Dikalangan kita Banyak yang mengatakan bahwa Syiah itu bagian dari islam ternyata SALAH.
Ternyata syiah bukan islam, Syiah Punya agama tersendri.
Berikut ini adalah perbedaan yang sangat menonjol antara agama islam dengan agama syi’ah, yang dengannya mudah-mudahan kaum muslimin dapat mengetahui hakekat sebenarnya ajaran agama syi’ah.
1. Pembawa Agama Islam adalah Muhammad Rasulullah.
1. Pembawa Agama Syi’ah adalah seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ Al Himyari. [Majmu' Fatawa, 4/435]
2. Rukun Islam menurut agama Islam:
1. Dua Syahadat
2. Sholat
3. Puasa
4. Zakat
5. Haji
[HR Muslim no. 1 dari Ibnu Umar]
2. Rukun Islam ala agama Syi’ah:
1. Sholat
2. Puasa
3. Zakat
4. Haji
5. Wilayah/Kekuasaan
[Lihat Al Kafi Fil Ushul 2/18]
3. Rukun Iman menurut agama Islam ada 6 perkara, yaitu:
1. Iman Kepada Allah
2. Iman Kepada Malaikat
3. Iman Kepada Kitab-Kitab
4. Iman Kepada Para Rasul
5. Iman Kepada hari qiamat
6. Iman Kepada Qadha Qadar.
3. Rukun Iman ala Agama Syi’ah ada 5 Perkara, yaitu:
1. Tauhid
2. Kenabian
3. Imamah
4. Keadilan
5. Qiamat
4. Kitab suci umat Islam Al Qur’an yang berjumlah 6666 ayat (menurut pendapat yang masyhur).
4. Kitab suci kaum Syi’ah Mushaf Fathimah yang berjumlah 17.000 ayat (lebih banyak tiga kali lipat dari Al Qur’an milik kaum Muslimin).[Lihat kitab mereka Ushulul Kafi karya Al Kulaini 2/634]
5. Adzan menurut Agama Islam:
(Allōhu akbar) 4 kali
(Asyhadu allā ilāha illallōh) 2 kali
(Asyhadu anna Muhammadan rōsulullōh) 2 kali
(Hayya ‘alash Sholāh) 2 kali
(Hayya ‘alal falāh) 2 kali
(Allōhu akbar) 2 kali
(Lā ilāha illallōh) 1 kali
Lihat Video Adzan Agama Islam
5. Adzan Ala Agama Syi’ah:
(Allōhu akbar) 4 kali
(Asyhadu allā ilāha illallōh) 2 kali
(Asyhadu anna Muhammadan rōsulullōh) 2 kali
(Asyhadu anna ‘Aliyyan waliyullōh) 2 kali
(Hayya ‘alash Sholāh) 2 kali
(Hayya ‘alal falāh) 2 kali
(Hayya ‘alā khoiril ‘amal) 2 kali
(Allōhu akbar) 2 kali
(Lā ilāha illallōh) 2 kali
Lihat Video Adzan Agama Syiah
6. Islam meyakini bahwa sholat diwajibkan pada 5 waktu.
6. Agama Syi’ah meyakini bahwa sholat diwajibkan hanya pada 3 waktu saja.
7. Islam meyakini bahwa sholat jum’at hukumnya wajib. [QS Al Jumu'ah:9]
7. Agama Syi’ah meyakini bahwa sholat jum’at hukumnya tidak wajib.
8. Islam menghormati seluruh sahabat Rasulullah dan meyakini mereka orang-orang terbaik yang digelari Radhiallohu ‘Anhum oleh Allah. [QS At Taubah:100]
8. Agama Syi’ah meyakini bahwa seluruh sahabat Rasulullah telah kafir (Murtad) kecuali Ahlul Bait (versi mereka), salman Al Farisi, Al Miqdad bin Al Aswad, Abu Dzar Al Ghifari. [Ar Raudhoh Minal Kafi Karya Al Kulaini 8/245-246]
9. Islam meyakini bahwa Abu Bakar adalah orang terbaik dari umat ini setelah Rasulullah, kemudian setelahnya Umar bin Al Khatthab, lalu Utsman bin ‘Affan, lalu ‘Ali bin Abi Thalib.
9. Agama Syi’ah meyakini bahwa orang terbaik setelah Rasulullah adalah Ali bin Abi Thalib, adapun Abu Bakar dan Umar bin Al Khatthab adalah dua berhala quraisy yang terlaknat. [Ajma'ul Fadha'ih karya Al Mulla Kazhim hal. 157].
10. Islam meyakini bahwa Abu bakar adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah.
10. Agama Syi’ah meyakini bahwa orang yang paling berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah adalah Ali bin Abi Thalib.
11. Islam meyakini bahwa Abu Bakar adalah khalifah pertama yang sah.
11. Agama Syi’ah memposisikan Abu Bakar sebagai perampas kekhalifahan dari ‘Ali bin Abi Thalib
12. Islam meyakini bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan, ‘Amr bin Al ‘Ash, Abu Sufyan termasuk sahabat Rasulullah
12. Agama Syi’ah meyakini bahwa mereka pengkhianat dan telah kafir (Murtad) dari Islam.
13. Tata shalat agama Islam Lihat Videonya
13. Tata shalat agama Syiah Lihat Videonya
Perhatian: Semua yang kami sampaikan ini bersumberkan dari kitab-kitab yang mereka jadikan rujukan dan sebagiannya dari situs resmi mereka.
Lihat video Lainnya tentang Kesesatan syiah videosyiah.com
Sumber: haulasyiah.wordpress.com
Publikasi: artikelassunnah.blogspot.com (Sedikit tambahan)
الثلاثاء، ١٠ أبريل ٢٠١٢
Nabi Khidir masih hidup?
oleh:
Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta
Pertanyaan.
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apakah Nabi Khidir (masih hidup) sebagai penjaga di sungai-sungai dan lembah-lembah ; dan apakah ia mampu menolong orang-orang yang tersesat jalan jika memanggilnya ?
Jawaban.
Yang benar menurut para ulama adalah bahwa Nabi Khidir telah wafat sebelum Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana tersebut dalam firmanNya Subhanahu wa Ta'ala.
Pertanyaan.
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apakah Nabi Khidir (masih hidup) sebagai penjaga di sungai-sungai dan lembah-lembah ; dan apakah ia mampu menolong orang-orang yang tersesat jalan jika memanggilnya ?
Jawaban.
Yang benar menurut para ulama adalah bahwa Nabi Khidir telah wafat sebelum Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana tersebut dalam firmanNya Subhanahu wa Ta'ala.
Artinya : Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal ?" [Al-Anbiya : 34]
Dan diperkirakan Nabi Khidir masih hidup sampai bertemu dengan Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun sesudah itu, maka ada hadits yang menunjukkan bahwa dia meninggal setelah Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat dengan jarak waktu yang telah ditentukan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan tentang hal ini dengan bersabda.
Artinya : Tidaklah kalian melihat pada malam kalian ini, bahwa sesungguhnya siapa yang umurnya (berkepala) seratus tahun tidak (tersisa) pada hari ini di atas permukaan bumi seorang punâ[1]
Atas dasar ini, maka keadaan Nabi Khidir adalah sebagai orang mati yang tidak dapat mendengar panggilan siapa yang memanggilnya, dan tidak mampu menjawab siapa yang menyerunya, dan tidak mampu menunjukkan jalan kepada siapa yang tersesat jalan ketika meminta petunjuknya.
Adapun perkiraan bahwa ia masih hidup sampai saat ini, maka ini adalah masalah ghaib. Keadaannya seperti masalah-masalah ghaib yang lainnya ; tidak boleh kita berdo'a kepadanya dan meminta kebaikan kepadanya dalam keadaan susah maupun senang.
Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya, dan sahabat-shabatnya.
[Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da'imah Fatwa I/170 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 08/I/ 1424H]
_________
Foote Note
[1]. Bukhari I/37, 141, 149. Muslim dengan Syarah Nawawi XVI/89, Abu Dawud IV/516, Tirmidzi IV/520
Dan diperkirakan Nabi Khidir masih hidup sampai bertemu dengan Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun sesudah itu, maka ada hadits yang menunjukkan bahwa dia meninggal setelah Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat dengan jarak waktu yang telah ditentukan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan tentang hal ini dengan bersabda.
Artinya : Tidaklah kalian melihat pada malam kalian ini, bahwa sesungguhnya siapa yang umurnya (berkepala) seratus tahun tidak (tersisa) pada hari ini di atas permukaan bumi seorang punâ[1]
Atas dasar ini, maka keadaan Nabi Khidir adalah sebagai orang mati yang tidak dapat mendengar panggilan siapa yang memanggilnya, dan tidak mampu menjawab siapa yang menyerunya, dan tidak mampu menunjukkan jalan kepada siapa yang tersesat jalan ketika meminta petunjuknya.
Adapun perkiraan bahwa ia masih hidup sampai saat ini, maka ini adalah masalah ghaib. Keadaannya seperti masalah-masalah ghaib yang lainnya ; tidak boleh kita berdo'a kepadanya dan meminta kebaikan kepadanya dalam keadaan susah maupun senang.
Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya, dan sahabat-shabatnya.
[Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da'imah Fatwa I/170 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 08/I/ 1424H]
_________
Foote Note
[1]. Bukhari I/37, 141, 149. Muslim dengan Syarah Nawawi XVI/89, Abu Dawud IV/516, Tirmidzi IV/520
asal-usul maulid nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam
Oleh : Ustadz Abdurrahman Thayyib Lc
A. Sejarah Perayaan Maulid
Diantara perayaan-perayaan bid’ah yang diadakan oleh kebanyakan kaum muslimin adalah perayaan maulid Nabi. Bahkan maulid Nabi ini merupakan induk dari maulid-maulid yang ada seperti maulid para wali, orang-orang sholeh, ulang tahun anak kecil dan orang tua. Maulid-maulid ini adalah perayaan yang telah di kenal oleh masyarakat sejak zaman dahulu. Dan perayaan ini bukan hanya ada pada masyarakat kaum muslimin saja tapi sudah di kenal sejak sebelum datangnya Islam. Dahulu Raja-Raja Mesir (yang bergelar Fir’aun) dan orang-orang Yunani mengadakan perayaan untuk Tuhan-Tuhan mereka,[1] 1. Al-Adab Al-Yunaani Al-Qodim…oleh DR Ali Abdul Wahid Al-Wafi hal. 131. demikian pula dengan agama-agama mereka yang lain.
Diantara perayaan-perayaan bid’ah yang diadakan oleh kebanyakan kaum muslimin adalah perayaan maulid Nabi. Bahkan maulid Nabi ini merupakan induk dari maulid-maulid yang ada seperti maulid para wali, orang-orang sholeh, ulang tahun anak kecil dan orang tua. Maulid-maulid ini adalah perayaan yang telah di kenal oleh masyarakat sejak zaman dahulu. Dan perayaan ini bukan hanya ada pada masyarakat kaum muslimin saja tapi sudah di kenal sejak sebelum datangnya Islam. Dahulu Raja-Raja Mesir (yang bergelar Fir’aun) dan orang-orang Yunani mengadakan perayaan untuk Tuhan-Tuhan mereka,[1] 1. Al-Adab Al-Yunaani Al-Qodim…oleh DR Ali Abdul Wahid Al-Wafi hal. 131. demikian pula dengan agama-agama mereka yang lain.
Lalu perayaan-perayaan ini di warisi oleh orang-orang Kristen, di antara perayaan-perayaan yang penting bagi mereka adalah perayaan hari kelahiran Isa al-Masih q, mereka menjadikannya hariaya dan hari libur serta bersenang-senang. Mereka menyalakan lilin-lilin, membuat makanan-makanan khusus serta mengadakan hal-hal yang diharamkan.
Kemudian sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada agama Islam ini menjadikan hari kelahiran Nabi sebagai hari raya yang diperingati seperti orang-orang Kristen yang menjadikan hari kelahiran Isa al-Masih sebagai hariaya mereka. Maka orang-orang tersebut menyerupai orang-orang Kristen dalam perayaan dan peringatan maulid Nabi yang diadakan setiap tahun.
