرآن
"Madzhab Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah (maksudnya: madzhab Asyaa'irah - Abul-Jauzaa ' ) menyatakan bahwa Al-Qur'an dengan makna  al-kalaamun-nafsiy  (yaitu: yang berasal dari diri Allah  ta'ala ) bukanlah makhluk. Adapun Al-Qur'aan dengan makna lafadh yang kita baca, maka ia adalah makhluk .  Akan tetapi terlarang untuk dikatakan: Al-Qur'an adalah makhluk - yang dimaksudkan dengannya adalah lafadh yang kita baca,  kecuali dalam konteks pengajaran. Karena, kata tersebut bisa disalahartikan bahwa Al-Qur'an dengan makna kalam -Nya ta'ala ( al-kalaamun-nafsiy  - Abul-Jauzaa ' )  adalah makhluk. Dengan alasan itulah para imam melarang terhadap kata Al-Qur'an adalah makhluk "[ Hasyiyyah Al-Baijuriy 'alaa Jauharit-Tauhiid . 160].
والحاصل أن كل ظاهر من الكتاب والسنة دل على حدوث القرآن فهو محمول على اللفظ المقروء لا على الكلام النفسي, لكن يمتنع أن يقال: القرآن مخلوق إلا في مقام التعليم كما سبق
"Kesimpulan (dari pembicaraan ini), bahwa setiap nash yang nampak dari Al-Qur'an dan As-Sunnah menunjukkan  huduutsul-Qur'aan  (maksudnya: kemakhlukan Al-Qur'an  - Abul-Jauzaa ' ) dibawa pada pengertian lafadh yang terbaca , bukan pada  al-kalaamun-nafsiy . Akan tetapi tetap terlarang untuk dikatakan: Al-Qur'an adalah makhluk, kecuali dalam konteks pengajaran sebagaimana yang telah lalu (penyebutannya) "[ idem, hal. 162]. [6]
Konsekuensi dari 'aqidah ini, Asyaa'irah mengeluarkan lafadh yang terdiri dari huruf dan suara dari cakupan Kalaamullah. Dengan kata lain, Allah tidak berfirman dengan huruf dan suara, karena keduanya adalah makhluk. Mereka (Asyaa'irah) berkata:
كلام الله كلام نفسي بدون حرف ولا صوت ولا يتجزأ ولا يتبعض, وليس فيه أمر ولا نهي, ولا خبر ولا استخبار, أما التوراة والإنجيل والقرآن فليس كلام الله على الحقيقة بل هو مخلوق وهو كلام الله مجازا لأنه دال على كلام الله النفسي
" Kalaamullah adalah kalam nafsi tanpa huruf, tanpa suara, tidak terurai, dan tidak terbagi. Padana tidak ada perintah dan larangan, bukan kabar dan bukan pula meminta kabar. Adapun Taurat, Injil, dan Al-Qur'an; bukan firman Allah secara hakiki, akan tetapi semuanya makhluk, hanya saja itu adalah firman Allah secara majaziy (kiasan) karena menunjukan kepada kalam nafsiy Allah "[ I'tiqaad Ahlis-Sunnah Syarh Ashhaabil -Hadiits , oleh Dr. Al-Khumais, hal. 67].
Al-Baaqilaaniy berkata:
ولا يجوز أن يطلق على كلامه شيء من أمارات الحدث من حرف ولا صوت
"Dan tidak bisa memutlakkan firman-Nya dari tanda-tanda kemakhlukan seperti huruf dan suara" [ Al-Inshaaf , hal. 111 - melalui Al-Asyaa'irah fii Mizaani Ahlis-Sunnah hal.486].
Al-Baijuuriy berkata tentang sifat kalam bagi Allah ta'ala :
صفة أزلية قائمة بذاته تعالى ليست بحرف ولا صوت
"Sifat azaliyyah yang ada pada Dzat-Nya ta'ala tidaklah dengan huruf dan suara "[Syarh Jauharut-Tauhiid , hal. 129 - melaui perantaraan Al-Asyaa'irah fii Mizaani Ahlis-Sunnah hal. 486].
PCI NU Mesir dalam artikel yang dibawakan oleh Drs. Hamzah Harun Al-Rasyid menegaskan:
"Asy'ari dalam menanggapi pendapat itu meninjaunya pada dua aspek. Pertama: Kalam Nafsi, yaitu esensi yang berada pada zat Tuhan, dan kedua: Kalam Lafzhy, yaitu indikator-indikator yang menunjukkan kepada esensi tersebut, termasuk diantaranya lafazh-lafazh dan huruf-huruf dan suara-suara yang diturunkan Allah kepada Nabi-nabi- nya. Asy'ari mengatakan: Yang pertama adalah Qadim dan yang kedua adalah Hadits (baru) dan makhluq, tidak kekal " [lihat: http://pcinu-mesir.tripod.com/ilmiah/jurnal/isjurnal/nuansa/Apr97/1. htm ].
Berikut adalah pembagian bid'ah yang tidak pernah dikatakan siapapun sebelumnya.Tidak Abul-Hasan Al-Asy'ariy, Al-Haarits Al-Muhaasibiy, atau bahkan Jahmiyyah.
Al-Qur'an adalah kalaamullah yang terdiri dari huruf dan suara. Kalam -Nya dapat didengar oleh siapa saja yang Ia kehendaki dari makhluk-Nya. Inilah madzhab salaf.
'Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:
سألت أبي رحمه الله عن قوم يقولون: لما كلم الله عز وجل موسى لم يتكلم بصوت, فقال: بلى إن ربك عز وجل تكلم بصوت, هذه الأحاديث نرويها كما جاءت
"Aku bertanya kepada ayahku rahimahullah tentang satu kaum yang berkata: 'Ketika Allah 'azza wa jalla berbicara kepada Musa, Ia tidak berbicara dengan suara '. Maka ayahku berkata: 'Akan tetapi, sesungguhnya Rabb kalian 'azza wa jala berbicara (kepada Musa) dengan suara. Hadits-hadits ini kami riwayatkan sebagaimana datangnya "[ As-Sunnah 32 / - melalui perantaraan Al-Masaailu war-Rasaailu Al-Marwiyyatu 'an Al-Imaam Ahmad fil-' aqiidah , 1/302 no. 288].
Inilah yang keyakinan Al-Imaam Ahmad yang diacu oleh Abul-Hasan Al-Asy'ariyrahimahumallah .
Kesimpulan kita, 'aqidah Abul-Hasan Al-Asy'ariy dan Ahmad bin Hanbalrahimahumallaah pada point ini berbeda dengan 'aqidah Asyaa'irah.
Saya cukupkan artikel sampai di sini. Saya yakin para Pembaca dapat menyimpulkan, kemanakah gerangan taubat Abul-Hasan Al-Asy'ariy? ke pangkuan 'aqidah Asy'ariyyah atau' aqidah Salafiyah Ahlus-Sunnah?
Wallaahu ta'ala a'lam .
[Abul-Jauzaa '- 11112010 - rain city].


[2]      Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
وطريقته يميل فيها إلى مذهب أهل الحديث والسنة, لكن فيها نوع من البدعة; لكونه أثبت قيام الصفات بذات الله ولم يثبت قيام الأمور الاختيارية بذاته, ولكن له في الرد على الجهمية نفاة الصفات والعلو من الدلائل والحجج وبسط القول ما بين به فضله في هذا الباب, وإفساده لمذاهب نفاة الصفات بأنواع من الأدلة والخطاب, وصار ما ذكره معونة ونصيرا وتخليصا من شبههم لكثير من أولى الألباب, حتى صار قدوة وإماما لمن جاء بعده من هذا الصنف الذين أثبتوا الصفات, وناقضوا نفاتها, وإن كانوا قد شركوهم في بعض أصولهم الفاسدة, التي أوجبت فساد بعض ما قالوه من جهة المعقول, ومخالفته لسنة الرسول.
"Jalan yang ia tempuh cenderung kepada madzhab Ahlul-Hadits dan Sunnah. Akan tetapi, padanya masih tercampur dengan kebid'ahan; karena di samping ia mengatur sifat-sifatdzatiyah Alah, ia tidak mengatur hal-hal ikhtiyariyyah untuk Dzat Allah. Akan tetapi ia memiliki bantahan terhadap firqah Jahmiyyah - yang menafikkan sifat-sifat Allah dan ke-Maha Tinggi-an-Nya - dengan dalil dan hujjah, merupakan bukti bahwa ia memiliki prioritas dalam permasalahan ini. Dan apa yang ia sebutkan kemudian menjadi perangkat pembantu intektual untuk banyak ulama yang punya akal untuk menghabisi syubhat-syubhat Jahmiyyah, sehingga Ibnu Kullaab menjadi teladan dan imam bagi orang-orang yang datang kemudian karena cara pandang ini, yaitu mereka yang mengatur sifat-sifat Allah dan membantah orang yang menafikkannya. Sekalipun mereka menjadi ikut serta mengikuti dasar-dasar metode mereka yang rusak, yang akan mengakibatkan rusaknya sebagian pandangan-pandangan mereka secara akal, dan bertentangan dengan sunnah Rasululah shalallaahu 'alaihi wa sallam "[ Majmuu 'Al-Fataawaa , 12/366].