Dari sinilah asal mula maulid Nabi sebagaimana yang dikatakan oleh as-Sakhawi : “Apabila orang-orang salib/kristen menjadikan hari kelahiran Nabi mereka sebagai hariaya maka orang Islam pun lebih dari itu” (at-Tibr al-Masbuuk Fii Dzaiissuluuk oleh as-Sakhawi)
Dari sinilah asal mula maulid Nabi sebagaimana yang dikatakan oleh as-Sakhawi : “Apabila orang-orang salib/kristen menjadikan hari kelahiran Nabi mereka sebagai hariaya maka orang Islam pun lebih dari itu” (at-Tibr al-Masbuuk Fii Dzaiissuluuk oleh as-Sakhawi)
Inilah teks penyerupaan dengan orang-orang Kristen. Sesungguhnya perayaan maulid Nabi ini menyerupai orang-orang Kristen, padahal “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu” (HR. Abu Daud, Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwaul Gholil 5/109.) Dan inilah yang dikabarkan serta yang dikhawatirkan oleh Nabi: “Sesungguhnya kalian akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian sedikit demi sedikit sampai seandainya mereka masuk kelubang biawak kalian juga akan mengikuti mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
B. Siapa Orang Pertama Yang Mengadakan Maulid Nabi Dalam Sejarah Islam?
Para Ulama yang mengingkari perayaan bid’ah ini telah sepakat, demikian juga dengan orang-orang yang mendukung acara bid’ah ini bahwa Nabi tidak pernah merayakan maulidnya dan juga tidak pernah menganjurkan atau memerintahkan hal ini. Para sahabat beliau, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang merupakan orang-orang terbaik umat ini serta yang paling bersemangat mengikuti Sunnah Nabi mereka semuanya tidak pernah merayakan maulid. Tiga generasi umat Islam yang telah diekomendasi oleh Nabi berlalu dan tidak di temui pada saat-saat itu perayaan-perayaan maulid ini. Tapi ketika Daulah Fatimiyyah di Mesir berdiri pada akhir abad keempat muncullah perayaan atau peringatan maulid Nabi yang pertama dalam sejarah Islam,2 2. Al-A’yad wa atsaruha alal Muslimin oleh DR. Sulaiman bin Salim As-Suhaimi hal. 285-287. sebagaimana hal ini dikatakan oleh al-Migrizii 3 3. Dia adalah pendukung kelompok Ubeid Al-Qoddah (Ubeidyyin). Dia bernama Ahmad bin Ali bin abdul Qodir bin Muhammad bin Ibrahim al-Husaini al-Ubeidi. Lahir pada tahun 766 H. dalam kitabnya “Al-Mawa’idz wal i’tibar bidzikri al-Khuthoth wal Aatsar” : Dahulu para Kholifah/penguasa Fatimiyyin selalu mengadakan perayaan-perayaan setiap tahunnya, diantaranya adalah perayaan tahun baru, Asy-Syura, Maulid Nabi, Maulid Ali bin Abi Thalib a, Maulid Hasan dan Husein, Maulid Fatimah dll. (Al-Khuthoth 1/490)
Para Ulama yang mengingkari perayaan bid’ah ini telah sepakat, demikian juga dengan orang-orang yang mendukung acara bid’ah ini bahwa Nabi tidak pernah merayakan maulidnya dan juga tidak pernah menganjurkan atau memerintahkan hal ini. Para sahabat beliau, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang merupakan orang-orang terbaik umat ini serta yang paling bersemangat mengikuti Sunnah Nabi mereka semuanya tidak pernah merayakan maulid. Tiga generasi umat Islam yang telah diekomendasi oleh Nabi berlalu dan tidak di temui pada saat-saat itu perayaan-perayaan maulid ini. Tapi ketika Daulah Fatimiyyah di Mesir berdiri pada akhir abad keempat muncullah perayaan atau peringatan maulid Nabi yang pertama dalam sejarah Islam,2 2. Al-A’yad wa atsaruha alal Muslimin oleh DR. Sulaiman bin Salim As-Suhaimi hal. 285-287. sebagaimana hal ini dikatakan oleh al-Migrizii 3 3. Dia adalah pendukung kelompok Ubeid Al-Qoddah (Ubeidyyin). Dia bernama Ahmad bin Ali bin abdul Qodir bin Muhammad bin Ibrahim al-Husaini al-Ubeidi. Lahir pada tahun 766 H. dalam kitabnya “Al-Mawa’idz wal i’tibar bidzikri al-Khuthoth wal Aatsar” : Dahulu para Kholifah/penguasa Fatimiyyin selalu mengadakan perayaan-perayaan setiap tahunnya, diantaranya adalah perayaan tahun baru, Asy-Syura, Maulid Nabi, Maulid Ali bin Abi Thalib a, Maulid Hasan dan Husein, Maulid Fatimah dll. (Al-Khuthoth 1/490)
C. Kilas Balik Pelopor Pertama Maulid Nabi
Pada tahun 317 H muncul di Maroko sebuah kelompok yang di kenal dengan Fatimiyyun (pengaku keturunan Fatimah binti Ali bin Abi Tholib) yang di pelopori oleh Abu Muhammad Ubeidullah bin Maimun al-Qoddah. Dia adalah seorang Yahudi yang berprofesi sebagai tukang wenter, dia pura-pura masuk ke dalam Islam lalu pergi ke Silmiyah negeri Maroko. Kemudian dia mengaku sebagai keturunan Fatimah binti Ali bin Abi Tholib dan hal ini pun di percaya dengan mudah oleh orang-orang di Maroko hingga dia memiliki kekuasaan.
Pada tahun 317 H muncul di Maroko sebuah kelompok yang di kenal dengan Fatimiyyun (pengaku keturunan Fatimah binti Ali bin Abi Tholib) yang di pelopori oleh Abu Muhammad Ubeidullah bin Maimun al-Qoddah. Dia adalah seorang Yahudi yang berprofesi sebagai tukang wenter, dia pura-pura masuk ke dalam Islam lalu pergi ke Silmiyah negeri Maroko. Kemudian dia mengaku sebagai keturunan Fatimah binti Ali bin Abi Tholib dan hal ini pun di percaya dengan mudah oleh orang-orang di Maroko hingga dia memiliki kekuasaan.
Ibnu Kholkhon4 4. Dia adalah Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Kholkhon, pengikut madzhab Syafi’i. Dia dilahirkan tahun 608 H. Seorang ahli sastra Arab dan penyair. Beliau meninggal pada tahun 681 H dan disemayamkan di Damaskus (Pent). berkata tentang nasab Ubeidillah bin Maimun al-Qoddah : “Semua Ulama sepakat untuk mengingkari silsilah nasab keturunannya dan mereka semua mengatakan bahwa, semua yang menisbatkan dirinya kepada Fatimiyyun adalah pendusta. Sesungguhnya mereka itu berasal dari Yahudi dari Silmiyah negeri Syam dari keturunan al-Qoddah. Ubeidillah binasa pada tahun 322 H, tapi keturunannya yang bernama al-Mu’iz bisa berkuasa di Mesir dan kekuasan Ubeidiyyun atau Fatimiyyun ini bisa bertahan hingga 2 abad lamanya hingga mereka dibinasakan oleh Sholahuddin al-Ayubi pada tahun 546 H.” 5 5. Lihat Firoq Mu’ashiroh oleh DR Gholib Al-’Awajih 2/493-494.
Perlu diketahui bahwa kelompok Bathiniyah ini memiliki beberapa nama / sekte. Diantaranya : Nushairiyah, Duruz, Qoromithoh (Ubeidiyyin/Fathimiyyin), Ibahiyah, Isma’iliyah dll.
Perlu diketahui bahwa Maimun al-Qoddah ini adalah pendiri madzhab/aliran Bathiniyyah yang didirikan untuk menghancurkan Islam dari dalam. Aqidah mereka sudah keluar dari Islam bahkan mereka lebih sesat dan lebih berbahaya dari Yahudi dan Nasrani. Tidak ada yang bisa membuktikan akan hal ini kecuali sejarah mereka yang bengis dan kejam terhadap kaum muslimin, diantaranya : pada tahun 317 H ketika mereka telah sangat berkuasa dan bisa sampai ke Ka’bah mereka membunuh jama’ah haji yang sedang berthowaf pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah). Mereka jadikan Masjid Haram dan Ka’bah lautan darah di bawah kepemimpinan dedengkot mereka Abu Thohir al-Janaabi.
Perlu diketahui bahwa Maimun al-Qoddah ini adalah pendiri madzhab/aliran Bathiniyyah yang didirikan untuk menghancurkan Islam dari dalam. Aqidah mereka sudah keluar dari Islam bahkan mereka lebih sesat dan lebih berbahaya dari Yahudi dan Nasrani. Tidak ada yang bisa membuktikan akan hal ini kecuali sejarah mereka yang bengis dan kejam terhadap kaum muslimin, diantaranya : pada tahun 317 H ketika mereka telah sangat berkuasa dan bisa sampai ke Ka’bah mereka membunuh jama’ah haji yang sedang berthowaf pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah). Mereka jadikan Masjid Haram dan Ka’bah lautan darah di bawah kepemimpinan dedengkot mereka Abu Thohir al-Janaabi.
Abu Thohir ketika pembantaian ini duduk di atas pintu Ka’bah menyaksikan pembunuhan terhadap kaum muslimin/jama’ah haji di Masjid Haram dan dibulan haram/suci. Dia mengatakan : “Akulah Allah, Akulah Allah, Akulah yang menciptakan dan Akulah yang membinasakan” -Mahasuci Allah dari apa yang ia katakan -. Tidak ada seorang yang thowaf dan bergantung di Kiswah Ka’bah melainkan mereka bunuh satu persatu.
Setelah itu mereka buang jasad-jasad tersebut ke sumur zam-zam. Dan mereka cungkil pintu Ka’bah dan mereka sobek kiswah Ka’bah serta mereka ambil hajar aswad dengan paksa. Pemimpin mereka (Abu Thohir) ketika melakukan hal tersebut dia mengatakan : “Dimana itu burung (Ababil), mana itu batu-batu yang (di buat melempar Abrahah)???” Mereka menyimpan hajar aswad di Mesir selama 22 tahun.6 6. Lihat Bidayah wan Nihayah hal. 160-161 oleh Ibnu Katsir. Ini adalah gambaran singkat kekufuran Bathiniyyah
D. Bagaimana Pendapat Ulama Tentang Kelompok Bathiniyyah (Fatimiyyun)???
Imam Abdul Qohir al-Baghdady (meninggal tahun 429 H) v berkata : “Madzhab Bathiniyyah bukan dari Islam, tapi dia dari kelompok Majusi (penyembah api)7. 7. Al-Farqu bainal Firoq oleh al-Baghdady hal. 22 Beliau juga berkata : “Ketahuilah bahwa bahayanya Bathiniyyah ini terhadap kaum muslimin lebih besar dari pada bahayanya Yahudi, Nasrani, Majusi serta dari semua orang kafir bahkan lebih dahsyat dari bahayanya Dajjal yang akan muncul di akhir zaman.” 8 8. Ibid hal.282
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v mengatakan : “Sesungguhnya Bathiniyyah itu orang yang paling fasik dan kafir. Barangsiapa yang mengira bahwa mereka itu orang yang beriman dan bertakwa serta membenarkan silsilah nasab mereka (pengakuan mereka dari keturunan ahli bait/Ali bin Abi Tholib,-pent) maka orang tersebut telah bersaksi tanpa ilmu. Allah berfirman :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya” (QS. Al-Isra: 36)
Imam Abdul Qohir al-Baghdady (meninggal tahun 429 H) v berkata : “Madzhab Bathiniyyah bukan dari Islam, tapi dia dari kelompok Majusi (penyembah api)7. 7. Al-Farqu bainal Firoq oleh al-Baghdady hal. 22 Beliau juga berkata : “Ketahuilah bahwa bahayanya Bathiniyyah ini terhadap kaum muslimin lebih besar dari pada bahayanya Yahudi, Nasrani, Majusi serta dari semua orang kafir bahkan lebih dahsyat dari bahayanya Dajjal yang akan muncul di akhir zaman.” 8 8. Ibid hal.282
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v mengatakan : “Sesungguhnya Bathiniyyah itu orang yang paling fasik dan kafir. Barangsiapa yang mengira bahwa mereka itu orang yang beriman dan bertakwa serta membenarkan silsilah nasab mereka (pengakuan mereka dari keturunan ahli bait/Ali bin Abi Tholib,-pent) maka orang tersebut telah bersaksi tanpa ilmu. Allah berfirman :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya” (QS. Al-Isra: 36)
Dan Allah berfirman :
“Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran sedang dia mengetahui” (QS.Az-Zukhruf : 86)
Para Ulama telah sepakat bahwa mereka adalah orang-orang zindik dan munafik. Mereka menampakkan ke-Islaman dan menyembunyikan kekufuran. Para Ulama juga sepakat bahwa pengakuan nasab mereka dari silsilah ahlul bait tidaklah benar. Para Ulama juga mengatakan bahwa mereka itu berasal dari keturunan Majusi dan Yahudi. Hal ini sudah tidak asing lagi bagi Ulama dari setiap madzhab baik Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, maupun Hanabilah serta ahli hadits, ahli kalam, pakar nasab dll (Majmu Fatawa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 35/120-132)
“Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran sedang dia mengetahui” (QS.Az-Zukhruf : 86)
Para Ulama telah sepakat bahwa mereka adalah orang-orang zindik dan munafik. Mereka menampakkan ke-Islaman dan menyembunyikan kekufuran. Para Ulama juga sepakat bahwa pengakuan nasab mereka dari silsilah ahlul bait tidaklah benar. Para Ulama juga mengatakan bahwa mereka itu berasal dari keturunan Majusi dan Yahudi. Hal ini sudah tidak asing lagi bagi Ulama dari setiap madzhab baik Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, maupun Hanabilah serta ahli hadits, ahli kalam, pakar nasab dll (Majmu Fatawa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 35/120-132)
Kesimpulan :
Jadi pelopor bid’ah maulid Nabi adalah kelompok Bathiniyyah 9 9. Ini pendapat yang kuat. Adapun yang mengatakan bahwa maulid tersebut dimulai tahun 604 H oleh Malik Mudoffar Abu Sa’id Kukburi maka ini tidak menafikan hal diatas karena awal maulid tahun 604 H ini di Mushil saja, adapun secara mutlak maka Bathiniyyahlah pencetus pertama Maulid Nabi didunia, khususnya di Mesir. (Lihat kitab “Al-Bida’ Al-Hauliyah” dan “Al-A’yad wa Atsaruha). yang mereka mempunyai cita-cita untuk merubah agama Islam ini dan memasukkan hal-hal yang bukan dari agama agar menjauhkan kaum muslimin dari agama yang benar ini. Menyibukkan manusia dari bid’ah (perayaan-perayaan bid’ah seperti maulid) adalah salah satu jalan yang mudah untuk mematikan Sunnah Nabi dan menjauhkan manusia dari syari’at Allah. 10 10 “Al-Bida’ Al-Hauliyah” Hal. 145, oleh Abdullah bin Abdul Aziz at-Tuwaijiry.
Jadi pelopor bid’ah maulid Nabi adalah kelompok Bathiniyyah 9 9. Ini pendapat yang kuat. Adapun yang mengatakan bahwa maulid tersebut dimulai tahun 604 H oleh Malik Mudoffar Abu Sa’id Kukburi maka ini tidak menafikan hal diatas karena awal maulid tahun 604 H ini di Mushil saja, adapun secara mutlak maka Bathiniyyahlah pencetus pertama Maulid Nabi didunia, khususnya di Mesir. (Lihat kitab “Al-Bida’ Al-Hauliyah” dan “Al-A’yad wa Atsaruha). yang mereka mempunyai cita-cita untuk merubah agama Islam ini dan memasukkan hal-hal yang bukan dari agama agar menjauhkan kaum muslimin dari agama yang benar ini. Menyibukkan manusia dari bid’ah (perayaan-perayaan bid’ah seperti maulid) adalah salah satu jalan yang mudah untuk mematikan Sunnah Nabi dan menjauhkan manusia dari syari’at Allah. 10 10 “Al-Bida’ Al-Hauliyah” Hal. 145, oleh Abdullah bin Abdul Aziz at-Tuwaijiry.
Sumber: situs lama mahad al-irsyad surabaya (sekarang sudah tidak aktif)
الأحد، ٨ أبريل ٢٠١٢
APAKAH KHIDIR 'alaihissalam MASIH HIDUP?
APAKAH KHIDIR 'alaihissalam MASIH HIDUP? (bagian-1)
Adapun perbedaan pendapat tentang keberadaannya sampai sekarang ini, jumhur ulama berpendapat bahwa dia masih tetap hidup sampai sekarang ini. Dalam hal ini, mereka menyebutkan banyak hadits yang dijadikan dalil yang menunjukkan bahwa Khidir 'alaihissalam masih hidup sampai sekarang ini. Mengenai hal tersebut akan kami kemukakan lebih lanjut pada pembahasan lainnya, insyaa Allah Ta’ala dan kepada-Nyalah kepercayaan disandarkan.
Berikut ini beberapa riwayat dan cerita yang menjadi sandaran bagi orang yang berpendaat bahwa Khidir 'alaihissalam masih hidup sampai sekarang ini.Semua hadits marfu’ dalam maslah ini derajatnya dha’if jiddan (lemah sekali) dan hadits yang seperti itu tidak dapat dijadikan sebagai hujjah dalam masalah agama. Kebanyakan dari cerita-cerita itu tidak lepas dari kelemahan sanad. Ringkasnya, cerita-cerita itu shahih dari orang yang tidak ma’shum, baik dari kalangan Shahabat radhiyallahu 'anhum maupun yang lainnya, karena bisa saja dia keliru atau salah. Wallahu A’lam.
’Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (20824), Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id dia bercerita, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menyampaikan hadits tentang masalah Dajjal kepada kami. Dalam kesempatan itu beliau bersabda:”Dajjal akan datang, dan dia diharamkan memasuki pelataran kota Madinah. Lalu datang kepadanya seorang laki-laki yang dia adalah manusia terbaik, atau dia salah satu manusia terbaik. Lalu dia berkata:’Aku bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar Dajjal yang diceritakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada kami di dalam hadits beliau.’ Dajjal berkata:’Bagaimana pendapatmu jika aku bunuh orang ini lalu kuhidupkan kembali, apakah kalian masih ragu-ragu juga? Mereka menjawab:’Tidak.’ Kemudian dia membunuhnya lalu menghidupkannya. Maka lak-laki berkata ketika hidup kembali:’Demi Allah, sekarang tidaklah kami lebih tahu tentang dirimu melebihi aku.’ Selanjutnya Dajjal hendak membunuh laki-laki itu untuk kedua kalinya, namun dia tidak mampu melakukannya.”
Mu’ammar mengemukakan:”Diberitahukan kepadaku bahwa Dajjal itu meletakkan lempengan dari tembaga di leher laki-laki itu (ketika membunuhnya), dan bahwasanya Khidir 'alaihissalam adalah orang yang dibunuh Dajjal dan dihidupkan kembali.”
Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan al-Faqih ar-Rawi, dari Muslim, berkata:”Yang benar adalah dikatakan:’Bahwa laki-laki itu adalah Khidir 'alaihissalam. Sedangkan ucapan Mu’ammar dan selainnya ‘‘diberitahukan kepadaku’’ di dalamnya tidak ada hujjah.” Dalam beberapa riwayat lain disebutkan:”Lalu dia (Dajjal) mendatangi remaja yang masih sangat muda, kemudian Dajjal membunuhnya.” Dan ucapannya:”Yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beritahukan kepada kami tentangnya (Dajjal) tidak menujukkan adanya penyampaian secara langsung dari mulut ke mulut, akan tetapi cukup mutawtir.”
Di dalam kitabnya ’Ajaalatul Muntazhar fii Syarh Haalatil Khidir,Syaikh Abul Faraj bin al-Jauzi menjelaskan bahwa hadits-hadits marfu’ tentang masalah di atas merupakan hadits-hadits maudhu’. Sedangkan atsar-atsar yang diperoleh para Shahabat radhiyallahu 'anhum, tabi’in dan orang-orang setelah mereka, maka dia menjelaskan kelemahan sanad-sanadnya dengan menjelaskan keadaan para rijalnya (perawinya) dan ketidakjelasan perawinya dan beliau telah melakukan hal itu dengan baik dan juga telah mengkritisinya dengan kritikan yang baik.
Sedangkan orang-orang yang berpendapat bahwa Khidir sudah meninggal dunia, maka di antara mereka adalah al-Bukhari, Ibrahim al-Harbi, Abu Husain al-Munadi, Syaikh Abul Faraj bin al-Jauzi rahimahumullah, yang ia memperkuat pendapatnya dengan menulis kitab yang berjudul ’Ajaalatul Muntazhar fii Syarh Haalatil Khidir. Berkenaan dengan hal tersebut, dia telah mengemukakan beberapa hujjah, di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ
”Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?”(QS. Al-Anbiyaa’: 34)
Maka Khidir, kalau dia adalah manusia pasti dia masuk kedalam keumuman ayat ini, tidak mungkin dielakkan, dan tidak boleh mengkhususkannya kecuali dengan dalil yang shahih. Dan hukum asalnya adalah tidak ada kekhususnan sebelum ada dalil yang menetapkannya. Dan tidak disebutkan dalil pengkhususan dari ma-shum (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) yang wajib untuk diterima.
Di antara hujjah yang lain adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ (81)
”Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.”(QS. Ali-‘Imraan: 81)
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:”Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan Dia mengambil perjanjian (dengan Nabi tersebut), jika Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam di utus dan Nabi itu masih hidup wajib baginya untuk beriman kepada Muhammad dan wajib menolongnya. Dan Dia juga memerintahkan Nabi tersebut untuk mengambil perjanjian (dengan ummatnya), jika Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam diutus dan mereka masih hidup wajib bagi mereka untuk beriman kepada Muhammad dan wajib menolongnya.” Disebutkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Maka Khidir, kalau dia adalah seorang Nabi atau Wali, berarti dia masuk ke dalam perjanjian ini. Seanadinya Khidir itu hidup di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam niscaya keadaan yang paling mulia baginya adalah berada di antara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beriman kepada apa yang diturunkan Allah kepada beliau shallallahu 'alaihi wasallam, menolongnya dari serangan musuh. Karena jika Khidir adalah Wali, niscaya ash-Shiddiq (Abu Bakar radhiyallahu 'anhu) lebih baik darinya, dan kalau dia Nabi maka Musa 'alaihissalam lebih baik darinya.
Imam Ahmad rahimahullah dalam musnadnya meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا، مَا وَسِعَهُ إِلا أَنْ يَتَّبِعَنِي) أخرجه أحمد، وحسنه الألباني(
”Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya Musa 'alaihissalam masih hidup, niscaya tidak ada jalan lain baginya melainkan dia akan mengikutiku.” (Dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah)
Dan inilah yang pasti dan telah diketahui secara mendasar dalam agama ini.
Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa seandainya para Nabi 'alaihimussalam itu masih hidup sampai zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pasti mereka akan menjadi pengikut beliau shallallahu 'alaihi wasallam, berada dalam perintah beliau dan keuniversalan syari’at beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Sebagiamana beliau shallallahu 'alaihi wasallam ketika berkumpul bersama para Nabi, maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam diangkat di atas mereka semua. Dan ketika mereka turun bersama beliau ke Baitul Maqdis dan tiba waktu shalat, maka atas perintah Allah Jibril 'alaihissalam menyuruh beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjadi imam bagi mereka. Lalu, beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengimami mereka di daerah dan tempat tinggal mereka. Hal ini menunjukkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang imam yang agung sekaligus penutup para Rasul Shalawatullah wa Salaamuhu ‘alaihi wa ‘alaihim ajma’iin.
Jika hal ini telah diketahui –yang hal itu sudah diketahui oleh setiap mukmin-, maka akan diketahuilah bahwasanya jika Khidir 'alaihissallaam masih hidup pasti dia termasuk golongan ummat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dan dia termasuk orang yang mengikuti Syari’at beliau dan tidak boleh mencari Syari’at selainnya.