[3]      Ada satu buku khusus yang membahas tentang Kullaabiyyah dengan judul: Araaul-Kulaabiyyah Al-'Aqadiyyah wa Atsaruhaa fil-Asy'ariyyah fii Dlaui 'Aqiidati Ahlis-Sunnah wal-Jama'ah karya Hudaa binti Naashir bin Muhammad Asy-Syalaaliy; Maktabah Ar-Rusyd, Cet.Thn. 1420 (yang saya miliki).
[4]      Sebenarnya ini tuduhan ngawur tanpa bukti. Tidak lain tuduhan mujassimah-musyabbihah ini karena 'aqidah salaf bertentangan dengan' aqidah Asyaa'irah.
Telah berkata Abu 'Utsman Ash-Shabuniy (w. 449 H):
وعلامات البدع على أهلها بادية ظاهرة, وأظهر آياتهم وعلاماتهم شدة معاداتهم لحملة أخبار الني صلى الله عليه وسلم, واحتقارهم لهم وتسميتهم إياهم حشوية وجهلة وظاهرية ومشبهة, اعتقادا منهم في أخبار الرسول صلى الله عليه وسلم أنها بمعزل عن العلم, وأن العلم ما يلقيه الشيطان إليهم من نتائج عقولهم الفاسدة, ووساوس صدورهم المظلمة, وهواجس قلوبهم الخالية من الخير, وحججهم العاطلة. أولئك الذين لعنهم الله
"Tanda-tanda bid'ah yang ada pada ahlul-bid'ah adalah sangat jelas. Dan tanda-tanda yang paling jelas adalah permusuhan mereka terhadap pembawa kabar Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam (yaitu para ahlul-hadits), memandang rendah mereka, serta menamai mereka sebagai hasyawiyyah , orang-orang bodoh, dhahiriyyah , dan musyabbihah .Mereka meyakini bahwa hadits-hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak mengandung ilmu. Dan bahwasannya ilmu itu adalah apa-apa yang dibawa setan kepada mereka dalam bentuk hasil pemikiran aka-akal rusak mereka, was-was yang terbisikkan dalam hati-hati mereka yang penuh kegelapan, dan hal-hal yang terlintas dalam hati mereka nan kosong dari kebaikan dan hujjah. Mereka adalah kaum yang dilaknat oleh Allah "['Aqiidatu Ashhaabil-Hadiits , hal. 102].
Mereka (ulama Asyaa'irah) juga mengklaim 'aqidah Asyaa'rah merupakan interpretasi' aqidah Ahlus-Sunnah, sebagaimana kata Az-Zubaidiy rahimahullah :
أذا أطلق أهل السنة والجماعة فالمراد بهم الأشاعرة والماتريدية
"Bila dimutlakan (kata) Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah, maka maksudnya adalah Al-Asyaa'irah dan Al-Maaturidiyyah" [ Ittihaafus-Saaddah Al-Mutaqiin , 2/6-7].
Bagaimana bisa diterima jika para ulama sebelum Az-Zubaidiy banyak yang mencela Al-Asyaa'irah?
Ibnu 'Abdil-Barr, misalnya, yang menukil kata pembesar madzhab Maalikiyyah awal, Ibnu Khuwaiz-Mindad rahimahumallaah :
لا تجوز شهادة أهل البدع وأهل الأهواء ...... أهل الأهواء عند مالك وسائر أصحابنا هم أهل الكلام, فكل متكلم فهو من أهل الأهواء والبدع أشعريا كان أو غير أشعري, ولا تقبل له شهادة في الإسلام أبدا, ويهجر ويؤدب على بدعته 
"Tidak diperbolehkan menerima persaksian ahlul-bida ' dan pengikut hawa nafsu ... Pengikut hawa nafsu menurut Maalik (bin Anas) dan seluruh shahabat kami adalah adalah para ahli kalam. Maka, setiap ahli kalam termasuk pengikut hawa nafsu dan ahli bid'ah, apakah ia seorang Asy'ariy atau selain Asy'ariy (pengikut madzhab Asya'irah) .Dan tidak diterima persaksiannya dalam Islam selamanya. Wajib untuk di- hajr dan diberi peringatan pada bid'ah mereka "[ Jaami 'Bayaanil-' Ilmi wa Fadhlihi , no. 1800].
Masih banyak perkataan para ulama yang lain [selengkapnya baca: http://www.dd-sunnah.net/forum/showthread.php?t=78808 ].
[5]      Seorang pakar bahasa di jamannya (151-231 H).