Lihatlah ‘Isa bin Maryam 'alaihissallaam, apabila dia turun di akhir zaman dia akan berhukum dengan syar’iat Islam yang suci ini, tidak keluar darinya, dan tidak menyimpang darinya, padahal dia adalah salah satu dari lima Rasul Ulul ‘Azmi dan penutup nabi-nabi Bani Israil. Dan sudah diketahui bahwa tidak pernah dinukil baik dengan sanad shahih maupun hasan bahwa dia pernah berkumpul bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu hari, dan juga dia tidak pernah sekalipun mengikuti peperangan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lihatlah perang Badar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdo’a kepada Rabbnya, meminta pertolongan dan kemenangan atas musuhnya:
اللهم إن تهلك هذه العصابة لا تعبد بعدها في الأرض
اللهم إن تهلك هذه العصابة لا تعبد بعدها في الأرض
”Ya Allah, jika Engkau akan membinasakan golongan (pasukan) ini, niscaya Engkau tidak akan diibadahi lagi setelahnya di muka bumi.” (HR. Muslim: 1863)
Sedangkan golongan (pasukan) tersebut di dalamnya ada para pemuka/pemimpin kaum Muslimin, dan para pemimipin Malaikat hingga Jibri 'alaihissallaam.
Dengan demikian, jika Khidir 'alaihissallaam itu masih hidup, niscaya keberadaannya di bawah panji pasukan ini adalah posisi yang paling mulia dan perang paling besar yang pernah dia ikuti. Bersambung Insya Allah….
(Sumber: Kisah Shahih Para Nabi, Syaikh Salim al-Hilali hafizhahullah, edisi Indonesia. Pustaka Imam asy-Syafi’i hal 356-361 dengan sedikit gubahan. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono) http://www.alsofwah.or.id
الجمعة، ٦ أبريل ٢٠١٢
Tokoh Pendidikan Nasional Bukan Ki Hajar Dewantoro
Adian Husaini: Tokoh Pendidikan Nasional Bukan Ki Hajar Dewantoro
DEPOK (Voa-Islam) – Dalam bidang pemikiran, ada kesan, telah terjadi dua kutub yang berbeda, yakni kelompok yang mengagungkan akal, dan yang menafikan akal. Padahal Imam Ghazali meletakkan wahyu dan akal seperti mata dan cahaya. Begitu juga Ibnu Qayyim al-Jauziyyah yang mengatakan, untuk mencari kebenaran, wahyu harus diikuti dengan akal sehat.“Menolak akal adalah sikap yang tidak benar. Untuk memahami Al-Qur’an secara benar, tentu dengan menggunakan metode berpikir. Akal dan wahyu harus seiring sejalan. Kita tak harus membenci Barat, tapi kita perlu memahami Barat. Naqib al Al Atas pernah mengatakan, bila ingin jadi muslim yang baik, maka harus memahami Barat. Hal inilah yang sekarang dirusak di perguruan tinggi umum maupun Islam,” kata Adian Husaini dalam sebuah diskusi pemikiran di Depok.
Diakui Adian, saat ini kaum sepilis (secular, plural dan liberal) semakin cerdik. Suatu ketika, peneliti INSIST itu pernah diundang oleh Asosiasi Guru Agama sebagai pembicara untuk membedah buku pendidikan nilai multikultur dalam kurimkulum Pendidikan Agama Islam (PAI) -- diterbitkan oleh Kementerian Agama bekerjsama dengan Yayasan Tifa dan Rohima Foundation, sebuah yayasan liberal.
Cerdiknya, buku agama itu melampirkan fatwa MUI tantang Haramnya Sepilis, sehingga para guru agama itu merasa aman. Namun dalam buku itu tetap saja sesat, karena telah menjabarkan konsep multikultural. Buku itu tidak menjelaskan mana kultur yang halal dan mana yang haram. Yang jelas, telah melepas Islamic viewnya (sudut pandang Islamnya). “Mereka sangat lihai untuk menipu umat Islam. Karena memang, setan tak akan berhenti untuk menyesatkan manusia.”
Dari Cak Nur ke Gus Hamid
Dikatakan Adian Husaini, era sekularisasi Nurcholish Madjid alias Cak Nur kini telah memasuki senja, meski belum dikatakan berakhir. Kini adalah eranya Islamisasi Gus Hamid – sapaan akrab Direktur INSIST Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi.“Gus Hamid ini anaknya kyai, sayang kalau tidak dimanfaatkan. Inilah momemtum bersejarah. Sebuah peralihan dari Cak Nur ke Gus Hamid, “ kata Adian.
Adian menjelaskan, Cak Nur telah mewarisi buku-buku dan pemikiran sekularnya di kalangan akademis. Bahkan setiap tahunnya diperingati untuk mengenang kontribusi beliau di bidang pemikiran, hingga dibuat Jurnal khusus: Nurcholish Society. Cak Nur boleh dikatakan sudah disakralkan
Dalam sebuah workshop, Adian pernah diundang sebagai pembicara untuk mengkritik pemikiran liberal Cak Nur. Namun di tengah acara, ia diinterupsi peserta yang hadir dan diminta berhenti mengkritik Cak Nur. Hingga saat ini ketokohan Cak Nur menjadi besar karena pengaruh media. Sampai-sampai ia dilekatkan sebagai tokoh nasional dan tokoh Islam di Tanah Air.
Adian Husaini tak habis pikir, kenapa anak-anak pelajar sekarang, jika ditanya, siapa tokoh pendidikan nasional? Mereka biasanya akan menjawab, Ki Hajar Dewantoro. Padahal itu jawaban yang menyesatkan. Seharusnya yang menjadi tokoh pendidikan nasional adalah Sunan Ampel, mengingat beliau adalah tokoh Islam pertama yang menjadikan madarasah sebagai ladang ilmu bagi kaum terpelajar. Atau para pendiri Gontor, atau pendiri Hidayatullah. Ini akibat cara berpikir yang tidak Islamic View. (Desastian)
http://www.voa-islam.com
Hotpants, Jangan harap mencium bau surga
Rasulullah bersabda, "ada golongan penduduk neraka yang tidak pernah aku saksikan, yakni: Wanita yang berpakaian tapi telanjang. Mereka melenggak-lenggokkan tubuhnya dan kepalanya, bagaikan punu kunta yang miring. Mereka tidak masuk Surga, tidak pula mencium baunya, meskipun Surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian. (HR. Muslim).
Asal Usul Hotpants
Celana pendek yang berasal dari benua Eropa pada abad ke-19, pertama kali dipakai oleh anak-anak yang dianggap belum dewasa. Pada periode ini, laki-laki tidak berani memakainya karena takut dianggap tidak dewasa. Apalagi seorang perempuan, tidak diperbolehkan memakai celana pendek karena ikatan norma yang berlaku. Celana pendek digunakan oleh anak laki-laki hingga ia mencapai umur tertentu. Namun, sekarang baik laki-laki dan wanita dewasa pun mengenakan celana pendek.
Pada tahun 1930-an celana jenis ini mulai meluas penggunaannya, pria dan wanita memakainya untuk berolah raga, tapi bukan untuk kegiatan yang lain. Celana olah raga biasanya tidak lebih pendek dari lutut. Waktu berganti, dan pada tengah abad ke 20, celana pendek sudah umum digunakan di musim panas.
Dulu, dikalangan prostitusi Eropa, hotpants digunakan sebagai pengganti dari miniskirt yang suka dipakai cewek-cewek PSK pada tahun 1970-an. Alasannya, biar terlihat lebih seksi, terutama aurat pada bagian paha wanita. Di Amerika sendiri, Hotpants dipopulerkan oleh klub baseball Philadelphia Phillies dengan Hotpants Patrolnya.
Tahukah, bagaimana musuh-musuh Islam menghantam Islam tanpa sebuah peperangan? Tidak ada cara yang paling efektif dan efisien, selain menghilangkan perasaan malu yang dimiliki kaum muslimahnya. Lewat mode (fashion) itulah dinul Islam muslimah dipalingkan. Ingatlah pesan Rasulullah saw: "Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk kaum itu." (HR. Abu Daud).
Asal Usul Hotpants
Celana pendek yang berasal dari benua Eropa pada abad ke-19, pertama kali dipakai oleh anak-anak yang dianggap belum dewasa. Pada periode ini, laki-laki tidak berani memakainya karena takut dianggap tidak dewasa. Apalagi seorang perempuan, tidak diperbolehkan memakai celana pendek karena ikatan norma yang berlaku. Celana pendek digunakan oleh anak laki-laki hingga ia mencapai umur tertentu. Namun, sekarang baik laki-laki dan wanita dewasa pun mengenakan celana pendek.
Pada tahun 1930-an celana jenis ini mulai meluas penggunaannya, pria dan wanita memakainya untuk berolah raga, tapi bukan untuk kegiatan yang lain. Celana olah raga biasanya tidak lebih pendek dari lutut. Waktu berganti, dan pada tengah abad ke 20, celana pendek sudah umum digunakan di musim panas.
Dulu, dikalangan prostitusi Eropa, hotpants digunakan sebagai pengganti dari miniskirt yang suka dipakai cewek-cewek PSK pada tahun 1970-an. Alasannya, biar terlihat lebih seksi, terutama aurat pada bagian paha wanita. Di Amerika sendiri, Hotpants dipopulerkan oleh klub baseball Philadelphia Phillies dengan Hotpants Patrolnya.
Tahukah, bagaimana musuh-musuh Islam menghantam Islam tanpa sebuah peperangan? Tidak ada cara yang paling efektif dan efisien, selain menghilangkan perasaan malu yang dimiliki kaum muslimahnya. Lewat mode (fashion) itulah dinul Islam muslimah dipalingkan. Ingatlah pesan Rasulullah saw: "Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk kaum itu." (HR. Abu Daud).
السبت، ٢١ يناير ٢٠١٢
Kisah IslamnyaSahabat abu Dzar Al-Ghifari
Dari Abdullah bin Ash-Shamit, ia mengatakan bahwa Abu Dzar menuturkan, “Kami keluar dari kaum kami (Ghifar), dan mereka menghalalkan bulan suci. Aku keluar bersama adikku, Unais, dan ibu kami. Kami singgah di rumah paman kami (dari pihak ibu). Paman memuliakan kami dan berbuat baik kepada kami, sehingga kaumnya iri hati terhadap kami. Kata mereka, ‘Jika kamu pergi meninggalkan keluargamu, maka Unais memimpin mereka.’ Kemudian pamanku datang lalu menyampaikan kepada kami apa yang dikatakan kepadanya. Mendengar hal itu kami mengatakan, ‘Kebaikan yang anda perbuat selama ini telah anda cemari. Kami tidak bisa meneruskan hubungan lagi denganmu.’
Kemudian kami mendekati sekawanan unta kami dan kami menungganginya. Sedangkan paman kami menutup wajahnya dengan pakaiannya sambil menangis. Kami pun pergi sehingga kami tiba di gerbang kota Mekkah. Unais membangga-banggakan sekawanan unta kami dibandingkan unta lainnya. Keduanya lalu pergi kepada seorang dukun (sebagai hakim untuk memutuskan keduanya siapa yang lebih baik), lalu hakim tersebut menilai milik Unaislah yang terbaik. Lalu Unais datang kepada kami dengan membawa sekawanan unta kami bersama unta lainnya.
Ia mengatakan, ‘Aku sudah melaksanakan shalat, wahai saudaraku, tiga tahun sebelum aku bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Aku bertanya, ‘Karena siapa?’ Ia menjawab, ‘Karena Allah.’ Aku bertanya, ‘Kemana kamu menghadap?’ Ia menjawab, ‘Aku menghadap di mana Tuhanku menghadap kepadaku. Aku shalat isya’ hingga ketika akhir malam, aku terhempas seolah-olah aku pakaian, hingga matahari terbit.’
Unais berkata, ‘Aku perlu pergi ke Makkah, berilah aku bekal.’ Ia pun berangkat hingga sampai di Makkah, dan cukup lama meninggalkanku. Kemudian ia kembali, maka aku bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan di Makkah?’ Ia menjawab, ‘Di Makkah aku bertemu dengan seorang laki-laki yang beragama seperti kamu, yang menyangka bahwa Allah telah mengutusnya (sebagai rasul).’ Aku bertanya, ‘Apa yang dikatakan orang-orang?’ Mereka mengatakannya sebagai penyair, dukun dan penyihir.’ Unais adalah seorang penyair.
Kata Unais, ‘Aku telah mendengar ucapan-ucapan para dukun, tetapi ucapan orang ini tidak seperti ucapan mereka. Aku telah membandingkan ucapannya dengan cara (yang ditempuh) para penyair, tetapi tidak ada yang sesuai dengan ucapan seorang pun, bahwa itu syair. Demi Allah, ia benar dan mereka berdusta’.”
Aku katakan, ‘Berilah aku bekal untuk pergi ke Makkah dan melihat orang itu.’ Aku pun tiba di Makkah, dan mencari orang yang paling lemah di antara mereka, lalu aku bertanya, ‘Di manakah orang yang kamu katakan sebagai Shabi’ (pembawa agama) itu?’ Ia mengisyaratkan kepadaku seraya mengatakan, ‘(Kamu) shabi’.’ Maka penduduk lemah itu melempariku dengan batu dan tulang sehingga aku jatuh pingsan.
Ketika aku terbangun, seolah-olah aku batu merah karena banyaknya darah di tubuhku. Kemudian aku menuju sumur Zam-zam untuk membersihkan darah dari tubuhku dan minum airnya. Aku sudah berada ditempat ini, wahai anak saudaraku, selama 30 hari 30 malam, tanpa memakan sesuatu pun selain air Zam-zam. Aku menjadi gemuk sehingga hilang lekukan perutku dan aku tidak pernah merasa lemah karena kelaparan.
Tatkala penduduk Makkah di malam purnama yang terang benderang, ketika mereka telah tidur, tidak ada seorang pun yang thawaf di Ka`bah, selain dua orang wanita yang bernama Isaf dan Na’ilah.
Lalu keduanya datang kepadaku dalam thawaf keduanya, maka aku katakan, ‘Nikahlah salah satu dari kalian.’ keduanya mengomel tidak karuan. Lalu keduanya datang kepadaku, maka aku katakan, ‘Aku lelaki perkasa.’ Kemudian keduanya pergi sambil mencaci maki dan mengatakan, ‘Seandainya di sini ada seseorang dari para pembela kami.’
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar menyambut keduanya, saat keduanya turun. Beliau bertanya, ‘Ada apa dengan kalian berdua?’ Keduanya menjawab, ‘Ada shabi’ di antara Ka’bah dengan penutupnya.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang diucapkan kepada kalian berdua?’ Ia menjawab, ‘Ia mengatakan kepada kami dengan ucapan yang tidak pantas.’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang hingga mencium hajar Aswad. Beliau thawaf di Baitullah beserta sahabatnya, kemudian mengerjakan shalat. Setelah menyelesaikan shalatnya, -Abu Dzar mengatakan, ‘Aku adalah mula-mula orang mengucapkan salam kepadanya dengan salam Islam-, maka aku mengucapkan, ‘As-Salamu `alaika, ya Rasulallah!’ Beliau menjawab, ‘Wa `alaika wa rahmatullah.‘ Kemudian beliau bertanya, ‘Siapa kamu?’ Aku menjawab, ‘Dari Ghifar.’
Tapi, lanjut Abu Dzar, beliau menarik tangannya dan meletakkan jarinya pada dahinya. Aku bergumam dalam hatiku, ‘Mungkin beliau tidak suka jika aku menyebut Ghifar.’ Aku pun pergi untuk memegang tangan beliau tapi sahabatnya menghalangiku, dan dia lebih tahu daripadaku. Kemudian beliau mengangkat kepalanya seraya bertanya, ‘Sejak kapan kamu berada di sini?’ Aku menjawab, ‘Sejak 30 hari 30 malam yang lalu.’ Beliau bertanya, ‘Siapa yang memberimu makan?’ Aku menjawab, ‘Aku tidak pernah memakan makanan kecuali air Zam-zam. Aku menjadi gemuk sehingga lekukan perutku hilang, dan aku tidak pernah lemah karena kelaparan.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Air Zam-zam itu memberikan keberkahan. Ia adalah makanan yang mengenyangkan.’
Abu Bakar berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku malam ini untuk menjamunya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar pergi, dan aku ikut pergi bersama keduanya. (Setelah sampai rumahnya) Abu Bakar membuka pintu dan menyuguhkan kepada kami kismis Tha’if. Itulah jamuan pertama yang aku santap. Kemudian aku boleh pergi sesukaku. Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku suatu negeri yang memiliki banyak pohon kurma. Aku tidak melihatnya kecuali Yatsrib; apakah kamu sudi menyampaikan kepada kaummu tentang dakwahku? Mudah-mudahan Allah memberi manfaat kepada mereka berkat dakwahmu dan memberi pahala kepadamu karena mendakwahi mereka.’
Kemudian aku mendatangi Unais, maka ia bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan di sana?’ Aku menjawab, ‘Yang aku perbuat ialah bahwasanya aku telah masuk Islam dan beriman.’ Unais berkata, ‘Aku tidak membenci agamamu. Sebab aku sudah masuk Islam dan beriman.’ Lalu kami menemui ibu kami, maka ibu mengatakan, ‘Aku tidak membenci agama kalian. Sebab aku telah masuk Islam dan telah beriman.’ Kemudian kami berangkat hingga datang pada kaum kami, Ghifar. Maka, sebagian dari suku Ghifar masuk Islam. Mereka dipimpin oleh ‘Ima’ bin Ruh-shah al-Ghifari, sesepuh mereka.
Sementara separuh dari suku Ghifar lainnya mengatakan, ‘Jika kelak Rasulullah telah sampai di Madinah, maka kami akan masuk Islam.’ Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, separuh dari suku Ghifar yang tersisa masuk ke dalam Islam. Mereka datang untuk masuk Islam seraya mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, saudara-saudara kami telah masuk Islam, maka kami pun masuk Islam.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa, ‘Semoga suku Ghifar mendapatkan ampunan Allah. Dan suku Aslam, semoga Allah menyelamatkan mereka dari siksaan Neraka.” (Muslim, No. 2473.)
Sumber : 99 Kisah Orang Shalih (alsofwah.or.id)
Artikel www.KisahMuslim.com
Kemudian kami mendekati sekawanan unta kami dan kami menungganginya. Sedangkan paman kami menutup wajahnya dengan pakaiannya sambil menangis. Kami pun pergi sehingga kami tiba di gerbang kota Mekkah. Unais membangga-banggakan sekawanan unta kami dibandingkan unta lainnya. Keduanya lalu pergi kepada seorang dukun (sebagai hakim untuk memutuskan keduanya siapa yang lebih baik), lalu hakim tersebut menilai milik Unaislah yang terbaik. Lalu Unais datang kepada kami dengan membawa sekawanan unta kami bersama unta lainnya.
Ia mengatakan, ‘Aku sudah melaksanakan shalat, wahai saudaraku, tiga tahun sebelum aku bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Aku bertanya, ‘Karena siapa?’ Ia menjawab, ‘Karena Allah.’ Aku bertanya, ‘Kemana kamu menghadap?’ Ia menjawab, ‘Aku menghadap di mana Tuhanku menghadap kepadaku. Aku shalat isya’ hingga ketika akhir malam, aku terhempas seolah-olah aku pakaian, hingga matahari terbit.’
Unais berkata, ‘Aku perlu pergi ke Makkah, berilah aku bekal.’ Ia pun berangkat hingga sampai di Makkah, dan cukup lama meninggalkanku. Kemudian ia kembali, maka aku bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan di Makkah?’ Ia menjawab, ‘Di Makkah aku bertemu dengan seorang laki-laki yang beragama seperti kamu, yang menyangka bahwa Allah telah mengutusnya (sebagai rasul).’ Aku bertanya, ‘Apa yang dikatakan orang-orang?’ Mereka mengatakannya sebagai penyair, dukun dan penyihir.’ Unais adalah seorang penyair.
Kata Unais, ‘Aku telah mendengar ucapan-ucapan para dukun, tetapi ucapan orang ini tidak seperti ucapan mereka. Aku telah membandingkan ucapannya dengan cara (yang ditempuh) para penyair, tetapi tidak ada yang sesuai dengan ucapan seorang pun, bahwa itu syair. Demi Allah, ia benar dan mereka berdusta’.”
Aku katakan, ‘Berilah aku bekal untuk pergi ke Makkah dan melihat orang itu.’ Aku pun tiba di Makkah, dan mencari orang yang paling lemah di antara mereka, lalu aku bertanya, ‘Di manakah orang yang kamu katakan sebagai Shabi’ (pembawa agama) itu?’ Ia mengisyaratkan kepadaku seraya mengatakan, ‘(Kamu) shabi’.’ Maka penduduk lemah itu melempariku dengan batu dan tulang sehingga aku jatuh pingsan.
Ketika aku terbangun, seolah-olah aku batu merah karena banyaknya darah di tubuhku. Kemudian aku menuju sumur Zam-zam untuk membersihkan darah dari tubuhku dan minum airnya. Aku sudah berada ditempat ini, wahai anak saudaraku, selama 30 hari 30 malam, tanpa memakan sesuatu pun selain air Zam-zam. Aku menjadi gemuk sehingga hilang lekukan perutku dan aku tidak pernah merasa lemah karena kelaparan.
Tatkala penduduk Makkah di malam purnama yang terang benderang, ketika mereka telah tidur, tidak ada seorang pun yang thawaf di Ka`bah, selain dua orang wanita yang bernama Isaf dan Na’ilah.
Lalu keduanya datang kepadaku dalam thawaf keduanya, maka aku katakan, ‘Nikahlah salah satu dari kalian.’ keduanya mengomel tidak karuan. Lalu keduanya datang kepadaku, maka aku katakan, ‘Aku lelaki perkasa.’ Kemudian keduanya pergi sambil mencaci maki dan mengatakan, ‘Seandainya di sini ada seseorang dari para pembela kami.’
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar menyambut keduanya, saat keduanya turun. Beliau bertanya, ‘Ada apa dengan kalian berdua?’ Keduanya menjawab, ‘Ada shabi’ di antara Ka’bah dengan penutupnya.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang diucapkan kepada kalian berdua?’ Ia menjawab, ‘Ia mengatakan kepada kami dengan ucapan yang tidak pantas.’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang hingga mencium hajar Aswad. Beliau thawaf di Baitullah beserta sahabatnya, kemudian mengerjakan shalat. Setelah menyelesaikan shalatnya, -Abu Dzar mengatakan, ‘Aku adalah mula-mula orang mengucapkan salam kepadanya dengan salam Islam-, maka aku mengucapkan, ‘As-Salamu `alaika, ya Rasulallah!’ Beliau menjawab, ‘Wa `alaika wa rahmatullah.‘ Kemudian beliau bertanya, ‘Siapa kamu?’ Aku menjawab, ‘Dari Ghifar.’
Tapi, lanjut Abu Dzar, beliau menarik tangannya dan meletakkan jarinya pada dahinya. Aku bergumam dalam hatiku, ‘Mungkin beliau tidak suka jika aku menyebut Ghifar.’ Aku pun pergi untuk memegang tangan beliau tapi sahabatnya menghalangiku, dan dia lebih tahu daripadaku. Kemudian beliau mengangkat kepalanya seraya bertanya, ‘Sejak kapan kamu berada di sini?’ Aku menjawab, ‘Sejak 30 hari 30 malam yang lalu.’ Beliau bertanya, ‘Siapa yang memberimu makan?’ Aku menjawab, ‘Aku tidak pernah memakan makanan kecuali air Zam-zam. Aku menjadi gemuk sehingga lekukan perutku hilang, dan aku tidak pernah lemah karena kelaparan.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Air Zam-zam itu memberikan keberkahan. Ia adalah makanan yang mengenyangkan.’
Abu Bakar berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku malam ini untuk menjamunya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar pergi, dan aku ikut pergi bersama keduanya. (Setelah sampai rumahnya) Abu Bakar membuka pintu dan menyuguhkan kepada kami kismis Tha’if. Itulah jamuan pertama yang aku santap. Kemudian aku boleh pergi sesukaku. Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku suatu negeri yang memiliki banyak pohon kurma. Aku tidak melihatnya kecuali Yatsrib; apakah kamu sudi menyampaikan kepada kaummu tentang dakwahku? Mudah-mudahan Allah memberi manfaat kepada mereka berkat dakwahmu dan memberi pahala kepadamu karena mendakwahi mereka.’
Kemudian aku mendatangi Unais, maka ia bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan di sana?’ Aku menjawab, ‘Yang aku perbuat ialah bahwasanya aku telah masuk Islam dan beriman.’ Unais berkata, ‘Aku tidak membenci agamamu. Sebab aku sudah masuk Islam dan beriman.’ Lalu kami menemui ibu kami, maka ibu mengatakan, ‘Aku tidak membenci agama kalian. Sebab aku telah masuk Islam dan telah beriman.’ Kemudian kami berangkat hingga datang pada kaum kami, Ghifar. Maka, sebagian dari suku Ghifar masuk Islam. Mereka dipimpin oleh ‘Ima’ bin Ruh-shah al-Ghifari, sesepuh mereka.
Sementara separuh dari suku Ghifar lainnya mengatakan, ‘Jika kelak Rasulullah telah sampai di Madinah, maka kami akan masuk Islam.’ Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, separuh dari suku Ghifar yang tersisa masuk ke dalam Islam. Mereka datang untuk masuk Islam seraya mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, saudara-saudara kami telah masuk Islam, maka kami pun masuk Islam.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa, ‘Semoga suku Ghifar mendapatkan ampunan Allah. Dan suku Aslam, semoga Allah menyelamatkan mereka dari siksaan Neraka.” (Muslim, No. 2473.)
Sumber : 99 Kisah Orang Shalih (alsofwah.or.id)
Artikel www.KisahMuslim.com
Islamnya sejumlah Tokoh Quraisy (Fathu Makkah)
(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)
Makkah sudah takluk. Penduduknya sedang menanti keputusan Rasulullah n. Maka mulailah hati para pemimpin Quraisy merenungkan Islam. Perlahan-lahan, Islam mulai menembus jantung hati mereka.
Islamnya Abu Sufyan bin Al-Harits
Di Abwa’ sebelum memasuki Makkah, Rasulullah n bertemu dengan ‘Abdullah bin Abi Umayyah dan Abu Sufyan bin Al-Harits. Tapi beliau berpaling dari mereka berdua mengingat betapa hebatnya permusuhan dan kejahatan mereka terhadap beliau dan kaum muslimin.
Ummu Salamah x berkata kepada beliau: “Janganlah sampai putra paman dan bibi anda menjadi orang yang paling celaka karena anda.”
Sementara itu, ‘Ali bin Abi Thalib z berkata kepada Abu Sufyan: “Datangilah Rasulullah n dari depan. Berkatalah kepada beliau seperti perkataan saudara-saudara Nabi Yusuf q:
“Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” (Yusuf: 91)
Karena beliau tidak suka ada yang lebih baik perkataannya dari beliau.”
Abu Sufyan melakukan hal itu. Maka Rasulullah n berkata (membacakan ayat 92):
“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf: 92)
Setelah itu Abu Sufyan melantunkan syairnya:
Demi umurmu, sungguh ketika aku membawa bendera
Agar prajurit Latta mengalahkan tentara Muhammad
Bagai orang Mudlij yang kebingungan diselimuti kegelapan malam
Inilah waktuku ketika hidayah datang lalu aku menyambutnya
Aku diberi hidayah oleh Haadi (Sang Pemberi hidayah) bukan diriku, dan aku ditunjuki
Kepada Allah, oleh dia yang dahulu kuusir dengan sebenar-benarnya
Mendengar ini, Rasulullah n menepuk dadanya sambil berkata: “Engkaulah yang telah mengusirku dengan sebenar-benarnya.”
Sejak saat itu baiklah Islamnya. Bahkan dikisahkan, belum pernah dia mengangkat kepala menatap Rasulullah n, karena merasa malu. Rasulullah n pun mencintai beliau dan mempersaksikannya akan masuk surga. Kata beliau: “Saya harap dia menjadi pengganti Hamzah.”
Ketika wafatnya, Abu Sufyan berkata kepada keluarganya: “Janganlah kalian tangisi aku. Karena demi Allah, aku tidak pernah berbuat dosa sejak aku masuk Islam.”
Demikianlah ketika tauhid itu tertanam kokoh di dalam hati seseorang. Apalagi bila diikrarkan dengan penuh keyakinan dan kejujuran yang sempurna, niscaya tidak mungkin orang yang mengucapkan kalimat tauhid itu mudah untuk terjatuh dalam perbuatan dosa atau terus-menerus berbuat dosa. Semoga Allah l meridhai Abu Sufyan bin Al-Harits, sepupu dan saudara sesusuan Rasulullah n.
Islamnya Suhail bin ‘Amr
Suhail bin ‘Amr adalah salah seorang pemuka dan orator ulung bangsa Quraisy. Dialah yang selama ini menghasut orang-orang agar menyerang dan memerangi kaum muslimin dengan segenap kekuatan. Pedasnya ucapan Suhail benar-benar menyakiti kaum muslimin. Sampai-sampai ‘Umar bin Al-Khaththab z, ketika melihatnya tertawan dalam perang Badr meminta izin kepada Nabi n: “Biarkan saya patahkan dua gigi serinya, agar dia tidak dapat lagi berpidato menyerang kita (dengan ucapannya).” Tapi Nabi n hanya mengatakan: “Biarlah. Mungkin suatu ketika gigi itu akan membuatmu senang.”
Akhirnya, Suhail tetap dibiarkan hidup memerangi Islam dan kaum muslimin dengan dua senjata, pedang dan lisannya. Tibalah peristiwa Hudaibiyah yang sudah kami ceritakan. Tatkala datang Suhail bin ‘Amr sebagai delegasi Quraisy, dan Nabi n berkata dengan optimis: “Sungguh urusan kalian benar-benar telah menjadi mudah. Mereka sungguh-sungguh ingin berdamai ketika mengutus orang ini.”
Sebelumnya, Quraisy sudah menyatakan kepada Suhail: “Datangi Muhammad (n), ajaklah dia berdamai. Hendaknya dia kembali tahun ini. Jangan sampai bangsa ‘Arab beranggapan kalau dia masuk tahun ini, kita telah dikalahkan Muhammad (n).”
Dibuatlah perjanjian sebagaimana disebutkan dalam kisah Hudaibiyah beberapa edisi lalu. Suhail tetap menampakkan sikap permusuhannya terhadap Islam sampai terjadinya Fathu Makkah.
Rasulullah n memasuki Baitullah, lalu keluar dan bertelekan di pintu Ka’bah seraya berkata: “Apa yang akan kalian katakan?”
Maka berkatalah Suhail bin ‘Amr: “Kami hanya mengatakan yang baik, dan menyangka sesuatu yang baik. (Anda) saudara yang mulia, putra saudara yang mulia dan anda menang.”
Kata beliau: “Saya hanya katakan kepada kalian sebagaimana ucapan Nabi Yusuf kepada para saudaranya (sebagaimana firman-Nya):
“Tiada celaan atas kalian pada hari ini.”
Pergilah. Kalian semua bebas.”
Mendengar ini, luluhlah hati Suhail dan orang-orang yang bersamanya, dalam keadaan malu, segan melihat pekerti agung Nabi n dan kasih sayangnya yang membuat akal manusia terbang keheranan. Lidah pun kelu, tak mampu berucap sepatah kata pun.
Mulailah bersemi rasa cinta di dalam hati Suhail kepada Nabi n. Tumbuh pula kecondongannya kepada Islam. Dia pun datang kepada putranya Abu Jandal (yang telah muslim, red.) agar memintakan jaminan keamanan kepada Nabi n.
Rasulullah n memberinya jaminan keamanan. Setelah itu, Suhail ikut berangkat menuju Hunain bersama Rasulullah n dalam keadaan masih musyrik, sampai dia masuk Islam di Ji’ranah. Kemudian Rasulullah n memberinya waktu itu seratus ekor unta dari ghanimah Hunain. Semakin bertambah rasa takluk dan malu dalam hati Suhail.
Tak lama, Islam mulai tumbuh mekar dalam hati Suhail, hingga dia berusaha sekuat tenaga mengganti apa-apa yang pernah hilang darinya. Hatinya setiap saat merasa teriris-iris ketika mengingat betapa jauhnya dia selama ini dari ketaatan kepada Allah l. Keras kepala, kesombongan, dan peperangan sungguh-sungguh telah membuat mereka buta. Setelah tabir itu tersingkap, tampaklah hakikat iman di depan mata mereka, bahkan diresapi oleh hati-hati mereka.
Beberapa sahabat dan orang-orang yang datang sesudah mereka mempersaksikan: “Tidak ada satu pun pembesar Quraisy yang belakangan masuk Islam, lalu masuk Islam ketika Fathu Makkah, yang lebih banyak shalatnya, puasanya, dan sedekahnya daripada Suhail. Bahkan tidak ada yang lebih semangat terhadap hal-hal yang mendukung kepada akhirat dibandingkan Suhail bin ‘Amr.”
Bahkan diceritakan, warna kulitnya berubah dan dia sering menangis ketika membaca Al-Qur’an.
Pernah terlihat, dia selalu menemui Mu’adz bin Jabal z yang ditugasi Rasulullah n mengajari penduduk Makkah tentang syariat Islam. Lalu ada yang berkata kepadanya: “Kamu mendatangi Mu’adz? Mengapa engkau tidak mendatangi salah seorang dari Quraisy untuk mengajarimu?”
Suhail menukas: “Inilah yang telah mereka melakukan sehingga mengalahkan kami. Demi umurku, aku selalu mendatanginya. Islam telah menghinakan sikap-sikap jahiliah. Allah mengangkat dengan Islam ini suatu kaum yang sama sekali tidak terkenal di masa jahiliah. Duhai kiranya kami bersama mereka, dan kami juga mendahului.”
Itulah keikhlasan. Itulah keimanan, ketika menghunjam di dalam hati. Karena hakikat ikhlas adalah terdorongnya hati kepada Allah l dengan bertaubat dari segala dosa dengan taubat nasuha.
Suhail terus melangkah. Menelusuri jalannya menuju surga Ar-Rahman dan untuk menebus apa yang luput darinya. Dialah yang mengucapkan kata-kata yang terkenal ini: “Demi Allah. Saya tidak akan biarkan satu tempat pun yang di situ saya berada bersama kaum musyrikin melainkan saya berada di sana bersama kaum muslimin seperti itu juga. Tidak ada satu pun nafkah yang dahulu saya serahkan bersama kaum musryikin melainkan saya infakkan pula kepada kaum muslimin yang serupa dengannya. Mudah-mudahan urusanku dapat menyusul satu sama lainnya.”
Setelah Nabi n wafat, beberapa kabilah mulai murtad dari Islam, bahkan penduduk Makkah mulai goyah. Bangkitlah Suhail mengingatkan bangsanya: “Wahai penduduk Makkah. Kalian adalah manusia yang paling akhir masuk ke dalam agama Muhammad (n), maka janganlah kalian menjadi orang pertama yang keluar darinya….”
Kemudian dia melanjutkan: “Siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad (n) sudah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak akan pernah mati.”
Mungkin inilah rahasianya, mengapa Rasulullah n dahulu melarang ‘Umar bin Al-Khaththab z mematahkan gigi seri Suhail. Dikisahkan, ‘Umar pun tersenyum mendengar berita pembelaan Suhail z terhadap Islam ini.
Suhail tetap teguh di atas kebaikan dan keimanan. Bertambah banyak shalat dan puasa serta sedekahnya. Dia senantiasa menangis ketika membaca Kitab Allah l. Bahkan dia sengaja berangkat menuju negeri Syam sebagai mujahid memerangi musuh-musuh Allah l. Ketika di Yarmuk, di mana ia bertugas sebagai amir (gubernur) negeri Kurdus, dia tetap berjaga di perbatasan muslimin, sambil mengingat hadits Rasulullah n:
مَقَامُ أَحَدِكُم فِى سَبِيْلِ اللهِ سَاعَةً مِنْ عُمْرِهِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ عُمْرَهُ فِى أَهْلِهِ
“Posisi salah seorang dari kamu di jalan Allah satu saat saja dari usianya, lebih baik dari amalannya seumur hidup ketika dia bersama keluarganya.”
Kata Suhail: “Saya akan tetap berjaga di perbatasan (ribath) sampai mati dan tidak akan kembali lagi ke Makkah.”
Suhail tetap berada di posnya sampai meninggal dunia karena wabah penyakit tha’un1. Nabi n bersabda:
الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ ِلكُلِّ مُسْلِمٍ
“Wabah tha’un adalah syahadah setiap muslim.”
Semoga Allah l meridhai Suhail bin ‘Amr.
Islamnya Al-Harits bin Hisyam
Adapun Al-Harits bin Hisyam. Dia tetap memerangi kaum muslimin, sampai Fathu Makkah. Ketika tahu bahwa dia termasuk orang pertama yang dicari (untuk dibunuh), maka dia meminta jaminan keamanan kepada Ummu Hani’ bintu Abi Thalib, lalu Ummu Hani’ melindunginya. Tapi saudaranya (‘Ali, Ja’far, atau ‘Aqil) ingin membunuhnya. Ummu Hani’ segera mengadukan hal ini kepada Nabi n sambil berkata: “Si Fulan –saudaranya– menganggap aku tidak berhak memberi jaminan.” Kata Nabi n: “Kami melindungi orang yang engkau lindungi, wahai Ummu Hani’.”
Al-Harits bin Hisyam semakin jengkel melihat kekalahan Quraisy, dan berkata: “Duhai kiranya aku mati sebelum kejadian ini dan tidak menyaksikan peristiwa ini.”
Ketika dikatakan kepadanya: “Tidakkah kau lihat apa yang diperbuat Muhammad (n)? Dia menghancurkan sesembahan-sesembahan itu?!”
Kata Al-Harits: “Kalau Allah tidak suka, pasti Dia akan mengubahnya.”
Setelah mereka dibebaskan oleh Rasulullah n, mulai hati para pembesar Quraisy merenungkan Islam. Al-Harits termasuk yang masuk Islam saat itu.
Kemudian setelah usai perang Hunain, Nabi n membujuk hati tokoh-tokoh Quraisy tersebut dengan memberi mereka seratus ekor unta. Hal ini semakin menghancurkan duri-duri permusuhan dan sikap keras kepala mereka. Lalu perlahan tapi pasti Islam mulai merambah hati-hati yang mulai tunduk dan melembut itu. Akhirnya bersemilah Islam di dada Al-Harits bin Hisyam, bahkan sangat baik Islamnya.
Pada masa pemerintahan ‘Umar, Al-Harits berangkat pindah menuju negeri Syam, sebagai mujahid. Hingga terjadilah peristiwa bersejarah di Yarmuk. Ketika itu ‘Ikrimah bin Abi Jahl z berkata: “Siapa yang mau berbai’at untuk mati?”
Maka berbai’atlah empat ratus orang untuk mati syahid di jalan Allah l. Mereka menerobos jantung pertahanan musuh, hingga gugur satu persatu di permukaan bumi, sementara arwah mereka menuju langit tinggi. Di antara mereka ada Al-Harits bin Hisyam.
Yarmuk menjadi saksi bisu bagaimana tentara tauhid membela agama Allah l, meninggikan Kalimat-Nya. Jumlah yang tidak seimbang, tidak membuat gentar hati-hati yang sudah terisi kokoh dengan kalimat tauhid. Memang, mereka bukan berperang karena jumlah dan kekuatan fisik. Pasukan salibis dipukul mundur oleh para pembela panji tauhid dengan kekalahan yang sangat memalukan dan menimbulkan dendam hingga berabad-abad lamanya.
Sejarah mencatat sikap kepribadian Al-Harits yang agung ketika dia mendahulukan kepentingan orang lain sebelum beliau mati sebagai syahid. Ketika datang seorang prajurit muslim hendak memberinya minum –di saat-saat kritisnya– lalu dia mendengar erangan saudaranya ‘Ikrimah, dia pun meminta agar air itu dibawa kepada ‘Ikrimah. Prajurit itu membawakan air untuk diminumkan kepada ‘Ikrimah, tapi ‘Ikrimah mendengar pula erangan ‘Ayyasy bin Rabi’ah, dia pun mengisyaratkan agar air dibawa kepada ‘Ayyasy. Tetapi, ketika mereka sampai di tempat ‘Ayyasy, ternyata dia sudah gugur sebagai syahid. Prajurit itu kembali kepada ‘Ikrimah, ternyata ‘Ikrimah pun telah wafat, lalu mereka kembali kepada Al-Harits, ternyata dia juga telah wafat.
Benarlah kata mereka (para thulaqa ini, orang-orang yang dibebaskan/ baru masuk Islam pada Fathu Makkah): “Kalau di dunia kita dikalahkan oleh mereka (sahabat yang lebih dahulu masuk Islam), maka di akhirat kita bergabung bersama mereka.” Itu bukan sekadar ucapan belaka. Semoga Allah l meridhai mereka.
Islamnya Shafwan bin Umayyah
Shafwan yang diamuk dendam kesumat karena kematian ayahnya Umayyah bin Khalaf seakan tak pernah tidur memikirkan bagaimana membalaskan dendam tersebut. Permusuhan dan kebenciannya kepada Nabi Muhammad n membawanya kepada kesepakatan bersama ‘Umair bin Wahb.
Suatu hari dia bersama ‘Umair berbincang-bincang tentang korban perang Badr. Shafwan berkata: “Demi Allah, hidup ini tidak menyenangkan sepeninggal mereka.”
Kata ‘Umair: “Betul, demi Allah. Kalau bukan karena utang yang tak mampu kulunasi dan keluarga yang akan jadi tanggungan sepeninggalku, pasti aku datangi Muhammad (n) untuk membunuhnya.”
Kemudian dia melanjutkan: “Aku katakan bahwa aku datang untuk menebus putraku yang ditawan oleh kalian.”
Mendengar ini, Shafwan segera menukas: “Utangmu jadi tanggunganku. Aku yang akan melunasinya. Keluargamu hidup bersama keluargaku, selama mereka masih hidup.”
Kata ‘Umair: “Kalau begitu, rahasiakan hal ini.”
Setelah ‘Umair tiba di depan Rasulullah n, beliau berkata kepadanya: “Berita apa yang kau bawa, hai ‘Umair?”
“Aku ingin menebus tawanan kalian ini,” katanya.
Nabi n bertanya pula: “Lalu untuk apa pedang di lehermu?”
Kata ‘Umair: “Semoga Allah membuatnya buruk. Apakah dia berguna bagi kami?”
Rasul n berkata: “Jujurlah wahai ‘Umair, apa yang mendorongmu datang?”
“Tidak ada lain, selain urusan tawanan,” katanya.
Rasulullah n berkata: “Bahkan, kamu dan Shafwan bin Umayyah duduk di Hijr (Ismail) lalu kalian menyebut-nyebut korban Badr dari Quraisy lalu kau mengatakan: ‘Kalau bukan karena utangku dan keluarga yang jadi tanggungan, pasti aku datangi Muhammad (n) untuk membunuhnya’, lalu Shafwan memberi jaminan untukmu akan melunasi utangmu dan menanggung keluargamu kalau engkau dapat membunuhku untuknya. Allah adalah Penghalang antara engkau dan keinginanmu.”
Saat itu juga, ‘Umair berseru: “Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah. Tidak ada yang mengetahui pembicaraan ini selain aku dan Shafwan. Demi Allah, tidak ada yang menyampaikannya kepadamu kecuali Allah. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku hidayah kepada Islam.”
Lalu Nabi n memerintahkan para sahabat agar mengajarinya agama dan Al-Qur’an serta membebaskan tawanannya (putra ‘Umair).
Sementara itu, di kota Makkah, berhari-hari Shafwan menunggu kedatangan ‘Umair di mana dia menghibur bangsa Quraisy bahwa sudah ada orang yang siap membunuh Muhammad (n). Tinggal menunggu beritanya.
Meletuslah peristiwa Fathu Makkah, ‘Umair datang bersama tentara Allah l lainnya. Dia mencari Shafwan, mengajaknya masuk Islam. Tapi Shafwan lebih memilih lari meninggalkan Makkah.
Shafwan menuju Jeddah bermaksud menaiki sebuah kapal lantas berlayar ke Yaman. ‘Umair mengetahuinya, dia pun datang kepada Rasulullah n dan berkata: “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya Shafwan adalah pemuka kaumnya. Dia telah pergi karena takut kepadamu. Dia ingin menceburkan dirinya ke laut. Berilah dia jaminan keamanan.”
Nabi n berkata: “Dia aman.”
Kata ‘Umair pula: “Wahai Rasulullah, berilah aku tanda agar dia tahu sebagai jaminanmu.” Maka Rasulullah n memberinya sorban yang beliau pakai ketika memasuki Makkah.
‘Umair bergegas mengejar Shafwan. Setelah bertemu, dia berkata: “Hai Shafwan, bapak ibuku tebusanmu. Ingatlah Allah, ingatlah Allah terhadap dirimu, janganlah engkau membinasakan dirimu sendiri. Aku membawa jaminan dari Rasulullah n.”
Tapi Shafwan membalas: “Sial kamu. Pergilah, jangan bicara lagi denganku.”
‘Umair membujuknya: “Ya Shafwan, bapak ibuku tebusanmu. Sesungguhnya Rasulullah adalah orang yang paling utama, paling berbakti, paling santun, dan paling baik. Kemuliaannya adalah kemuliaanmu juga, kejayaannya adalah kejayaanmu juga.”
Kata Shafwan: “Aku mengkhawatirkan diriku.”
‘Umair menjawab: “Beliau lebih santun dan lebih pemurah dari itu.”
Akhirnya Shafwan kembali bersamanya dan berdiri di hadapan Rasulullah n. Shafwan berkata kepada beliau: “Sesungguhnya dia ini mengatakan engkau memberiku jaminan.”
Kata Rasul (n): “Betul.”
Kata Shafwan: “Beri aku waktu berpikir dua bulan.”
Maka Rasulullah n berkata: “Engkau boleh memilih selama empat bulan.”
Ketika Rasulullah n telah menyiapkan pasukan menuju Hawazin untuk memerangi mereka, disebutkan kepada beliau bahwa Shafwan memiliki persenjataan lengkap. Maka Rasulullah n menemuinya yang ketika itu masih musyrik, kata beliau: “Pinjami kami senjatamu untuk memerangi musuh besok.”
Kata Shafwan: “Apakah ini perampokan, wahai Muhammad?”
Beliau menjawab: “Bukan, tapi pinjaman yang ada jaminan sampai kami kembalikan kepadamu.”
“Kalau begitu, tidak mengapa,” katanya. Ternyata sesudah itu, sebagian senjata itu ada yang rusak, maka kata Rasulullah n: “Kalau kamu mau, kami jadikan sebagai utang kepadamu.”
“Tidak perlu,” katanya.
Usai perang, kaum muslimin memperoleh rampasan yang sangat berlimpah. Shafwan mulai melihat lembah itu dipenuhi binatang ternak. Rasulullah n meliriknya, lalu berkata: “Apakah lembah (yang dipenuhi ternak) itu menakjubkanmu?”
“Ya,” kata Shafwan. Rasulullah n berkata: “Itu semua untukmu.”
Segera saja Shafwan mengambil semua yang ada di lembah itu dan berkata: “Tidak mungkin ada seorang pun senang berbuat (memberi) dengan pemberian seperti ini kecuali seorang Nabi. Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Dia pun masuk Islam di tempat itu juga.
Shafwan tetap tinggal di Makkah sebagai muslim sesudah Rasulullah n kembali ke Madinah. Lalu ada yang berkata kepadanya: “Tidak ada Islam bagi mereka yang tidak hijrah.”
Maka Shafwan pun berangkat menuju Madinah dan singgah di rumah ‘Abbas. Hal ini disampaikan kepada Rasulullah n, lalu beliau berkata: “Dia orang Quraisy yang paling baik terhadap Quraisy. Kembalilah ke Makkah. Karena tidak hijrah sesudah Fathu Makkah. Lagi pula siapa yang mengawasi pengairan Makkah?!”
Akhirnya dia kembali ke Makkah. Di Makkah, Shafwan dikenal sebagai salah seorang dermawan yang suka memberi makan, bahkan dijuluki sebagai Pemuka Makkah. Baik pula Islamnya. Dahulu dia gunakan lisannya yang fasih menyakiti kaum muslimin, maka hari ini, dia gunakan kefasihannya untuk menolong agama Allah l. Beliau tetap hidup dalam Islam sebagai orang dermawan yang terpuji. Semoga Allah l meridhainya.
Islamnya ‘Ikrimah bin Abi Jahl
Setelah pasukan kecilnya dihancurkan oleh pasukan Khalid bin Al-Walid z, ketakutan menyelinap di hati ‘Ikrimah. Dia tahu, dia dan ayahnya adalah orang yang paling sengit memusuhi Islam dan muslimin.
‘Ikrimah tahu apa yang diterimanya jika dia tetap di Makkah. Akhirnya, dia melarikan diri hingga sampai di tepi laut.
Ketika sudah berada di atas kapal, mereka diterjang badai. Maka mulailah penumpang berdoa kepada Allah l, mentauhidkannya, dan berkata: “Sesungguhnya tempat ini tidak ada yang berguna kecuali Allah l.”
Kata ‘Ikrimah: “Apa yang harus kuucapkan?”
“Ucapkanlah Laa ilaaha illallahu,” kata nakhoda kapal.
“Justru aku melarikan diri dari kalimat ini,” katanya.
Kemudian sampailah Ummu Hakim (istrinya) yang menyusulnya ke pantai itu, lalu berkata: “Hai putra pamanku. Aku datang dari orang yang paling suka menyambung tali kasih sayang, paling berbakti, dan paling baik. Janganlah kau rusak dirimu.”
‘Ikrimah berhenti hingga Ummu Hakim mendekat dan berkata: “Aku sudah memintakan jaminan keamanan untukmu kepada Muhammad Rasulullah n.”
‘Ikrimah seperti tak yakin mendengarnya: “Engkau? Engkau melakukannya?”
“Ya, aku sudah bicarakan dengan beliau lalu beliau memberi jaminan keamanan,” kata Ummu Hakim.
‘Ikrimah pun kembali bersama Ummu Hakim. ‘Ikrimah bertanya: “Apa yang dilakukan budakmu kepadamu?”
Ummu Hakim menceritakan bagaimana dia dirayu oleh budak tersebut. Mendengar ini ‘Ikrimah pun membunuh budak itu.
Di perjalanan, ‘Ikrimah membujuk Ummu Hakim melayaninya, tetapi ditolak oleh Ummu Hakim, katanya: “Sesungguhnya kamu kafir, sedangkan aku seorang wanita muslimah.”
Kata ‘Ikrimah: “Sesuatu yang menghalangimu ini betul-betul urusan yang sangat besar.”
Setibanya di Makkah, ‘Ikrimah dan Ummu Hakim segera menemui Rasulullah n. Begitu melihatnya, Rasulullah n menyambut dan mengucapkan selamat datang kepadanya. ‘Ikrimah berdiri di hadapan beliau sementara istrinya menutupi mukanya dengan sehelai cadar. Dia pun berkata: “Ya Muhammad, sesungguhnya wanita ini menerangkan bahwa engkau memberiku jaminan keamanan?”
Kata Rasulullah n: “Dia benar, dan engkau aman.”
Lalu dia pun berkata: “Kepada apa engkau mengajakku, wahai Muhammad?”
Beliau n menjawab: “Aku mengajakmu agar bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan berbuat (kebaikan), …” dan seterusnya. Beliau pun menyebutkan beberapa perilaku Islam.
‘Ikrimah berkata: “Demi Allah. Tidaklah engkau mengajak kami melainkan kepada yang haq dan urusan yang baik lagi indah.”
Kemudian ‘Ikrimah melanjutkan: “Sungguh, aku bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya.”
Mendengar ini, Rasulullah n sangat gembira. Kemudian beliau berkata setelah menerangkan apa yang harus dilakukan ‘Ikrimah: “Tidaklah seorang pun yang memintaku sesuatu pada hari ini melainkan pasti aku beri.”
‘Ikrimah tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia berkata: “Kalau begitu, saya memintamu agar memintakan ampunan kepada Allah untukku atas segala permusuhanku terhadapmu atau semua ucapan yang kuucapkan di depan atau di belakangmu.”
Kata Rasulullah n: “Ya Allah, ampunilah dia atas semua permusuhannya dan upayanya memadamkan cahaya (agama)-Mu. Ampunilah dia atas perbuatannya terhadap pribadiku, di depan atau di belakangku.”
‘Ikrimah pun berkata: “Aku ridha, wahai Rasulullah. Tidak aku biarkan nafkah yang dahulu kuberikan melawan Islam, melainkan aku infakkan berkali lipat di jalan Allah. Tidak pula peperangan yang dahulu kuikuti menghalangi manusia dari jalan Allah, melainkan aku akan terjun berkali lipat di jalan Allah.”
Setelah ‘Ikrimah masuk Islam, Rasulullah n mengembalikan istrinya (Ummu Hakim, red.) kepada ‘Ikrimah dengan nikah yang pertama.
Islam mulai merambah dalam hati ‘Ikrimah. Muhajir yang kehausan ini betul-betul merasakan telaga bening Islam. Sikap Rasulullah n yang begitu hangat menyambut kehadirannya membuatnya malu bila teringat begitu sengit dendam dan permusuhan dia serta ayahnya terhadap Islam dan kaum muslimin, terlebih pribadi Rasulullah n.
Lihatlah apa yang dimintanya kepada Rasulullah n? Bukan dunia. Dia hanya minta agar Allah l mengampuninya. Sejarah telah membuktikan kejujurannya memeluk Islam, keuletannya menebus dan mengubur masa lalunya yang hitam.
Yarmuk, salah satu daerah di negeri Syam menceritakan bagaimana singa-singa Allah l menerkam musuh-musuh mereka. Kekuatan dan perlengkapan musuh yang begitu dahsyat, ternyata tidak meluluhkan tekad mereka; menang atau mati syahid.
Ketika ‘Ikrimah sudah bersiap menembus pasukan musuh, Khalid bin Al-Walid saudara sepupunya berkata: “Jangan lakukan. Kematianmu sangat merugikan kaum muslimin.”
Kata ‘Ikrimah: “Biarlah, hai Khalid, karena kau telah pernah ikut bersama Rasulullah n. Apalagi ayahku sangat hebat memusuhi Rasulullah n.”
‘Ikrimah menerobos ke tengah-tengah pasukan musuh yang berjumlah puluhan ribu orang bersama beberapa ratus prajurit muslim lainnya.
Diceritakan, bahwa dia pernah berkata ketika perang Yarmuk: “Aku dahulu memerangi Rasulullah n di setiap medan pertempuran. Hari ini, apakah aku akan lari dari kalian (yakni pasukan lawan, red.)?” Lalu dia berseru: “Siapa yang mau berbai’at untuk mati?” Maka berbai’atlah Al-Harits bin Hisyam, Dhirar bin Al-Azwar bersama empat ratus prajurit muslim lainnya.
Mereka pun maju menggempur musuh di depan kemah Khalid sampai satu demi satu mereka jatuh berguguran sebagai kembang syuhada.
Kata Az-Zuhri: “Waktu itu, ‘Ikrimah adalah orang yang paling hebat ujiannya. Luka sudah memenuhi wajah dan dadanya sampai ada yang mengatakan kepadanya: ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, kasihanilah dirimu’.”
Tapi ‘Ikrimah menukas: “Dahulu aku berjihad dengan diriku demi Latta dan ‘Uzza, bahkan aku serahkan jiwaku untuk mereka. Lantas, sekarang, apakah harus aku biarkan jiwaku ini tetap utuh karena (membela) Allah dan Rasul-Nya? Tidak. Demi Allah, selamanya tidak.” Maka, hal itu tidaklah menambahi apapun selain beliau semakin berani menyerang hingga gugur sebagai syahid. Semoga Allah l meridhai ‘Ikrimah.
1 Sebuah penyakit menular, berupa bengkak yang asalnya menjangkiti tikus. Penyakit ini lalu menyebar kepada tikus lain melalui kutu, hingga akhirnya menjangkiti manusia. (Al-Mu’jamul Wasith) -ed
Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 052
الثلاثاء، ٣ يناير ٢٠١٢
Waspada, Ada lafadz Allah di sepatu CROCS
Jakarta - Voa-islam.com
Bagi anda pecinta sendal dan sepatu merek Crocs, kayaknya perlu berpikir dua kali jika ingin mengkoleksinya, kalo diperhatikan logo Crocs yang dibalik itu sangat mirip lafadz Allah lho.
Seperti yang kami temui di social media dan ramai diberitakan di Kaskus pekan terakhir Desember 2010 lalu, ternyata gosip logo Crocs yang dibalik akan menyerupai Lafadz Allah memang benar adanya. Tim Voa-Islam secara sporadis bergerilya di media online, forum dan social media akhirnya menemukan logo yang dimaksud.
Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6123533
Sandal / sepatu merk ini banyak di gemari anak muda maupun dewasa belakangan ini. Walaupun harganya mahal, tetap saja sandal ini menjadi incaran banyak kalangan.
Nampaknya saat ini Umat Islam harus menahan diri untuk memiliki Crocs, selain logonya yang cenderung menghina Umat Islam dengan penggunaan Lafadz Allah pada semua sepatu dan sandalnya...
Kalo anda terlanjur membeli, baiknya di "kerok" atau di silet bagian logo Crocs tersebut dan jangan lagi beli Crocs apalagi yang Asli..
Mari kita tunggu klarifikasi resmi dari Crocs atau kita buat gerakan "Ayo Boikot Crocs!!"
Fakta Lain : Bahaya Menggunakan Crocs
CROCS merek sepatu baru asal Colorado dari Negeri Paman Sam ini mulai berdiri sejak tahun 2002 pada mulanya didesain untuk kegiatan outdoor dan berlayar. Ini karena Crocs terbuat dari karet yang anti-slip dan pastinya tahan air sehingga mudah untuk dikeringkan karena berbahan dasar Croslite yang anti-bacteria.
Namun kini sepatu sejenis Crocs dan Flip-Flops sedang dalam penelitian ulang, akibat sejak 2006 banyak laporan kecelakaan terjepit di escalator. Korbannya sebagian besar anak-anak. Memang karena sifatnya yang anti-slip sepatu ini terasa seret, dan ketika penggunanya berada escalator mereka sering tidak sadar menempelkan kakinya pada pinggir escalator, akibatnya sepatu itu tersangkut, sedangkan escalator jalan terus. Di Negeri asalnya pun ada peringatan, “If you’re wearing Crocs, Be Careful”
Kejadian ini paling sering terjadi Mall2, banyak anak kecil yang tersangkut escalator dan setelah diperhatikan semua korbannya menggunakan sepatu karet ini. Pengelola kini memasang peringatan untuk tidak menggunakan sepatu karet di setiap escalator yang gambarnya mirip Crocs, petugas pun disebar di dekat escalator agar tidak terjadi kecelakaan serupa. Sedangkan di Bandung baru BIP saja yang memasang peringatan ini.
Kejadian ini paling sering terjadi Mall2, banyak anak kecil yang tersangkut escalator dan setelah diperhatikan semua korbannya menggunakan sepatu karet ini. Pengelola kini memasang peringatan untuk tidak menggunakan sepatu karet di setiap escalator yang gambarnya mirip Crocs, petugas pun disebar di dekat escalator agar tidak terjadi kecelakaan serupa. Sedangkan di Bandung baru BIP saja yang memasang peringatan ini.
الأحد، ١ يناير ٢٠١٢
الاشتراك في:
الرسائل (Atom)
